Jatim Tolak Impor Hortikultura Lewat Tanjung Perak

ilustrasi: MICOM

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menolak keputusan pemerintah pusat yang akan menjadikan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menjadi pintu utama masuknya produk impor sayur dan buah-buahan hortikultura.

“Kita tolak dan kita sudah mengirimkan surat ke Menteri Perdagangan,” kata Gubernur Soekarwo ketika ditemui di Gedung Negara Grahadi Surabaya.

Masuknya produk impor hortikultura melalui Tanjung Perak dikhawatirkan akan membunuh hasil petani lokal. Padahal Jawa Timur dikenal sebagai salah satu penyangga produk hortikultura nasional.

Sebelumnya, pemerintah memutuskan, mulai April 2012, Pelabuhan Tanjung Perak menjadi pintu utama masuknya produk hortikultura menggantikan Pelabuhan Tanjung Priok yang dinilai sudang sangat sesak. Pemerintah juga menjadikan Pelabuhan Belawan di Medan dan Pelabuhan Makassar menjadi pintu masuk penyangga masuknya produk hortikultura dari jalur laut. Selain itu, impor hortikultura lewat udara hanya boleh lewat Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Selain khawatir matinya produksi lokal, penolakan juga didasari karena keputusan tersebut ternyata tak pernah melibatkan Jawa Timur dalam pembahasannya. “Saya sudah minta Gus Ipul (Wakil Gubernur Saifullah Yusuf) untuk menemui Wakil Menteri Perdagangan, keputusan ini harus ditolak,” ujar Soekarwo.

Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Wibowo Eko Putro menjelaskan, Jawa Timur adalah satu-satunya daerah dengan produksi hortikultura terlengkap di seluruh Indonesia. Menurut dia, apa pun ada, mulai dari buah-buahan, sayuran, tanaman hias, hingga tanaman obat.

“Kita ada mangga, jeruk, pisang, apel yang sangat terkenal, obat pun kita ada, rimpang juga cabai jamu dan temu lawak,” kata dia. Menurut dia, jika impor hortikultura lewat Tanjung Perak, keanekaragaman produk di Jawa Timur itu bisa mati karena kalah bersaing dengan produk impor.

Beberapa produk dari Jawa Timur memang penyumbang terbesar dari produksi nasional. Jeruk, misalnya, saat ini menyumbang 40,84 persen dari produksi nasional, begitu juga dengan mangga yang menyumbang hingga 37,10 persen. Begitu juga tanaman hias dengan sumbangan secara nasional terbesar, mawar mencapai 36,44 persen, dan bunga sedap malam dengan sumbangan mencapai 35,79 persen. “Tanaman obat kita seperti temu lawak bahkan menyumbang 42,43 persen,” kata Wibowo. Mtempo.co

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim