Pelindo Tanyakan Lagi Kejelasan Pipa Kodeco

ilustras: economy.okezone.com

Pipa milik PT Kodeco Energy Co Ltd. masih melintang di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS). Langkah pendalaman yang dulu direncanakan ternyata gagal dan tidak ada solusi kelanjutan.

Pipa dibiarkan melintang di crossing I kilometer poin (kp) 35-36 dan crossing II di kp 44-46. Sementara PT Kodeco Energy Co Ltd sudah angkat tangan dan tidak mau tahu karena kontrak sudah selesai.

“Saat ini, keberadaan pipa masih melintang di kp 35-36 dan kp 44-46 dengan kedalaman minus 13 Low Water Spring (LWS). Ini sangat merugikan, tidak hanya Pelindo III yang dirugikan akan tetapi seluruh pelaku di sektor pelayaran. Sementara sekarang Kodeco sudah tidak disini karena kontrak sudah berakhir dan dialihkan ke BP Migas. Artinya, perjalanan ini akan mulai lagi dari nol,” keluh Kepala Humas PT Pelindo III, Edy Priyanto saat ditemui di kantornya, Surabaya.

Menurut Edy, dengan tidak didalamkannya pipa, maka tidak hanya proses pendalaman dan pelebaran APBS yang terkendala, namun kondisi ini juga akan menggagalkan beroperasinya pelabuhan socah dan Terminal Teluk Lamong akibat dangkalnya APBS. kabarbisnis.com

“Sebab, dengan kondisi adanya pipa di APBS, maka sulit lakukan pelebaran dan pendalaman alur. Sementara kapasitas alur saat ini hanya mencapai 27.000 lintasan kapal per tahun dengan satu arah. Sehingga waiting time masih mencapai minimal satu hari,” terangnya.

Padahal dengan pelebaran dan pendalaman APBS diharapkan alur akan menjadi dua arah dengan kapasitas mencapai 58.000 lintasan kapal per tahun. Dan pastinya waiting time akan semakin cepat.

“Dan harusnya Menteri Pertambangan dan Energi harus memikirkan hal ini. Kami juga sudah kirim surat ke BP Migas dan Tim Wapres, sudah kami sampaikan tentang keberadaan pipa. Tapi sampai sekarang belum ada perbincangan serius tentang keberadaan pipa tersebut. Harapan kami, pipa segera dipindahkan, karena pendalaman bukan solusi sebenarnya Itu hanya solusi jangka pendek karena dalam ketentuannya, tidak boleh ada pipa gas yang melintang alur,” ungkap Edy.

Sebab, lanjutnya, hal ini bukan hanya kepentingan PT Pelindo tetapi kepentingan pelayaran. Karena ini akan akan menyulitkan pihak pelayaran. Sebab, biaya asuransi yang harus dibayar menjadi bertambah tinggi karena tingkat resiko lebih besar. Jadi ini juga akan hambat perekonomian. Meski saat ini tumbuh, akan lebih besar lagi jika pipa tidak ada,” tukasnya.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim