Ironis, Jatim Krisis Ikan

TPI Pancer, Banyuwangi/Oki lukito

Krisis ikan yang melanda Jawa Timur lebih sepekan terakhir dinilai sebagai tragedi mengingat Jatim adalah daerah produsen ikan utama di Indonesia. Krisis ini akibat kebijakan Pemerintah Provinsi Jatim yang tidak tepat terhadap sektor perikanan.

Demikian disampaikan Ketua Masyarakat Kelautan dan Perikanan (MKP) Oki Lukito, Jumat (19/8/2011), sehubungan dengan krisis ikan di Jatim.

Krisis ikan ditandai volume hasil tangkapan di beberapa sentra perikanan seperti Muncar (Kabupaten Banyuwangi), Puger (Jember), Mayangan (Probolinggo), Panggungrejo (Pasuruan).

Di Banyuwangi misalnya, volume tangkapan tahun 2010 sebesar 22.046 ton. Padahan tahun 2009 mencapai 32.782 ton, tahun 2007 mencapai 60.393 ton. Harga ikan kini melambung tinggi. Ikan tengiri yang baisanya Rp 34.000 per kg naik menjadi Rp 52.000 per kg. Ikan tongkol naik dari Rp 18.000 menjadi Rp 25.000 per kg. Ikan kakap merah naik dari Rp 35.000 menjadi Rp 45.000 per kg.

Menurut Oki Lukito, program perikanan Pemprov Jatim cenderung hanya menghamburkan uang rakyat. Ia mencontohkan pembangunan pelabuhan perikanan di Selat Madura, pesisir Laut Jawa, dan Selat Bali yang sudah overfishing. Seharusnya, pembangunan pelabuhan perikanan itu bisa dialihkan ke daerah lain yang potensi ikannya masih tinggi.

“Seharusnya Pemprov Jatim lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang selama ini diabaikan,” katanya.

Demikian pula dalam hal pengadaan kapal nelayan yang menggunakan peralatan tangkap tidak ramah lingkungan. Contoh, maraknya penggunaan jaring terlarang modifikasi jaring trwal seperti cantrang, dogol, sudu dan colok.

Benih Kerapu Diekspor
Harga benih ikan di pasaran lokal makin mahal, karena cenderung dipasarkan ke luar negeri dengan alasan harga lebih menjanjikan. Akibatnya kebutuhan dalam negeri minim, bahkan cenderung kekurangan pasokan.

Sekretaris Dewan Maritim Jawa Timur, Oki Lukito, di Surabaya, Kamis (18/8/2011), mengatakan, saat ini benih ikan paling sulit diperoleh di pasara Jatim adalah jenis kerapu. Dalam kondisi normal harga benih kerapu Rp 4.000 Rp 5.000 per ekor, saat ini mencapai Rp 12.000 per ekor dengan ukuran di bawah 10 sentimeter. Ukuran 11 hingga 15 sentimeter Rp 15.000 per ekor.

Harga benih yang terus melonjak, kata Oki, memaksa pelaku budidaya ikan untuk menunda usaha, karena tidak mampu membeli benih. Saat ini kerapu umumnya diekspor ke Malaysia dan Taiwan.

Bahkan ikan kerapu hidup di Kabupaten Situbondo dan Pulau Madura, Jawa Timur, yang siap dikonsumsi, justru diekspor ke Hongkong dan Singapura karena harganya mahal.

Benih ikan kerapu yang paling dicari saat ini baik untuk budidaya lokal maupun pasar luar negeri menurut Oki, jenis hybrida kerapu kertang dengan harga Rp 1.800 per sentimeter, kerapu macan 12 sentimeter seharga Rp 1.000 per sentimeter.

Di Jatim, kata Oki, ada tiga persen dari 35 juta jiwa penduduksebagai nelayan, yang tinggal 632 desa nelayan dan 68.238 rumah tangga perikanan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk Dinas Perikanan, sebagian digunakan untuk penyelesaian pembangunan fisik pelabuhan perikanan, dan sebagian kecil dana untuk memenuhi kebutuhan langsung nelayan seperti bantuan permodalan. kompas.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim