Kemarau, 1.453 Ha Lahan Padi Kering

ilustrasi

Kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah Jawa Timur (Jatim) tidak hanya menyebabkan masyarakat kekurangan sumber air bersih. Kondisi ini juga mengakibatkan beberapa lahan sawah di Jatim mengalami kekeringan.

Pada periode Agustus 2011, tercatat lahan padi yang kering mencapai 1.453 hektar yang tersebar di sejumlah wilayah. Diantaranya di wilayah Tulungagung seluas 953 hektar, Trenggalek 271 hektar, Pacitan 112 hektar, Sumenep 60 hektar, Mojokerto 21 hektar dan Lamongan 19 hektar.

“Dari total lahan yang kering di bulan Agustus, yang mengalami puso atau gagal panen mencapai 38 hektar, yaitu di wilayah Mojokerto 18 hektar, Tulungagung 9 hektar, Tuban 6 hektar, Bojonegoro 2 hektar dan Trenggalek 1 hektar,” ungkap Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Jatim, Kethut Marsudi di Surabaya, Rebu (14/9/2011).

Luas lahan yang kering di Agustus tersebut menurutnya lebih kecil dibanding pada bulan Juli kemarin. Data Distan Jatim menunjukkan, pada bulan Juli kekeringan telah melanda di 2.736 hektar tanaman padi.

Dengan perincian, wilayah Trenggalek seluas 1.729 hektar, Tulungagung 811 hektar, Bangkalan 108 hektar, Tuban 50 hektar, Gresik 15 hektar, Jombang 12 hektar, Kediri 10 hektar dan Sumenep 0,5 hektar.

“Di periode Juli, lahan puso akibat kekeringan mencapai 239 hektar. Yaitu di Trenggalek 163 hektar, Tuban 21 hektar dan Tulungagung 16 hektar,” terangnya panjang lebar.

Luasnya lahan padi yang dilanda kekeringan tersebut akibat kurang jelinya petani dalam memilih komoditas yang ditanam saat musim kemarau.

“Harusnya kalau kemarau mereka tidak menanam padi tapi menanam palawija seperti kacang hijau, kedelai, jagung atau menanam komoditas hortikultura seperti Semangka,” ungkap Kethut.

Besarnya keinginan petani untuk tetap menanam padi di musim kemarau ini menurutnya karena harga jual padi jauh lebih baik dibanding harganya saat musim penghujan.

Tingginya harga padi tersebut bisa dilihat dari harga beras yang beredar di pasaran. Untuk yang jenis medium misalnya, masih bertengger di level Rp7.800 per kilogram hingga Rp8.000 per kilogram.

“Sebenarnya Distan Jatim jauh hari sudah memberikan surat edaran kepada kabupaten kota agar memberikan penyuluhan kepada petani agar jeli memilih komoditas yang ditanam. Namun ada saja yang ngotot menanam padi. Akibatnya, ya kekeringan. Tapi di Agustus, luas lahan yang kering sudah semakin susut karena kesadaran mereka meningkat. Dan petani yang tetap menanam padi juga sudah menyiapkan pompa air,” terangnya. kabarbisnis.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2018. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim