Produksi Tembakau Virginia Melorot Tajam

ilustrasi: lintasdaerah.com

Selama ini produsen rokok di Jatim telah mengimpor tembakau jenis Virginia kurang lebih 30 ribu ton per tahun. Ini disebabkan produksi tembakau jenis Virginia di Jatim terus mengalami penurunan, akibat anomali cuaca dan terdesaknya lahan untuk program ketahanan pangan.

Hal tersebut diungkap Samsul Arifien, Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur. Menurutnya, tembakau jenis Virginia ini areal tanamnya terus berkurang, bahkan pabrik rokok masih mengimpor sekitar 30 ribu ton/tahun.

Produksi tembakau Virginia ini pernah mencapai poin tertingginya di tahun 1992 dengan jumlah produksi 33.231 ton/tahun dengan luas areal tanam 40.335 hektare. Namun, di tahun 2010 luas areal tanam tinggal 13.364 hektare dengan produksi hanya mencapai 5.655 ton. Samsul menyebut, masalah iklim juga ikut mempengaruhi produksi tembakau. Padahal, sambung Samsul, tembakau Virginia ini yang di kehendaki oleh WHO (World Health Organization) karena kadar nikotinya dibawah 2%. “Memang isu kesehatan menjadi faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan tembakau, tapi untuk jenis virginia sesuai dengan keinginan WHO karena kadarnya dibawah 2%,” terangnya.

Amin Subarakah, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jatim, mengatakan hal senada terkait penurunan produksi tembakau Virginia ini. Menurutnya tembakau Virginia menurun selain karena anomali cuaca di tahun 2010 juga disebabkan karena minat pentani untuk menanam juga turun.

Selama ini diakuinya pasokan tembakau Virginia di Jatim kepada para produsen rokok di penuhi oleh impor. Oleh sebab itu pihaknya dan juga Disbun di dorong untuk mengurangi impor tembakau jenis ini dengan bekerjasama meningkatkan produksi tembakau Virginia di Jatim.

“Selama ini kebutuhan tembakau Virginia produsen rokok disuplay oleh impor. Oleh sebab itu kami didorong oleh pemerintah untuk menurunkan impor tembakau Virginia dengan meningkatkan produksinya,” tuturnya.

Terkait isu kesehatan yang menjadi kendala utama perkembangan tembakau di Indonesia, Amin mengatakan ia sudah mengirimkan surat kepada Dinas Kesehatan, bahwa tidak ada penambahan areal untuk tembakau.

“Saya sudah mengirim surat kepada Menteri Kesehatan bahwa tidak ada perluasan. Areal tetap 110 ribu hektare. Cuman varietasnya yang kita kembangkan lagi, untuk Virginia sendiri sekitar 15 ribu hektare saja,” tuturnya. Surabayapostonline

Komentar Pembaca

  1. Sy ketua kel. Tani Margomulyo 2 Ds. Banjardowo Kec. Lengkong Kab. Nganjuk.
    Sdh slama 6 tahun kami menanam tembakau, dan UPTD Pertanian slalu mharap agar di desa kami tetap ada petani yg menanam tembakau. Krn di desa kami sejak dulu merupakan daerah temabakau.
    Disini kami ditekan agar tetap ada tanaman tembakau, hanya tdk di dukung pemasarannya maupun bantuan pupuk atau program lainnya yg berhubungan dgn tembakau.
    Pd tahun 2015 kami mencari jln pemasaran dgn kerjasama dg PT. SADANA. Disini kami mendapatkan bantuan teknisi penanaman sampai pemrosesan menjadi tembakau kering,. Disamping itu hasil tembakau kering diterima oleh PT. SADANA dg harga variatif sesuai kualitas tembakau.
    Untuk itu mhn perhatiannya dan bimbingannya dr Pemerintah Propinsi Jatim agar di daerah kami tanaman tembakau dpt menghasilkan kualitas baik yg baik dgn begitu akan mengangkat perkonomian petani.
    Demikian atas perhatiannya kami ucapkan banyak terimakasih.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim