Puluhan Rumah Rusak Diterjang Ombak

ilustrasi: manado.tribunnews.com

— Sebanyak 10 rumah ambruk total dan 15 rumah sudah retak-retak, setelah dua pekan terakhir dihantam obak di Dusun Karang Barat, Desa Tamberu Agung, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Pemilik rumah yang ambruk sudah mengungsi ke rumah saudaranya masing, masing.

Adapun pemilik rumah yang sudah retak, untuk sementara masih memilih bertahan. Misdeh (70), warga yang memilih bertahan di rumahnya, saat ditemui di rumahnya, mengatakan, meskipun tetap bertahan namun mulai sore sampai dini hari, dia mengungsi ke rumah tetangganya karena ombak mulai menghantam dan air menggenangi rumahnya hingga selutut.

“Saya bersama suami dan anak-anak meninggalkan rumah. Pada jam dua dini hari baru kembali lagi kalau air sudah surut,” kata Misdeh.

Hantaman ombak yang keras tersebut akibat pasirnya terus ditambang oleh Ruspandi, Kepala Desa setempat. “Orang-orangnya kades kalau dini hari mulai mengangkut pasir ke pinggir pantai. Kalau pagi hari langsung diangkut untuk dijual,” tambah Misdeh.

Bahkan, Ahmad Fauzi (40), tokoh pemuda setempat menjelaskan, penambangan sudah dimulai sejak tahun 2003 lalu, saat kepala desa masih dijabat oleh Abdussattar, ayah kepala desa sekarang. “Sudah lama penambangan ini sehingga rumah warga yang tidak melakukan penambangan menjadi korbannya,” ungkap Ahmad Fauzi.

Warga setempat tidak berani untuk menghentikan penambangan karena kadesnya mengancam melaporkan ke Polisi, khususnya warga yang juga menambang.

“Kita diancam akan dipolisikan kalau menghalangi petambang, karena saya juga mengambil pasir agar halaman rumah saya tidak semakin tergerus ombak,” kata Misdeh.

Untuk tetap mempertahankan rumah-rumah agar tidak semuanya ambruk, warga setempat menimbun pinggiran rumahnya dengan batu gunung. “Kami timbuni batu agar ombak tidak langsung menghantam rumah kami,” ujar Abdul Ghani, warga setempat.

Sementara biaya penimbunan itu, tiap tahun yang dikeluarkan oleh Abdul Ghani dan warga lainnya menghabiskan 4 sampai 8 juta. “Kami terpaksa utang ke tetangga agar rumah kami tidak roboh,” tambah Abdul Ghani.

Sementara Ruspandi, kepala desa setempat, saat dikonfirmasi melalui ponselnya tidak bisa dihubungi. Sejumlah wartawan saat mendatangi rumahnya, yang bersangkutan juga tidak ada.

Pesan pendek yang dikirim Kompas.com juga tidak dibalas. Kejadian ini menurut sejumlah warga, masih belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah setempat.

Baik upaya untuk menghentikan penambangan, ataupun membantu warga yang rumahnya ambruk. “Kami berharap polisi dan pemerintah segera turun tangan mengatasi malah ini sebelum terjadi konflik,” kata Ahmad Fauzi. kompas.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim