Krisis Air Bersih Meluas

ilustrasi: kompas.com

Krisis air bersih memasuki musim kemarau 2011 di Provinsi Jawa Timur, semakin meluas. Tidak hanya Kabupaten Probolinggo dan Gresik, krisis air bersih pada puncak musim kemarau ini juga mulai merambah kawasan barat seperti Kabupaten Madiun, Ngawi, dan Kabupaten Ponorogo.

Di Kabupaten Madiun, krisis air bersih dialami warga Desa Karangsemi, Kecamatan Wungu. Puluhan keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih walaupun hanya untuk minum, karena air dari mengalir sekali dalam seminggu. Itupun air yang mengalir sangat sedikit sehingga tidak sebanding dengan kebutuhan warga.

Di Dusun Goa, air PDAM yang sangat sedikit itu ditampung di dalam tandon, supaya bisa dibagi rata untuk 25 keluarga atau sekitar 300 jiwa. Setiap ada air warga tidak hanya harus antre di bawah tandon, akan tetapi juga harus memikul jerigen atau ember untuk membawa air bersih ke rumah masing-masing.

Di Dusun Karangsemi, nasib warganya tidak lebih baik. Jika di Dusun Goa masih ada tandon air penampung air bersih, di Karangsemi pipa PDAM langsung dialirkan ke rumah warga. Namun pipa itu hanya mengalirkan air setiap minggu satu kali.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, puluhan keluarga terpaksa menampung air selokan ke dalam blumbang atau kubangan berdinding batu. Air yang ditampung ini berwarna keruh kecoklatan dan kotor. Apalagi warga tidak memiliki alat untuk menyaring kotoran.

Hampir setiap rumah di sini punya blumbang untuk menampung air selokan kalau pas ngalir. Airnya ya dari sungai yang dialirkan untuk irigasi sawah.

“Nah, kalau pas PDAM tidak keluar airnya, kami ambil air blumbang ini untuk minum dan memasak,” ujar Sainem (45) warga setempat.

Krisis air bersih juga dialami warga Desa Pandak, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, akibat sumur warga yang mengering bersamaan dengan datangnya musim kemarau. Untuk mendapatkan air bersih, puluhan keluarga harus mengambil air di sumber air (belik) yang berada di lereng Gunung Masjid.

Lokasi pengambilan air itu berjarak sekitar 1,5 kilometer dari permukiman warga. Setiap hari warga berjalan kaki untuk mengambil air yang digunakan untuk minum, memasak serta member minum ternak sep erti sapi dan kambing yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.

Sementara itu di Kabupaten Ngawi, krisis air bersih setidaknya dialami oleh warga Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin. Hampir sebulan sumber air di desa mereka mengering, sehingga warga harus mencari sumber air bersih di dalam hutan dengan jarak tempuh sekitar tiga kilometer.

Tidak hanya harus berjalan kaki, para pencari air juga harus melewati medan perbukitan yang terjal, naik, turun dan berkelok-kelok. Medan yang tidak mudah ini pastinya menjad i tantangan luar biasa ketika mereka harus menggendong jerigen berisi air yang beratnya mencapai 50 liter.

“Ini sudah kebutuhan kami setiap hari ya paling sedikit 50 liter. Kebutuhan terbanyak selain untuk masak dan minum adalah untuk minum ternak. Kalau urusan mandi dan mencuci tidak kami pikirkan, kalau ada air di selokan dekat sawah ya dipakai, kalau tidak ada ya tidak mandi,” kata Suwarni (50) warga Kenongorejo.

Kepala Bagian Perencanaan PDAM Kabupaten Madiun, Lardi, yang dikonfirmasi membenarkan jika pasokan air bersih ke Desa Karangsemi mengalami gangguan. Petugas di lapangan tengah memperbaiki gangguan yang ternyata bersifat teknis itu dan berupaya menyelesaikannya dalam waktu singkat.

Lardi mengatakan, kapasitas air PDAM saat ini mencapai 330 liter per detik dan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan 24.962 pelanggan di Kabupaten Madiun. Pihaknya mengklaim terus melakukan ekspansi pelanggan karena memiliki sisa kapasitas yang belum terpakai sebanyak 25 persen. kompas.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim