Puting Beliung Terjang Jatim

ilustrasi: antara

Sejak awal Januari, angin puting beliung menerjang sejumlah wilayah di Jawa Timur (Jatim), terutama sejak Senin (23/1) hingga Kamis (26/1) yang cukup kencang terpaannya.

Wilayah yang diterjang angin puting beliung itu pun hampir menyeluruh di wilayah Jatim, di antaranya Sumenep, Situbondo, Kediri, Pamekasan, Surabaya, Malang, Magetan, Blitar, Trenggalek, dan Jember.

Pada Senin (23/1), sebanyak 22 rumah di Desa Trebungan, Kecamatan Mlandingan, Kabupaten Situbondo, rusak akibat angin puting beliung, serta dua rumah rusak akibat tertimpa pohon di Desa Gunung Malang, Kecamatan Suboh.

Di Sumenep, angin puting beliung menerjang Dusun Barumbung, Desa Batuampar, Kecamatan Guluk Guluk pada Selasa (24/1) siang dengan merusak rumah milik empat warga setempat, yakni Salawi, Siti Maimunah, Mat Juri, dan Hamim.

Lain halnya di Kediri, sedikitnya empat bangunan di Desa Petok, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, roboh dan rusak, akibat terpaan angin kencang.

Sultoni, salah seorang perangkat desa, Rabu (25/1), mengemukakan, empat bangunan yang rusak itu adalah gedung serbaguna di kantor desa, sebuah toko milik Sugik, serta dua rumah warga yaitu Wiji (75) dan Kepala Desa Petok, Ahmad Makrufin.

“Angin kencang sudah berembus sejak Selasa (24/1) malam. Rumah warga ada yang roboh, seperti rumah pak kepala desa bagian dapurnya, dan kalau yang gedung serbaguna pada Rabu (25/1) pagi,” katanya.

Selain itu, dua warga Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, terluka setelah tertimpa tembok dapur rumahnya yang roboh yakni Welasih (42) dan putrinya Yuliana Sari (20).

“Kedua korban saat itu sedang memasak di dapur. Tiba-tiba ada angin kencang dan keduanya tidak menyadari jika tembok bagian dapur ambruk akibat angin tersebut,” tutur Bagian Hubungan Masyarakat Kepala Kepolisian Sektor Ngancar, Aiptu Antoni, Rabu (25/1).

Di Situbondo, angin puting beliung menerjang puluhan desa di enam kecamatan di Kabupaten Situbondo, Jatim, Rabu (25/1), menyebabkan ratusan rumah rusak dan empat orang mengalami luka.

“Keenam kecamatan adalah Mangaran, Panji, Kapongan, Panarukan, Sumbermalang dan Kecamatan Situbondo. Di Mangaran melanda empat desa, di Sumbermalang rumah roboh tertimpa pohon dan kecamatan lainnya masih didata,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Situbondo Zainul Arifin.

BPBD Situbondo mencatat dua orang luka, yakni Farhan (3) dan Siska (21) yang sudah dibawa ke RSUD Situbondo, namun sumber lain menyebutkan, sepasang suami istri, yakni Siwan dengan Nawiyah juga mengalami luka-luka karena rumahnya tertimpa pohon. Keduanya juga sudah dirawat di rumah sakit.

Di Blitar (25/1), angin kencang menyebabkan enam warga di Kota Blitar, Jawa Timur, terluka dan seorang diantaranya meninggal dunia yakni Suryono (55), warga Kelurahan Jati, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.

“Ia mengalami cedera di punggung, bagian kepala, serta tangannya patah. Karena cederanya parah, akhirnya meninggal dunia,” kata Bagian Hubungan Masyarakat Rumah Sakit Mardi Waluyo, Kota Blitar, Rita.

Di rumah sakit tersebut, selain seorang korban meninggal dunia, tiga korban lain akibat tertimpa pohon juga dirawat, yaitu Zainal Abidin (31), Ibnu Hidayat (55), dan Valentino (8), warga Kota Blitar. Dua warga lainnya dilaporkan kini dirawat di Rumah Sakit Budi Rahayu, Kota Blitar, yaitu Jarot (45) dan Sujari (47)..

Nasib Nahas juga menimpa seorang pengendara sepeda motor yang tewas seketika dan seorang lainnya luka parah akibat tertimpa pohon tumbang di dua lokasi berbeda di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur (25/1).

Di Jember (25/1), seorang warga bernama Minah (23) terluka akibat tertimpa pohon saat terjadi angin puting beliung di sekitar rumahnya di Dusun Gumuk Bago, Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember.

Camat Rambipuji, Syafii, mengatakan, korban awalnya dirujuk ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) setempat, selanjutnya dilarikan ke Rumah Sakit dr Soebandi Jember karena mengalami patah tulang di bagian kaki yang cukup parah.

Selama sepekan terakhir, kata dia, angin puting beliung melanda di sejumlah desa di Kecamatan Rambipuji yakni Desa Rambigundam, Rambipuji, dan Nogosari yang menyebabkan puluhan pohon tumbang, rumah rusak, dan seorang warga terluka.

Di Magetan (25/1), angin puting beliung di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, telah merusak sejumlah fasilitas umum, seperti ruangan kantor Bagian Pembangunan Pemkab Magetan yang rusak akibat tertimpa genting dan mengganggu aktivitas perkantoran.

“Tidak hanya itu, sejumlah gedung Pemkab Magetan juga rusak ringan, akibat tertimpa genting yang berjatuhan terkena angin kencang. Bahkan mobil Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Magetan bernomor polisi AE-909-PF, juga rusak akibat tertimpa pohon saat diparkir di depan kantor. Untung tidak ada korban jiwa,” ujar Kepala Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Magetan Saif Mukhlisun.

Angin kencang juga menutup akses jalan antarkecamatan. “Jalur lalu lintas dari Gorang-Gareng atau Kawedanan menuju Magetan terpaksa dialihkan melalui Kecamatan Ngariboyo. Para pengguna jalan diimbau berhati-hati karena sepanjang jalan rawan pohon tumbang,” ujar Kapolsek Ngariboyo, AKP Sunarta.

Di Pamekasan, angin kencang yang melanda wilayah itu, Rabu (25/1) malam, mengakibatkan sejumlah pohon tumbang hingga memutus jaringan listrik di beberapa kecamatan.

“Ada dua wilayah kecamatan yang dilaporkan jaringan listriknya putus, yakni Kecamatan Larangan dan sebagian di wilayah Kecamatan Pademawu,” kata Kepala PLN Unit Pelayanan Jaringan Pamekasan, Grahito.

Ia mengatakan, jaringan listrik di dua wilayah kecamatan itu putus karena kabel tertimpa pohon tumbang dan ada juga yang tiangnya roboh, sehingga wilayah tersebut gelap gulita dan Anak-anak terpaksa tidak bisa mengaji.

Selain memutus jaringan listrik, angin kencang juga merusak sejumlah fasilitas umum, merobohkan papan reklame, rambu lalu lintas dan fasilitas sejumlah lembaga pendidikan di Kecamatan Pademawu, sedangkan antene televisi di kantor Pemkab Pamekasan ikut roboh dan antena parabola di kantor DPRD setempat juga bernasib sama.

Antisipasi

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Surabaya juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai tingginya gelombang dan angin kencang di utara maupun selatan Jawa Timur dalam beberapa pekan ke depan.

Di Perairan Laut Jawa utara Jawa Timur (Jatim), tinggi gelombang berkisar 0,8 – 3,5 meter, sedangkan di selatan Jatim antara 1,5 – 5 meter. Kecepatan angin di Laut Jawa sekitar 55 kilometer per jam sedangkan di selatan Jatim lebih tinggi, yakni 65 kilometer per jam.

Selain itu, BMKG memperkirakan puncak cuaca ekstrem akan berlangsung sampai pertengahan Februari. Terhitung sejak 23 Januari hingga 10 hari ke depan, diprediksi kisaran ombak tingginya antara 3-4 meter untuk wilayah perairan di sekitar Tanjung Perak.

Menyikapi angin puting beliung itu, Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, langsung menyerahkan bantuan kepada korban angin puting beliung di Dusun Barumbung, Desa Batuampar, Kecamatan Guluk-Guluk.

Kepala Bidang Bantuan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Sumenep, Arif Santoso menjelaskan, pihaknya sebenarnya belum menerima laporan secara resmi dari Camat Guluk Guluk tentang dampak angin puting beliung yang terjadi di Dusun Barumbung, Desa Batuampar pada Selasa (24/1).

“Namun, kami telah menerima laporan dari relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang merupakan binaan Dinsos Sumenep, karena itu kami langsung menyerahkan bantuan tanggap darurat kepada empat kepala keluarga pada Rabu (25/1),” ujarnya.

Untuk sementara, bantuan yang diserahkan kepada korban puting beliung adalah bantuan tanggap darurat, di antaranya matras, pakaian, dan peralatan dapur.

“Bantuan tanggap darurat adalah bantuan dari Kementerian Sosial yang disalurkan kepada korban bencana alam melalui pemerintah daerah,” katanya.

Untuk bantuan berupa uang tunai dari pemerintah daerah, katanya, pihaknya masih menunggu laporan resmi dari camat setempat tentang dampak bencana alam tersebut.

Selain itu, langkah antisipasi juga diperlukanya. Misalnya, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang, Jawa Timur, siaga selama 24 jam untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya pohon tumbang akibat angin kencang.

Kepala DKP Kota Malang Wasto, Kamis (26/1), mengatakan pihaknya tidak hanya siaga 24 jam, namun juga sudah membentuk tim khusus yang terbagi dalam empat kelompok dan masing-masing kelompok beranggotakan enam orang.

“Petugas (tim) inilah yang secara kontinyu melakukan monitoring dan pembersihan ketika ada pohon tumbang. Karena ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa angin kencang yang berpotensi puting beliung ini hingga akhir pekan depan, maka kami bentuk tim khusus,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, warga yang keluar rumah dan angin kencang sedang berlangsung harus ekstra waspada, sebab fakta di lapangan, tidak hanya pohon yang berusia tua saja yang rawan tumbang, pohon yang masih muda pun juga banyak yang tumbang.

Sementara itu Satpol PP Kota Malang sejak beberapa hari lalu secara bergiliran menurunkan papan reklame, baliho dan iklan bando di 18 titik yang dianggap berisiko tinggi, seperti di Jalan Soekarno Hatta serta beberapa titik di jalan protokol.

Kabid Operasi Satpol PP Bambang Irawan mengaku, pihaknya terpaksa menurunkan baliho maupun papan reklame tersebut karena kondisinya dikhawatirkan akan membahayakan para pengguna jalan, baik pejalan kaki maupun yang berkendaraan.

“Bagi pemasang baliho maupun reklame yang izinnya masih berlaku dan ternyata kami turunkan, silahkan diambil di kantor Satpol PP dan boleh dipasang kembali, dengan catatan dipindahkan ke posisi yang lebih aman,” katanya.

Angin puting beliung juga melanda Surabaya, sehingga Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) juga melakukan antisipasi hingga delapan kali menutup sementara jembatan itu akibat angin kencang yang bertiup di sekitaran jembatan.

Kepala Gerbang Tol Suramadu Suhariyono, Rabu (25/1), menuturkan sejak 1-25 Januari 2012 sudah dilakukan delapan kali penutupan karena angin kencang kecepatannya di atas 40 kilometer per jam.

“Sehari ini (25/1) saja sudah dua kali dilakukan penutupan jembatan. Sesuai prosedur pengamanan, kecepatan angin di atas 40 km/jam tidak boleh dilintasi sepeda motor,” ujarnya.

Antisipasi juga dilakukan Syahbandar Kelas Utama Tanjung Perak. Institusi itu mengimbau kapal yang berukuran kecil di bawah 300 GT tidak berlayar karena angin dan cuaca ekstrem.

“Per 23 Januari 2012, kami menerima kembali laporan cuaca dari BMKG bahwa dalam kurun waktu 10 hari diprediksi puncaknya cuaca ekstrem,” ujar Kepala Bagian Tata Usaha Syahbandar Tanjung Perak, Marzuki, di Surabaya (25/1).

Pihaknya mengaku sebenarnya sudah sejak pertengahan Desember 2011 sudah mengeluarkan imbauan, khususnya kepada kapal-kapal kecil.

Syahbandar, lanjut dia, sudah mengeluarkan imbauan larangan berlayar yang diedarkan ke seluruh perusahaan pelayaran, sebab diprediksi cuaca ekstrem masih akan berlangsung hingga pertengahan Februari mendatang. antara.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim