Ribuan Masyarakat Raas Tinggalkan Kampung Pakai Perahu

ilustrasi: kompas.com

Setelah selesai berlebaran di tanah kelahirannya, ribuan masyarakat di Pulau Raas, Kecamatan Ras, Sumenep, Madura, Jawa Timur, kembali ke tempat perantauannya di Jawa dan Bali. Kembalinya mereka ke perantauan masih menggunakan transportasi laut tradisional karena belum ada kapal besar yang siap mengangkut penumpang.

Satu-satunya alat transportasi laut yang bisa digunakan, hanyalah perahu yang biasa digunakan nelayan untuk mencari ikan. Kapasitas penumpang pun hanya bisa mengangkut antara 80 sampai 100 orang.

Ansari Anwar, salah satu penumpang yang hendak menuju Kabupaten Probolinggo menuturkan, transportasi di pulau Raas sama sekali tidak memadai. Apalagi di saat musim lebaran. Karena semua masyarakat yang merantau ke Jawa, semuanya pulang kampung ke tanah kelahirannya.

“Kalau hanya pakai perahu kecil, banyak penumpang yang keleleran. Belum lagi barang bawaan seperti kendaraan roda dua,” kata Ansori.

Seperti hari ini, perahu yang akan mengangkut penumpang menuju pelabuhan Jangkar, Situbondo, hanya ada lima perahu. Sedangkan calon penumpang sudah seribu lebih.

“Meskipun melebihi dari kapasitas, penumpang tetap memaksa untuk ikut perahu karena sudah terlanjur berangkat dari rumahnya masing-masing,” tambah Ansari Anwar.

Dengan keterbatasan alat transportasi laut itu, pemilik kapal bebas menentukan ongkos. Untuk penumpang tujuan Situbondo, setiap orang dewasa dikenai biaya Rp 75.000, sedangkan anak-anak Rp 50.000.

“Kalau hari-hari biasa, ongkosnya cuma Rp 50.000. Karena sekarang orang baru habis lebaran, maka pemilik kapal menaikkan tarifnya,” ungkap Ansari Anwar. Belum lagi untuk ongkos kendaraan roda dua. Mereka yang membawa motor, harus menambah Rp 50.000 lagi.

Masyarakat pulau Raas sudah sering mengajukan kepada pemerintah setempat, agar kapal besar bisa mengangkut penumpang dan barang. Selama ini, kapal-kapal pengangkut barang hanya bersandar di Pulau Kangean saja.

Menurut Ali Wafa, Kepala Desa Brakas, Kecamatan Raas, pemerintah Sumenep masih baru membangun pelabuhan untuk tempat bersandar kapal besar tahun ini. Itupun pembangunannya belum tuntas. “Kita belum tahu pasti kapan pelabuhan itu akan beroperasi,” kata Ali Wafa.

Dengan kapal besar, perjalanan laut bisa lebih singkat dan mungkin bisa lebih murah. “Kalau pakai perahu perjalanan menuju Situbondo bisa sampai delapan jam. Tapi kalau pakai kapal bisa empat jam,” tambah Ali Wafa.

Namun bagi warga yang sukses di rantau, mereka memilih menyewa kapal cepat yang kapasitas penumpangnya hanya cukup sepuluh orang saja. “Biasanya pengusaha yang sukses di Bali dan di Jakarta memilih sewa kapal cepat,” terang Ali Wafa.

Sulitnya transportasi laut itu, membuat warga pulau Raas, hanya setahun sekali pulang ke tanah kelahirannya. Mereka berharap, kapal besar bisa secepatnya beroperasi di pulau yang konon dikenal dengan tempat pertapaan Adi Rasa, salah satu raja Sumenep.

2 Komentar Pembaca

  1. kami tunggu info selanjutnya

  2. saya ber harap secepatnya kapal besar bisa ber oprasi secepatnya.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim