Impor Daging Sapi Dibatasi 500 Ton

ilustrasi: koran-jakarta.com

Pemerintah Provinsi (Pemrov) Jawa Timur (Jatim) terus berupaya melakukan pengetatan impor daging sapi. Hal ini dilakukan untuk melindungi peternak agar harga daging lokal tidak hancur.

Pada tahun ini, Jatim menargetkan hanya akan memberikan izin impor daging 500 ton per tahun, turun 28% dari posisi 2011 yang mencapai 702 ton per tahun. Importase tersebut hanya akan dilakukan oleh belasan perusahaan yang sudah mengantongi izin impor, diantaranya adalah industri penyedap rasa atau monosodium glutamat (MSG), supermarket dan restoran segmen menengah ke atas, serta hotel berbintang.

“Pada tahun 2011, impor daging sapi kita melonjak sekitar 19,59% dari tahun 2010 yang hanya mencapai 587 ton per tahun. Ini disebabkan oleh ekspansi beberapa perusahaan penyedap rasa yang membutuhkan suplay daging kualitas impor. Dan memang yang mengonsumsi daging impor ini mayoritas adalah industri. Untuk MSG, misalnya, komposisi dagingnya harus 90% , dibanding lemak,” ujar Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jatim Suparwoko.

Berdasarkan negara, impor terbesar dari Australia mencapai 75%, disusul New Zealand sebesar 25%.

Sebenarnya, lanjut Suparwoko, pengetatan impor daging sudah dilakukan Jatim sejak tahun 2011 dan pada tahun ini Jatim berkomitmen untuk lebih intens lagi melakukan pemantauan. Beberapa upaya yang telah dilakukan diantaranya adalah pengawasan di perbatasan Jatim dan pelabuhan, untuk memantau kedatangan daging impor dari wilayah barat.

“Kami juga tidak memberikan dan mengeluarkan surat rekomendasi untuk impor sapi, dan membatasi secara selektif untuk perusahaan seperti hotel, dan supermarket. Untuk industri MSG, kami harapkan mulai saat ini bisa beralih ke daging lokal,” terangnya.

Ia berharap, pengetatan ini tidak akan menjadikan beban bagi indusri kelas atas karena sebenarnya produksi daging sapi Jatim lebih dari cukup. Sampai akhir 2011, kapasitas produksi daging sapi Jatim mencapai 98.800 ton. Sementara konsumsi Jatim hanya sekitar 60.000 ton per tahun. Sisanya dilempar di pasar luar Jatim.

“Kami juga gencar mengundang investor untuk berinvestasi di sektor peternakan sapi agar kebutuhan daging sapi kualitas tinggi bisa terpenuhi,” ungkapnya. kabarbisnis.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim