AS Tolak Ekspor Empat Produsen Ikan Jatim

ilustrasi: dnaberita.com

Amerika Serikat (AS) menolak masuk ekspor perikanan empat perusahaan asal Jawa Timur (Jatim). Hal itu sehubungan ditemukkannya salmonela (jamur) dan kandungan logam atas produk tersebut.

Ketika dikonfirmasi akan hal itu, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Victor Nikijuluw membenarkan. Menurutnya, Badan Karantina perikanan AS menemukan salmonela dan kandungan logam pada sampel yang diekspor empat perusahaan tersebut.

“Ekspor produknya terkena automatic detention (menahan). AS beranggapan ikan yang diekspor tidak mengindahkan mutu dan keamanan pangan. Tapi saya tidak bisa sebut nama perusahaan,” ujar Victor di Jakarta.

Menurut Victor, keempat perusahaan eksportir perikanan Jatim itu memasok pelbagai ikan seperti udang, ikan filet, dan kepiting. Pengenaan automatic detention kepada perusahaan eksportir perikanan Indonesia itu telah terjadi sejak September 2011 lalu.

“Saya menyesalkan persoalaan ini masih saja terjadi. Pasalnya keempatnya merupakan eksportir besar. Ini menandakan kontrol dan pengawasan di internal perusahaan dan setempat masih lemah,” urai Victor.

Dia meminta Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim memperketat pengawasan mata rantai produksi perikanan, yakni sejak pengapalan ikan dari nelayan hingga coldstorage .Karenanya, pengujian mutu harus diyakinkan berjalan dengan benar. Pasalnya,hal itu berkenaan dikeluarkannya surat health certificate dari produk perikanan yang akan diekspor.

Kedua, memperbaiki kualitas kontrol internal seperti pada uji laboratorium. “Bila ini terjadi, berarti memang ada kelemahan dari proses pengujian kesehatan ikan di laboratorium di daerah,” terang Victor.

Sanksi AS tersebut, sambung Victor, berakibat produk tersebut itu direekspor kembali ke Indonesia. Menurutnya, sanksi pengenaan automatic detention AS dengan UE (Uni Eropa) berbeda. “Kalau sanksi AS dikenakan pada perusahaan . Sementera kalau sanksi UE langsung kepada negara. Ini pernah terjadi pada ekspor tuna Indonesia ke UE pada 2010 lalu,” jelasnya.

Sebagai informasi, AS, Jepang, Hongkong, dan Uni Eropa merupakan pasar tradisional ekspor produk perikanan Indonesia. Diperkirakan tahun 2011, devisa ekspor yang diraih produk perikanan ke AS mencapai US$ 1 miliar dari total ekspor yang mencapai US$ 3,2 miliar. Nilai ekspor ke AS itu diperkirakan mengalami kenaikan 14,9 % dari ekspor tahun 2010 sebesar US$ 870 juta. kabarbisnis.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim