Selasa, 2 September 2014

Krisis Gas Industri, Jatim Tawarkan Batu Bara

ilustrasi

Krisis bahan bakar gas untuk industri masih bakal berlangsung sampai 2014, Jawa Timur menawarkan batu bara sebagai substitusi bahan bakar industri menunggu pasokan gas lancar sampai 2014.

Soekarwo Gubernur Jawa Timur pada suarasurabaya.net mengatakan krisis gas bukan hanya masalah Jawa Timur, tapi juga Indonesia, bahkan dunia. Pasokan yang begitu terbatas, sementara permintaan kian tinggi. Pertumbuhan investasi di Jawa Timur di bidang industri sampai 273% di akhir 2011 lalu membuat permintaan gas juga melonjak.

Wajar saja kata Gubernur, jika para investor resah dengan kondisi ini karena penggunaan bahan bakar gas mampu menciptakan efisiensi sampai 40%. Tapi Pemprov Jawa Timur, imbuhnya, tidak berpangku tangan sampai krisis ini berakhir pada 20014. “Kami menawarkan batu bara. Pasokannya dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti dari Kaltim, masih cukup banyak,” kata dia.

Sampai saat ini, dari peningkatan investasi 273% itu, sudah 37% yang telah direalisasikan, kebanyakan dari penanam modal asing. Nilainya sampai Rp18 triliun.

Pemprov Jatim juga sudah meneken perjanjian dengan Energy World Corporation (EWC) untuk menyuplai gas sebesar 300 juta metrik kubik perhari dengan nilai investasi US$1,3 miliar. Mereka sudah menyusun agenda pengembangan proyek dalam 18 bulan ke depan sehingga pada 2013 selesai diinstalasi dan 2014 bisa berproduksi.

Dengan kebutuhan gas untuk industri sebanyak 408 juta meter kubik perhari, kata Gubernur, pasokan dari EWC itu memang belum mencukupi. Kekurangan itu nanti akan dipenuhi Sumur Jambaran di Bojonegoro sebesar 150 juta metrik kubik perhari dan West Madura Offshore yang kini menghasilkan 40 juta metrik kubik perhari akan ditingkatkan menjadi 170 juta metrik kubik perhari.

Pemprov Jatim pernah berusaha untuk memenuhi kebutuhan gas itu dengan mengimpornya dari Brunei, ternyata tidak bisa karena negara itu sendiri masih membutuhkan gas setidaknya sampai 2017. Peluang lain dari Australia yang kini sedang booming gas dan kata Gubernur, tampaknya yang kini sedang digarap oleh EWC.

Jika krisis gas berakhir, tidak ada masalah bagi industri di Jatim untuk mengkonversikan alat-alat produksinya ke bahan bakar gas pada 2014. “Jadi sampai krisis gas ini berakhir, sebenarnya industri kita tidak mandek, malah tumbuh 5,14%. Tapi jika krisis gas ini teratasi pada 2014, pertumbuhan ekonomi kita malah bisa meroket, naik jadi lebih dari 8%. Ini jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional,” imbuhnya. suarasurabaya.net

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2014. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim