Arjowilangun Desa Termodern, Kantong TKI

ilustrasi: desaarjowilangun.blogspot.com

Jalanan hotmix masih dalam kondisi baik membelah hutan jati di sebelah selatan Bendungan Sutami, Kabupaten Malang. Ini merupakan akses menuju Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, yang merupakan desa termodern di kantong Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Kabupaten Malang.

Rumah permanen dengan arsitektur modern berdiri berjajar di pinggiran jalan kampung, begitu juga bermunculan tempat usaha hampir di sepanjang jalan. Aneka usaha siap melayani keinginan semua pembeli.

Desa berpenduduk sekitar 13 ribu jiwa ini memiliki lima dusun yang semuanya tertata rapi serta terbangun semi modern. Semua itu berkah dari mayoritas warganya mengadu nasib di luar negeri. Mereka memanfaatkan hasil jerih payahnya untuk membangun rumah serta tempat usaha. Mulai dari bengkel motor, swalayan, warnet, conter Hp, toko
pakaian serta percetakkan.

Kontribusi juga diberikan para buruh migran untuk membangun desa lebih maju dibandingkan seluruh desa di Kabupaten Malang. Hasil swasembada digunakan untuk memperbaiki drainase kampung, membangun pos kamling serta jalan desa, sejak Tahun 2009 sampai 2010 tersalur sekitar Rp 1,5 miliar lebih dana swasembada yang mayoritas dari buruh migran jadi warga desa itu. “Semua hasil swasembada mas, dari kami (buruh migran,red), ungkap Ketua Purna Migran Mudiyono ditemui di rumahnya, Jumat (24/6/2011).

Dukungan pembangunan dari buruh migran terlihat nyata di desa memiliki 700 Kepala Keluarga (KK) ini. Meski lokasinya terpinggir dan jauh pusat kota, nyaris seluruh infraktrutur tertata dengan baik, tak satupun jalan masih dalam kondisi berbatu atau makadam.

Desa ini pun dinobatkan sebagai desa empat kategori terbaik di Provinsi Jawa Timur dan meninggalkan 360 lebih desa di Kabupaten Malang. “Kita masuk nominasi desa terbaik,” beber Mudiyono.

Sebagai mantan buruh migran dirinya patut bangga atas perubahan di kampung halamannya ini. Apalagi semua terbangun dari swasembada warganya. “Disini mayoritas buruh migran, baik perempuan maupun lelakinya,” terangnya.

Kades Kademangan Trimo Rahardjo mengaku, mayoritas warganya memang menjadi TKI, keputusan bekerja di luar negeri itu sudah berjalan turun temurun sejak puluhan tahun silam.

Tekanan ekonomi hanya bekerja sebagai buruh tani di kampung halaman memicu mereka merantau ke negeri orang. “Mungkin juga alasan ekonomi. Tapi keputusan berangkat lagi dan menular ke orang lain itu karena menginginkan untuk mendapatkan materi yang berlebih,” bebernya ditemui terpisah.

Senada juga disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Trasmigrasi Kabupaten Malang Djaka Ritamtama, bahwa di beberapa wilayah memang menjadi kantong TKI, hingga cenderung terlihat turun temurun warganya bekerja sebagai TKI. Budaya konsumtif yang tinggi memicu mereka menjadi TKI. “Konsumtif yang tinggi jadi penyebabnya. Padahal disini lapangan pekerjaan banyak,” tegasnya.

Pihaknya telah merancang program dan telah berjalan seperti di Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, yakni memberikan wawasan kepada purna migran tak kembali ke luar negeri. Dengan jalan mereka diminta menggunakan uang hasil kerja untuk membangun usaha. “Kita berikan wawasan agar membuka usaha hingga tidak kembali lagi,” ujarnya. detiksurabaya.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2018. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim