Gubernur Khawatir Jatim Tidak Siap Hadapi Bubble Economy

ilustrasi: adlanafifi.blogspot.com

JJawa Timur akan menghadapi bubble economy dimana pertumbuhan investasi bakal meningkat besar-besaran paska Lebaran 2011 ini. Kresnayana Yahya pengamat ekonomi dari ITS Surabaya meramalkan masa keemasan ekonomi akan mencapai puncaknya sepanjang tahun 2012, tapi Soekarwo Gubernur Jawa Timur optimis, bubble economy itu masih akan menggelembung sampai tahun 2015.

Indikasinya jelas, kata Gubernur yang punya kumis tebal ini. Selain karena Indonesia menjadi pasar sangat potensial di tengah krisis ekonomi yang melanda Eropa, Amerika Serikat, dan RRC, juga karena inflasi di Indonesia bisa dikontrol tidak leih dari 7% pertahun.

Sejumlah investor kakap pun sudah mulai ancang-ancang dan bahkan sudah menapak di propinsi ini. Sebut saja investor Korea Selatan yang sudah membeli tanah di Lamongan untuk membangun pabrik sepatu untuk ekspor ke Afrika di sana dan eksploitasi tambang dolomite di Gresik Utara yang dilakukan kongsi usaha Perancis, Belgia, dan Indonesia dengan nilai investasi lebih dari Rp3 triliun.

Peningkatan investasi ini praktis juga menggelembungkan Produksi Domestik Regional Bruto (PDRB) dari Rp965 triliun tahun ini menjadi Rp1.200 triliun pada 2012 dan bertambah lagi menjadi Rp1.300 triliun di tahun 2013.

Menggelembungnya ekonomi Jawa Timur itu membuat Gubernur khawatir. Pasalnya, sampai kini ternyata propinsi ini belum siap menangkap peluang itu. Yield (perolehan imbal hasil dari investasi obligasi dalam jangka waktu setahun) Indonesia, kata Gubernur, saat ini paling menarik dibandingkan Eropa, Amerika Serikat, bahkan RRC sekalipun. Ini membuat investasi lebih banyak masuk ke Indonesia, termasuk Jawa Timur, sementara masih banyak bahan baku yang masih harus impor.

“Untuk itu, kita akan data mulai akhir tahun ini, komoditi-komoditi apa yang masih harus impor tapi bisa kita buat di Jawa Timur, kita undang investor buat industrinya di sini,” kata dia.

Menurut Gubernur, dibandingkan semua komoditi yang ada di Jawa Timur, saat ini industri kimiawi yang paling jadi daya tarik buat investor. Jika peluang ini bisa digarap dengan benar, Gubernur yakin keberlanjutan peluang ekonomi ini akan terjaga, bahkan lebih dari tahun 2015.

Dengan bubble economy di Jatim ini pula, Gubernur yakin sektor Usaha Mikro Kecil Menengah juga akan mendapat dampaknya. “Lewat skema APBD yang nilainya sekitar 7%-8% dari PDRB, akan kita beri stimulus pada UMKM melalui lending kredit perbankan daerah,” kata dia.

Angka pengangguran pun diyakini Gubernur juga bakal menyusut menjadi sekitar 3% hingga 5% dari jumlah saat ini 4,18 juta jiwa.suarasurabaya.net

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim