Peran Perkebunan ke PDRB Menurun

ilustrasi: id.88db.com

Kontribusi sektor perkebunan ke Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur menurun. Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Samsul Arifien, mengatakan, saat ini PDRB Jatim dari sektor perkebunan masih mencapai Rp14 triliun. Pencapaian itu harus terus ditingkatkan agar pertumbuhan ekonomi Jatim juga bisa terus terdongkrak naik.

Ia menuturkan, jumlah PDRB itu adalah hasil dari sektor perkebunan yang luasnya sekitar 135 ribu hektar.

“Jika perusahaan perkebunan didorong untuk terus mengembangkan hasil komoditi dan areal tanam maka hasilnya tentu akan berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi Jatim. Pada 2010, sumbangsih perkebunan terhadap PDRB mencapai Rp14 triliun. Ini menurun dari pencapaian 2009 memberikan sumbangsih sebesar Rp 16 triliun. Menyusutnya pencapaian PDRB 2010 itu akibat anomali cuaca,” ujarnya akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, kerugian akibat anomali cuaca memang sangat besar. Tembakau banyak gagal panen, tebu rendemennya kurang bagus. “Jatim kehilangan Rp 2 triliun dari sektor perkebunan,” ujarnya.

Kerugian terbesar adalah muncul dari produksi tebu yang nilai rendemennya melorot. Dari hitungannya, akibat rendeman tebu yang turun, kerugian yang hilang di seluruh wilayah Jatim mencapai Rp1,6 triliun. Padahal dari sisi jumlah, panen tebu justru mengalami peningkatan menjadi 1,6 juta ton dari total panen sebelumnya yang hanya 1,2 juta ton.

Untuk tebu, taksasi rendemen lebih tinggi dari tahun 2010 yang hanya 6 persen, namun lebih rendah dari rendemen 2009 sebesar 7,4 persen. Dari luas areal tebu, tahun ini diprediksi naik menjadi 197.302 hektar. Luas itu meningkat dari 2010 yang hanya 193.000 hektar. Jumlah areal tebu naik sekitar 4.000 hektar dan ini akan meningkatkan hasil produksi tebu. Tetapi, dengan jumlah yang meningkat, belum tentu rendemennya bisa naik, karena saat ini yang harusnya kemarau, masih terjadi hujan.

Sektor lain yang juga menyumbang kegagalan cukup besar adalah tembakau. Dari 85.000 ton panen tembakau pada 2009, turun menjadi 50.000 ton saja pada 2010. Kehilangan 35.000 ton, ditaksir nilainya mencapai Rp 250 miliar. Dari dua sektor tebu dan tembakau saja kita sudah kehilangan sekitar Rp 1,8 triliun. Kalau secara keseluruhan potensi hilangnya sekitar Rp 2 trilun.

Belum lagi dari sisi serangan hama dan penyakit tanaman yang kerugiannya mencapai Rp 55 miliar lebih. kb

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim