Sapi Perah Terbatas, Kekurangan Susu 500 Ton Per Hari

Ilustrasi

Indonesia tidak memiliki sapi perah berkualitas baik yang dapat memproduksi susu segar di atas 30 liter per hari. Oleh sebab itu pemerintah berencana mendatangkan bibit unggul sapi perah dari Selandia Baru.

Rencana investasi dari Selandia Baru itu diharapkan bisa membantu kekurangan tersebut. “Harus diakui saat ini kita masih kekurangan bibit unggul yang bisa menghasilkan susu di atas 30 liter per hari,” ujar Menteri Pertanian, Suswono, akhir pekan kemarin.

Suswono menyebutkan, ada beberapa wilayah Indonesia yang cocok untuk dijadikan pengembangbiakkan bibit sapi perah. Selain itu, ada juga beberapa perusahaan sapi perah yang juga dapat memproduksi susu sapi di dalam negeri, tapi jumlahnya belum cukup. “Kita berharap sapi perah diproduksi di dalam negeri, banyak daerah di Indonesia yang cocok untuk pengembangbiakan,” ujarnya.

Karena itu, Suswono akan memperjuangkan rencana investasi Selandia Baru di bidang persusuan untuk meningkatkan susu segar di dalam negeri, dan mengurangi impor susu segar. Selandia Baru dipilih, alasannya negara itu dikenal cukup bagus dalam pengembangan sapi perah untuk menghasilkan susu segar.

“Susu memang belum jadi target utama, tapi bukan berarti susu kita tingalkan. Kita harus meningkatkan bibit unggul dan negara yang punya kemampuan itu bisa investasi di Indonesia,” jelasnya.

Suswono menambahkan, dengan mengembangkan pengembangbiakan sapi perah unggul penghasil susu di dalam negeri, konsumsi susu per kapita Indonesia diharapkan juga bertambah untuk meningkatkan gizi masyarakat Indonesia.

Ia menyayangkan konsumsi susu di Indonesia yang masih kecil dibanding dengan negara ASEAN yang lain. “Konsumsi kita masih kecil sekali, paling sekitar 10 liter per kapita per tahun, masih di bawah Vietnam yang sekitar 11 liter per kapita per tahun,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Dinas Peternakan Jatim, Suparwoko, mengakui, meski Jatim sudah swasembada sapi dengan sok sapi sekitar 3,7 juta lebih pada 2011 ini, tapi untuk sapi perah masih terbatas, sehingga Jatim kekurangan stok susu. “Untuk sapi perah, Jatim memang masih kekurangan cukup banyak, dan sampai saat ini masih membuka peluang sebesar-besarnya sapi perah impor masuk ke Jatim,” ujarnya kepada Surabaya Post, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, kebutuhan susu di provinsi ini mencapai sekitar 1.600 ton/ hari, sementara baru terpenuhi sekitar 1.035 ton/hari. “Artinya masih kekurangan susu sekitar 500 ton lebih per hari,” ungkapnya.

Populasi sapi perah di Jawa Timur awal tahun 2010 mencapai 221.743 ekor. Sebagian besar penyebarannya terutama berada di dataran tinggi, serta sebagian kecil berada di dataran rendah.

Memang diakui, kurangnya lembaga keuangan yang memberikan kredit ke sektor ini membuat produksi sapi perah dan susu sapi tidak terlalu besar, sambung Suparwoko.

Perkembangan usaha peternakan sapi perah di Jawa Timur tidak terlepas dari peternakan rakyat, yang jauh lebih banyak dibanding usaha peternakan komersial (perusahaan). Pada usaha ternak sapi perah, banyak studi yang menunjukkan bahwa skala kepemilikan atau pengusahaan sapi perah induk (sebagai penghasil susu) di berbagai sentra produksi susu segar berkisar 2-3 ekor tiap peternak.

Produksi rata-rata masih berkisar pada kisaran angka 10 liter per hari. Populasi sapi perah di Jawa Timur awal tahun 2010 mencapai 221.743 ekor. Sebagian besar penyebarannya terutama berada di dataran tinggi, serta sebagian kecil berada di dataran rendah.surabayapost online

Komentar Pembaca

  1. minimal untuk mencapai hasil yang baek, produksi yang baek, harus mengutamakan kualitas pakan baek hijauan maupun kosentrat. kosentrat di KUD belum mencukupi kualitasnya, ditambah kesehatan hewan harus ditingkatkan dengan peran dokter hewan. ingat asupan tidak baek dan reproduksi kurang baek. MANA MUNGKIN PRODUKSI SUSU BANYAK, INI BUKAN KARENA KITA HARUS MENDATANGKAN SAPI SUPER, karena belum tentu di Indonesia bisa baik. menurut pandangan sy pribadi : PEMBEKALAN PENGETAHUAN PETERNAK HARUS MENGARAH KE PROFIT INI HAL YANG PALING MENDASAR, HARUS PENGETAHUAN PERHITUNGAN BIAYA PRODUKSI ATAU HPP HARUS TAU, PETUGAS YANG BERWENANG BAIK PEMERINTAH, KUD, DOKTER HEWAN, PIHAK SWASTA HARUS MENGEDEPANKAN PETERNAK. Kasian klau peternak yang tidak tau, trus dibohongin.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim