Ribuan Koperasi Tidak Aktif

ilustrasi: aminandoko.blogspot.com

Ironis, tiap tahunnya pertumbuhan koperasi di Jawa Timur (Jatim) mencapai 15% sampai 20%, tapi jumlah koperasi di Jawa Timur yang saat ini masuk kategori tidak aktif juga cukup besar, ada 3.177 koperasi.

Banyaknya jumlah koperasi tidak aktif di Jawa Timur dibenarkan oleh Gubernur Jawa Timur, Soekarwo pada saat menghadiri acara Hari Koperasi ke-64 Tingkat Jawa Timur di Sumenep, Rabu (20/7). “Memang ada 3.177 koperasi di Jawa Timur tidak aktif. Meski demikian, masih terdapat 25 ribu lebih koperasi yang bagus dan mempunyai usaha jelas di Jawa Timur. Lebih-lebih kehadiran koperasi wanita (kopwan) yang terus berkembang, sehingga perlu mendapatkan bantuan modal,” kata Pakde Karwo, panggilan akrab Soekarwo.

Pertumbuhan koperasi, tambah dia, pada kisaran 15% sampai 20% setiap tahunnya. “Makanya, wanita merupakan akuntan yang baik perlu diberdayakan melalui koperasi. Sudah kita bantu Rp 25 juta setiap kopwan se-Jawa Timur,” ujarnya.

Kedepan, diungkapkannya, pihaknya akan mengembangkan koperasi fungsional, semisal koperasi bagi karyawan dan koperasi pondok pesantren yang sangat potensial. “Tahun 2012, direncanakan akan menggelontorkan dana cukup besar bagi 310 pondok pesantren yang ada di Jatim,” terangnya.

Menurut Pakde Karwo, bila pondok pesantren mempunyai 3 ribu santri, maka akan membutuhkan songkok, sikat gigi, sandal, dan sabun sebanyak jumlah santri. “Jelas, ini sangat potensial bila terbentuk koperasi yang mempunyai modal cukup dan dikelola dengan baik,” ujarnya.

Sementara, Bupati Sumenep, A Busyro Karim mengatakan, jumlah koperasi di Sumenep saat ini mencapai 1.040 koperasi dengan jumlah anggota mencapai 70.200 orang atau naik 15,91% dari tahun sebelumnya. Modalnya mencapai Rp 389.400.000 dengan volume usahanya Rp 650.857.436.000. “Perkembangan koperasi di Sumenep cukup mengembirakan,” katanya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, sedikitnya 39 koperasi di Kabupaten Sumenep tergolong “tak sehat” alias non aktif dalam aktivitasnya. Indikasinya, koperasi tidak pernah rapat anggota tahunan (RAT), karena anggota koperasi sendiri tidak aktif.

Sementara itu, pemerintah pusat melalui APBN tahun 2011 menganggarkan Rp 1,6 triliun untuk membantu permodalan koperasi. “Ada dana Rp1,6 triliun untuk koperasi,” terang Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), Achsanul Qosasi yang juga ikut hadir dalam peringatan puncak Hari Koperasi ke-64 Jawa Timur di Sumenep, kemarin.

Dia yang juga anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) XI Madura menjelaskan, keberadaan koperasi perlu terus dipupuk dan dibina. “Secara umum, memang bagus perkembangannya. Namun, masih ada koperasi yang tidak aktif. Di Sumenep juga ada,” ujarnya.

Bila pembinaan terus dilakukan oleh pemerintah, otomatis anggaran yang dari APBN juga bakal mampu diserap dengan baik demi kemajuan dan ketahanan koperasi itu sendiri. “Melalui koperasi, diharapkan ekonomi masyarakat terus membaik,” ujarnya.

Di lingkungan Dekopin sendiri, kata dia, juga ada dana sebesar Rp 115 miliar. Semua itu, untuk memodali koperasi meski jumlahnya sangat kecil. Penyerapan koperasi di Jawa Timur, kata dia, cukup besar dan berkisar 60%. “Ini cukup besar dibanding daerah lain. Tentunya perlu perhatian serius dari semua pihak,” tandasnya. surabayapost.com

Komentar Pembaca

  1. Berikan masyarakat yang terbaik demi kemajuan jawa timur

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim