Industri Jatim Dukung Stop Ekspor Rotan

ilustrasi

Pelaku industri dalam negeri, khususnya di wilayah Jawa Timur (Jatim), mengaku sangat gembira dan sepenuhnya mendukung keinginan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan untuk menyetop ekspor rotan mentah ke berbagai negara yang akan berlaku efektif mulai Desember 2011.

Langkah ini diyakini mampu menyelamatkan dan mendorong industri rotan dalam negeri karena mereka tidak lagi kesulitan untuk mendapatkan bahan baku.

Ketua Forum Daerah (Forda) Usaha Kecil Menengah (UKM), Nur Cahyudi mengatakan, industri rotan dalam negeri pasca dibukanya kran ekspor rotan mentah atau setengah jadi pada tahun 2003 mengalami masa kesulitan. Kondisi terparah terjadi pada tahun lalu, dimana industri banyak yang tutup. Bahkan, jumlah industri rotan skala besar hanya tinggal 10% dari jumlah mereka di tahun 1990an yang mencapai sekitar 90 perusahaan. Kondisi tersebut terus terjadi hingga detik ini. Dan ini bisa dilihat dari kebutuhan rotan Jatim yang hanya mencapai sebesar 7.000 ton per tahun, dari posisi tahun 1990an sebesar 70.000 ton per tahun.

“Dengan distopnya ekspor, mudah-mudahan akan menjadi penyemangat dan solusi tepat untuk menghidupkan mereka kembali,” katanya.

Sebab, lanjutnya, industri rotan ini termasuk industri padat karya yang bisa menyerap banyak tenaga kerja. Nilai tambah ketika diekspor dalam bentuk produk jadi sangat besar dibanding diekspor dalam bentuk mentah,

“Kalau dieskpor dalam kondisi mentah nilai tambahnya misalkan sebesar US$1, maka dengan adanya proses lanjutan menjadi produk jadi dalam negeri, nilai tambahnya menjadi sekitar US$10,” katanya.

Bhakan, di seluruh dunia menurut Nur Cahyudi, tidak ada negara yang mengekspor rotan mentah, hanya Indonesia yang melakukannya. Dan ironinya, setelah diekspor ke China, produk rotan jadi yangd ihasilkan di China di ekspor ke,bali oleh China ke Indonesia.

“Ini artinya, China menggempur industri rotan Indonesia dengan amunisi yang diperoleh dari Indonesia, sangat ironis,” tekannya.

Bangkrutnya industri rotan dalam negeri ini juga dipicu oleh munculnya bahan baku sintetik. Karena rotan asli tidak ada, akhirnya banyak pelaku industri rotan yang beralih ke bahan baku rotan sintetik dari China.

“Harapan kami sangat besar dengan ditutupnya kembali ekspor rotan. Karena kebijakan ini akan memberikan kepastian pasokan bahan baku untuk industru dalam negeri sehingga nilai dan volume ekspor produk rotan akan kembali naik,” pungkasnya.kabarbisnis.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim