Lebih dari 5 Juta Warga Masih Miskin

ilustrasi

Sebanyak 5,227 juta jiwa warga Jawa Timur masih masuk dalam kategori miskin per September 2011, turun 2,41% dibanding posisi Maret 2011.

Dalam rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim dijelaskan, jumlah penduduk miskin di Jatim pada bulan September 2011 mencapai 5,227 juta atau sekitar 13,85% dari total penduduk Jatim 37 juta jiwa. Angka ini menurun 2,41% dibanding Maret 2011 yang masih sebesar 5,356 juta atau sekitar 14,23%.

“Pada periode ini, penurunan jumlah penduduk miskin cenderung melandai dan tidak secepat tahun-tahun yang lalu. Hal ini diduga akibat hardcore poverty atau kelompok tersulit dalam kemiskinan sebab untuk mengeluarkan mereka dari kemiskinan sangat sulit sekali,” ujar Kepala BPS Jatim, Irlan Indrocahyo, di Surabaya.

Sebenarnya, upaya pemerintah untuk menanggulangi hardcore poverty ini sudah dilakukan diantaranya melalui program Jalan lain Menuju Kesejahteraan Rakyat (Jalinkesra). Namun upaya tersebut tidak sertamerta bisa mengeluarkan mereka dari kemiskin.

“Meskipun belum bisa mengeluarkan mereka dari garis kemiskinan, namun langkah tersebut membantu mereka dalam mempertahankan hidup dan perlahan menuju perbaikan ekonomi. Sebab hal ini tentunya membutuhkan waktu relatif lama,” terangnya.

Kawasan perdesaan masih menjadi daerah dengan penyumbang jumlah kemiskinan terbesar, mencapai 66,82% atau sekitar 3,493 juta jiwa. Sementara sisanya berada di perkotaan.

“Selama semester ini, prosentase penurunan penduduk miskin di kota sebesar 0,21% dan untuk daerah pedesaan 0,53%. Hal ini menunjukkan prosentase penurunan penduduk miskin di desa 2,5 kali lebih cepat dari perkotaan,” ungkapnya.

Sementara garis kemiskinan selama periode Maret hingga September 2011 mengalami kenaikan sebesar 3,58% menjadi Rp227.603. Garis kemiskinan makanan di September naik Rp167.360 dan garis kemiskinan bukan makanan naik 4,39% menjadi Rp60.243.

“Ada tiga komoditas makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di desa dan di kota, yaitu beras, rokok kretek dan gula pasir. Untuk komoditas bukan makanan yang berpengaruh pada garis kemiskinan di perkotaan adalah perumahan, listrik dan pendidikan, sedang di desa adalah biaya perumahan, kayu bakar dan listrik,” terangnya.

Irlan mengatakan, indeks kedalaman kemiskinan di September turun menjadi 2,00 dan indeks keparahan kemiskinan turun menjadi 0,46. kabarbisnis.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2018. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim