Kearifan Lokal untuk Bangun Karakter Bangsa

ilustrasi:detik.com

Perubahan dan perkembangan hampir tak pernah absen di zaman modern dan global kini. Untuk itu, masyarakat diharap lebih bersikap dewasa dan pandai dalam memilih gaya hidup, bagitu juga pemerintah. Maka, Pakar pendidikan, sosial, dan budaya dihadirkan untuk diminta mencurahkan pemikirannya menggagas upaya membangun bangsa yang lebih berkarakter.

Para pakar tersebut makin cemas dengan bangsa Indonesia yang kian tercabut dari nilai-nilai kelokalan. Padahal nilai dan kearifan lokal itu lebih berkarakter ketimbang budaya instan, serba cepat, dan fragmatis. Semua sisi kehidupan hampir semua iukur dari sisi uang.

“Ini yang membuat kami miris. Budaya fragmatis yang makin tampak di depan kita. Pendidikan menjadi kunci utama menemukan kembali nilai-nilai kebangsaan kita,” kata tokoh agama Romo Muji Sutrisno saat hadir menjadi nara sumber di seminar Menggali Nilai-Nilai Keunggulan Lokal Untuk Membangun Karakter Bangsa Melalui Pendidikan di Gedung Rektorat Unesa Ketintang.

Selain Romo Muji, hadir juga Ayu Sutarto (pakar budaya), dan Zainudin Maliki (Pakar pendidikan). Seharian, mereka menjadi nara sumber dalam seminar nasional pendidikan.

Saat ditemui, Romo Muji meminta agar para pendidik, guru, dan pelaku pendidikan jangan makin komersil. Dia mengakui bahwa saat ini sedang ada masalah pendidikan di Indonesia.

“Untuk mencerdaskan bangsa tidak cukup kurikulum. Itu hanya kognitif. Anak didik kita harus diletakkan pada pendidikan yang estetis dan bernilai karakter,” tambah Romo Muji.

Sudah saatnya, semua pihak menyadari posisi masing-masing. Semua agama, harus toleran. Keisalaman, ke-Islaman yang toleran, ramah, adil, atau kalau menjadi Jawa atau etnis lain yang toleran untuk memberi warna bangsa.

“Karakter adalah watak. Ketulusan dan kejujuran adalah lokal genius luar biasa kita. Pendidikan harus melahirkan kebijaksanaan dalam hidup,” tandas Romo Muji.

Sementara itu, pakar budaya Ayu Sutarto, menyatakan bahwa menggali kembali nilai-nilai lokal tak berarti kita kembali ke tradisi. Tapi tradisi lokal kita jelas modal utama.

“Jangan pernah menyesal kalau ternyata tiga hal, food, fashion, dan fun (game) yang datang dari luar memberi warna tak jelas bagi kehidupan anak kita. Bukan karakter baik yang muncul, tapi sebaliknya,” kata Sutarto.

Sementara Zainudin Maliki yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, melihat perlu adanya reformasi kurikulum. “Satu siswa harus menguasai 12 mata pelajaran, ini luar biasa padat. Pembelajaran harus berbasis konten. Biarkan siswa fokus di bidang tertentu dengan tidak membian mereka kehilangan watak luhur,” kata Zainudin.detik.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2018. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim