Jatim Tolak Impor Beras

Ilustrasi

Pemprov Jatim dengan tegas menolak impor beras. Gubernur Jatim Soekarwo, menyatakan penolakan itu karena Jatim masih kelebihan stok beras hingga 4 juta ton. Persoalannya justru terletak di Bulog yang tidak mampu menyerap beras petani.

“Kita akan menolak, masih ada 4 juta ton di petani dan belum dibeli Bulog. Sepanjang untuk buffer stock (penyangga pangan, red), impor tidak masalah asalkan tidak di Jatim,” kata Soekarwo, seusai rapat paripurna di DPRD Jatim, Rabu (28/7).

Soekarwo mengatakan, untuk melihat stok beras di Jatim tidak cukup dari gudang Bulog saja, tetapi juga harus mendatangi petani sebagai produsen beras. Yang terjadi saat ini, Bulog yang kurang mampu menyerap beras dari para petani.

Sebelumnya, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jatim menyetujui adanya impor beras. Alasannya, karena hampir 60 persen tanaman padi di Jatim gagal panen akibat serangan hama wereng. “Daripada ketahanan pangan kita terganggu akibat 60 persen sawah gagal panen, lebih baik impor beras saja,” kata Wakil Ketua HKTI Jatim, Syamsul Huda.

Sementara itu, dukungan untuk menolak impor beras juga disuarakan kalangan DPRD Jatim. Juru bicara Fraksi Demokrasi Indonesia Perjuangan, Sugiono, malah menilai kinerja Bulog Divre Jatim payah lantaran tidak mampu menyerap beras dari para petani. Target serapan beras dari petani sebanyak 3,5 juta ton, sementara realisasi Bulog Divre Jatim hanya mampu memenuhi 1,6 juta ton.

“Fraksi PDI Perjuangan menolak tegas impor beras masuk ke Jawa Timur. Karena kesalahan bukan pada petani, namun pada Bulog yang tidak mampu menyerap beras petani,” katanya.

Pemprov Jatim, sambung dia, juga tidak pernah melakukan penelitian mengapa Bulog tidak mampu menyerap beras dari para petani. Bulog sendiri tidak mampu menyerap beras dari para petani melebihi 46 persen. Sehingga, kata dia, jangan menyalahkan petani jika menjual gabah di luar Bulog.

Sugiono menilai dalam praktiknya Bulog tidak terlalu fair kepada para petani. Ia memprotes hal itu, karena selama ini kebijakan Bulog dan pemerintah tidak banyak membela rakyat. Salah satu buktinya, harga beras yang terus merangkak naik. “Jangan salahkan petani menjual beras maupun gabah di luar Bulog. Karena pada prakteknya, Bulog tidak pernah fair terhadap warga,” kritiknya

Protes keras itu, menurut Sugiono dilakukan, karena selama ini kebijakan Bulog dan pemerintah tidak banyak membela kebutuhan rakyat. Buktinya, harga beras saat ini, masih saja tidak terjangkau. Seharusnya, kata dia, harga beras tidak lebih dari Rp 5 ribu/kilogram sesuai Inpres Nomor 7 tahun 2009. Namun pada kenyataanya harga beras bisa mencapai Rp 6.000/kg.

Mengatasi hal ini, Pemprov Jatim diminta untuk ikut turun tangan. Terlebih lagi, jika tidak ingin Jatim yang selama ini memiliki predikat lumbung beras akan terganggu. Ia juga meminta pemerintah diharapkan untuk mengawasi distribusi beras. “Ini perlu dikonsolidasikan untuk menekan beban masyarakat, khususnya masalah sembako,” katanya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jatim, Achmad Nur Falakhi, menyebut, walaupun serangan hama wereng menyerang ribuan hektare sawah petani di banyak daerah, namun produksi beras di Jatim tetap surplus 4 juta ton lebih.

“Walau sawah kita di serang wereng, tapi produksi tetap tinggi. Akibat anomali cuaca lahan terus basah, hanya padi yang bertahan, jadinya petani terus menerus tanam dan panen,” katanya, ketika dihubungi beberapa waktu lalu.

Dijabarkan Falakhi, berdasarkan angka tetap produksi padi Jatim pada 2010 sekitar 11.643.733 ton, tahun ini Angka Ramalan II produksi padi sekitar 12.049.990 ton. Artinya lebih banyak 3,49% dibanding tahun 2010.

“Karena luas panen pada 2011 terus bertambah dan produktivitasnya tinggi. Pada semester I 2011 luas panen sekitar 1.07/678 hektare dengan produktivitas 55.78 per kwintal/ton dengan produksi sekitar 5.676.742 ton. Sementara pada semester II luas panen 752.318 hektar dengan produktivitas 55.93 per kwintal/ton dengan produksi gabah kering giling (GKG) sebesar 4.207.593 ton. Sementara pada semester III 2011 di ramalkan luas panen sekitar 352.971 hektar dengan produktivitas 60.59 per kwital/ton dengan produksi 2.138.645 ton sehingga jumlahnya sekitar 12.022.980 ton,” paparnya.

Dikatakan Falakhi, dengan jumlah 12.022.980 ton tersebut dengan total kebutuhan beras Jatim tahun ini sekitar 3.420.060 ton artinya produksi beras Jatim masih surplus 4.394.877 ton.

Seperti diketahui, sejak beberapa waktu lalu pemerintah menegaskan akan kembali mengimpor beras, dengan alasan untuk kebutuhan stok cadangan pangan. Kuota impor beras tahun ini sebesar 1,6 juta ton, namun diharapkan tidak direalisasikan seluruhnya, karena bisa digantikan dengan produksi beras sebanyak 2 ton dari program Gerakan Peningkatan Produktivitas Pangan berbasis Korporasi (GP3K). surabayapost online

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim