China Tertarik Inves Alur Barat Surabaya

ilustrasi: archive.kaskus.us

Rencana pelebaran dan pendalaman Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) Pelabuhan Tanjung Perak kiranya akan segera terealisir. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dari Nanjing China Bidang Pengairan sudah menyatakan keinginannya untuk berinvestasi pada pekerjaan tersebut.

Kepala Humas PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III, Edi Priyanto mengatakan bahwa keinginan BUMD Nanjing China untuk berinvestasi di APBS dinyatakan saat melakukan kunjungan ke Tanjung Perak akhir minggu kemarin.

“Mereka sangat tertarik dan siap menanamkan investasinya dalam pemeliharaan APBS. Ini menjadi sinyal positif bagi pelaksanaan rencana pelebaran dan pendalaman APBS,” ujar Edi Priyanto di Surabaya, Senin (8/8/2011).

Selain mempelajari jalur dan kondisi tol laut APBS di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pembahasan dan penjajakan tentang peluang investasi dalam kegiatan pelebaran dan pendalaman APBS.

“Untuk merealisasikannya, masih harus ditindaklanjuti dengan pertemuan-pertemuan yang lebih teknis guna membicarakan secara detil dan mendalam, mulai dari teknis pelaksanaan kerjasama, bentuk kerjasama, lama waktu kerjasama, jumlah biaya, besaran sharing, dan sebagainya,” kata Edi.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, pendalaman dan pelebaran APBS memang sudah menjadi keharusan agar arus transportasi laut di Tanjung Perak menjadi lebih baik. Sebab kondisi APBS saat ini sudah tidak memadahi jika dibandingkan dengan arus kapal yang melintas.

Saat ini, APBS memiliki panjang 25 mil laut, dengan lebar 100 meter dan kedalaman minus 9,5 meter LWS. Kondisi ini hanya mampu dilewati oleh kapal secara searah (one way).

Padahal arus kapal kian melaju seiring dengan makin membaiknya perekomian Indonesia, khususnya wilayah Indonesia Timur.

Pada tahun 2009 saja, Pelindo III mencatat, handling petikemas di Pelabuhan Tanjung Perak telah mencapai 2,28 juta Teus, sementara general cargo meningkat hingga 13,2 juta ton per m3 dan arus kunjungan kapal mencapai 15.000 unit kapal dengan GT 63,2 juta gros per ton.

Kondisi ini jauh berbeda jika dibanding tahun 1993 yang hanya mencapai 14.000 unit kapal dengan bobot sekitar 24,5 juta gros per ton untuk arus kunjungan kapal dan handling petikemas yang hanya mencapai 180.000 teus.

“Disamping keterbatasan kedalaman menyebabkan akses kapal menjadi terbatas, hal tersebut akan berdampak pada tingginya waiting time kapal. Pada akhirnya, ini akan menghambat perkembangan angkutan laut dan perekonomian Jatim dan Indonesia bagian timur,” katanya.

Untuk itu, kata Edi, APBS harus dilebarkan menjadi 150 meter dan didalamkan menjadi minus 13 meter LWS sehingga kapasitas dalam setahun bisa mencapai 58.000 pergerakan kapal.

“Dengan demikian lalu lintas kapal yang semula 1 arah menjadi 2 arah sehingga menjadi lebih lancar,” pungkasnya. kabarbisnis.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim