Bahan Konsumsi Dikuasai Produk Impor

ilustrasi: industri.kontan.co.id

Perekonomian Jawa Timur (Jatim) dan Indonesia secara keseluruhan bisa dikatakan telah ‘dijajah’ asing. Buktinya, kini produk impor menjadi penguasa utama pasar, menggusur produk lokal.

Lebih ironis, dilihat dari sisi penggunaanya, impor terbesar Jatim adalah untuk konsumsi. Bahkan di bulan Juli– jelang Ramadan sebagai puncak transaksi di Indonesia– impor barang konsumsi naik 105%. Buntutnya, riwayat produk lokal diprediksi bakal ‘tamat’.

“Surplus kita turun karena impornya lebih banyak dari pada ekspor. Bisa bahaya ini,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jatim, Alim Markus.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, nilai ekspor kumulatif (Januari-Juli 2011) lebih rendah dibanding nilai impornya, yaitu Rp 102,4 triliun untuk ekspor dan Rp 109,9 triliun. Artinya Jatim mengalami defisit perdagangan hingga Rp 7,5 triliun.

Merujuk data BPS Jatim, nilai impor pada Juli tercatat Rp 18,75 triliun. Nilai ini meningkat sebesar 16,36% dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar Rp 16,11 triliun

Sementara nilai ekspor Jatim selalu lebih rendah dibandingkan nilai impor. Nilai ekspor Jatim pada bulan Juli kemarin tercatat Rp 13,81 triliun. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan nilai impor Jatim pada bulan yang sama. Meskipun nilainya meningkat 17,43% dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya sebesar Rp 11,76 triliun.

Impor Jatim untuk barang konsumsi pada bulan Juli kemarin mengalami pelonjakan sampai 105,25% dibandingkan bulan Juni. Impor barang konsumsi Jatim bulan Juli tercatat Rp 1,66 triliun meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya Rp810 miliar.

Rata-rata barang konsumsi dari komoditas elektronik, tekstil, pengobatan, jasa, makanan dan minuman. Paling dominan yang menguasai pasar di Indonesia adalah produk impor asal China.

Dilihat dari negaranya, China melakukan impor hingga Rp 2,7 triliun per Juli saja atau akumulatif sebesar Rp 17 triliun. Negara pengimpor kedua adalah Amerika Serikat Rp 744 miliar/Juli, diikuti Thailand sebesar Rp 673 miliar.

Alim mengkritik kebijakan Kementerian Perdagangan yang dengan mudah memberikan Standar Nasional Indonesia (SNI) kepada importir. Kebijakan pemberian SNI yang menurutnya terlalu mudah tersebut membuat importir jadi leluasa untuk memasukkan barang-barang impor.

“Itu Mari Elka janganlah gampang kasih SNI ke Importir kalau mereka tidak bisa Jamin. Semua itu harusnya kalau tidak ada pabrik tidak usah di beri SNI. Mereka kalau tidak ada pabrik harus beri jaminan kepada konsumen,” ujarnya.

Peningkatan impor barang konsumsi dikatakan oleh Alim merupakan implikasi dari mudahnya importir memperoleh SNI. Ia kembali menekannya agar pemberian SNI pada barang konsumsi impor harus ketat. “Kembali ke perdagangan, jangan mudah kasih SNI,” tukasnya.

Hal senada diungkapkan, pengamat ekonomi Unair, Subagyo,“Kemarin sektor produksi hingga perbankan banyak dikuasai asing. Kini pasar konsumsi juga separo lebih dipasok oleh Asing. Hal ini mengindikasikan ada penjajahan dengan jurus baru yaitu ekonomi dari pihak asing.”

“Jika hal ini terus terjadi maka neraca pembayaran jadi defisit, karena impor lebih tinggi dari pada ekspor, nantinya akan berpengaruh pada sistem nilai tukar yang mengambang. Lama-lama rupiah akan merosot dari nilai mata uang asing,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi) Jatim, Bambang Sukadi menjelaskan peningkatan impor barang konsumsi yang mencapai 105,25% disebabkan karena nilai dolar yang melemah sejak enam bulan lalu.

“Peningkatan impor barang konsumsi ini memang dari nilai dolar yang melemah sejak enam bulan lalu. Sehingga para pengusaha membeli banyak, kalau dulu kan dolar sekitar Rp 9.400, sedangkan sejak enam bulan lalu dolar turun menjadi kisaran Rp 8.600,” terang Bambang.

Peningkatan barang konsumsi yang mencapai dua kali lipat, dikatakan oleh Bambang tidak terpengaruh karena momen hari raya Idul Fitri. Yang berpengaruh adalah nilai dolar yang lemah membuat banyak importir mborong barang. “Jadi pengusaha ambil kesempatan ini untuk ambil barang, sehingga menumpuk di gudang, saat waktunya baru mereka keluarkan,” ujarnya.

Dijelaskan oleh Bambang, momen hari raya Idul Fitri tahun lalu impor barang konsumsi tidak sebanyak tahun ini. Ia mengatakan perkembangannya hanya fluktuatif saja, tidak seperti saat ini yang melonjak sampai dua kali lipat.

Serba China

Apakah Anda beli baju baru saat lebaran kemarin? Bisa jadi sebenarnya semua made in China. Pasalnya, saat ini tak hanya ‘banjir’, produk tekstil China sudah ‘menggenangi’ Indonesia.

Hampir di seluruh pasar tekstil dan produk tekstil baik pasar grosir maupun eceran banyak sekali ditemukan tekstil dan produk tekstil asal China. Baik penjual dan pembeli memilihnya karena harganya lebih miring daripada tekstil dan produk tekstil lokal.

Olianto salah satu penjual tekstil di pasar Krampung Surabaya, mengaku banyak konsumen lebih memilih kain maupun baju dari China tersebut. “Sekarang ini banyak orang yang lebih mengutamakan kuantitas dari pada kualitas. Orang kalau lihat harga miring, langsung datang, hanya beberapa yang melihat kualitas, pokoknya bagus dan harganya cocok, langsung dibeli,” ujar Olianto saat ditemui di kiosnya Senin (5/9).

Olianto mengatakan, memang kualitas dari tekstil asal China jauh di bawah produk lokal. ”Kalau barang China, biasanya kalau dikucek sekali langsung luntur, tapi gimana lagi, sekarang konsumen pengennya harga murah,” ujarnya sambil menunjuk salah satu tekstil China yang bermotif batik.

Arif Budiman salah satu penjual di Pasar Grosir Surabaya juga mengatakan banyak konsumen yang lebih mengutamakan harga dari pada kualitas. Hal ini yang membuatnya ikut menjual baju dari China meskipun banyak juga yang dari lokal.

”Ya kan orang kalau lihat harga murah, pasti lihat. Kalau penjual yang kulak untuk dijual lagi kan pingin untung juga, jadi mereka banyak yang ambil baju impor China,” tuturnya.

Arif mengatakan yang banyak dicari orang adalah produk jadi seperti kaos, celana, dan jaket. Ia menjelaskan kalau pakaian jadi konsumen tinggal pakai, beda halnya kalau beli kain biasa. ”Kalau kain kan mereka harus keluarin biaya lagi untuk ongkos jahit,” ujarnya.

Merujuk data BPS Jatim, nilai impor TPT China di Jatim pada semester I/2011 mencapai Rp134,7 miliar. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp102,4 miliar. Sedangkan ekspor TPT Jatim ke luar negeri semester I/2011 mencapai Rp 321,9 miliar. Nilai ekspor Jatim juga meningkat dibandingkan periode yang sama ditahun sebelumnya yang sebesar Rp 186,8 miliar.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jatim, Sherlina Kawilarang, mengaku belum khawatir. ”Memang tekstil China banyak yang menguasai pasar domestik, namun hal ini membuktikan kalau pasar dari tekstil di Indonesia masih luas kesempatannya,” tuturnya. surabayapost.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim