Bandara Trunojoyo Disarankan Gandeng Swasta

ilustrasi: www.inilah.com

Potensi menjadikan Bandara Trunojoyo, Sumenep sebagai bandara internasional membutuhkan dana triliunan rupiah serta lahan cukup luas, paling tidak 107 hektar. Disarankan pemerintah kabupaten setempat menggandeng pihak swasta sebagai investor.

“Potensi pasar tinggi jadi investor tak akan rugi berinvestasi. Kalau dipenuhi dengan APBD maupun APBN memang sulit,” ujar pengamat penerbangan Dudi Sudibyo ketika dihubungi

.

Pemerintah daerah Sumenep sendiri menyatakan siap bila bandara Trunojoyo akan dijadikan bandara komersial internasional. Bahkan Bupati A Busyro Karim sudah mencanangkan program pembiayaan tahun jamak atau multi years untuk mewujudkan rencana tersebut.

“Agar rencana ini terealisasi, maka pembiayaan harus menggunakan sistem Multi Years,” tegas Busyro. Sebab rencana induk pengembangan Bandara masih membutuhkan pembebasan lahan hingga 107 hektare untuk menjadi bandara Internasional.

Memang untuk mewujudkan Bandara Trunojoyo menjadi bandara internasional pendaping Bandara Juanda memelukan kerja keras semua pihak karena membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu keterlibatan swasta mutlak diperlukan.

‘‘Tetapi untuk membangun bandara untuk internasional memang memerlukan dana yang sangat besar, setidaknya triliunan rupiah dana yang harus dipersiapkan. Dukungan swasta mutal diperlukan,” tegas Dudi .

Menurut Dudi, membangun infrastruktur bandara sangat luas. Contohnya minimal mempunyai landasan pacu sepanjang 1.000 meter – 2.500 meter. Selain itu harus mempunyai kantor imigrasi, bea cukai dan sebagainya,’’ katanya.

Landasan pacu sepanjang itu diperlukan agar bandara bisa didarati pesawat berbadan lebar dan jangkauan perencanaannya harus jauh ke depan. ‘‘Jangan seperti Bandara Juanda yang perencanaannya yang hanya 10 tahun. Akibatnya sekarang ini, arus penumpang d ibandara tersebut sangat tinggi, bahkan dalam waktu dekat diprediksi tidak akan mampu lagi menampung lonjakan penumpang,’’ ungkapnya.

Jelas, kata Dudi, perlu dukungan bandara pendamping karena Juanda sudah sulit untujk dikembangkan lagi. Oleh karena itu keberadaan Bandara Trunojoyo sebagai bandara internasional sangatlah layak.

Sementara Bupati Busryo Karim sebagai orang nomor satu di Sumenep bertekad tetap akan memperhatikan pengembangan bandara di wilayahnya itu. Baik dari segi anggaran maupun komunikasi dengan pemerintah Jawa Timur dan Pusat agar ada perhatian khusus.

“Komunikasi yang dibangun dengan pemprov maupun Pusat, mendapat respon positif soal pengembangan bandara. Ini harus dijaga dan ditindaklanjuti,” ujarnya.

Namun, Ketua Komisi C DPRD Sumenep, Hamid Ali Munir mengingatkan, jika Bandara Trunojoyo akan ditingkatkan menjadi bandara Internasional akan menemui kendala khusus, terutama dalam pembebasan lahan.

“Bandara Internasional itu, butuh lahan cukup luas. Kalau Bandara Trunojoyo diproyeksikan menjadi bandara Internasional masih butuh kajian dan investigasi langsung soal pembebasan lahan yang akan menemui banyak kendala,” katanya.

Dana APBD Sumenep yang sudah dialokasikan sejak tahun 2004 ke pembangunan bandara mencapai Rp 10 miliar. Sedangkan dana dari pusat tahun 2010 sebesar Rp 4 miliar dan 2011 mencapai Rp 11 miliar.

Bandara Trunojoyo, saat ini baru mempunyai landasan pacu pesawat sepanjang 905 meter dengan lebar 23 meter. Pembebasan 4 hektar lahan tahun ini, selain untuk memperpanjang landasan pacu mencapai 1.250 meter, juga untuk perluasan fasilitas lain.

Untuk menuju ke bandara internasional memang bisa juga dilakukan secara bertahap. Namun menurut Dudi hal itu akan sulit berjalan. Sebaiknya langsung saja ke perencanaan internasional.

‘‘Artinya kalau mau ramai, ya jadikan dulu lapangan Trunojoyo sebagai bandara interternasional, bukan sebaliknya Trunojoyo hanya dijadikan bandara domestik, karena pada akhirnya akan hanya menjadi hiasan kota, karena tidak banyak maskapai yang kesana, masyarakatpun lebih memilih lewat darat,’’ imbuhnya.

Selain itu, Dudi juga melihat jangan sampai dana untuk membangun lapangan terbang tersebut menjadi terbuang sia-sia. Kalau bandaranya kurang peminat maka tidak akan ada manfaatnya. ‘‘Lebih baik mengeluarkan biaya yang besar tapi manfaatnya juga besar bagi pembangunan daerah tersebut,’’ tegasnya.

Semangat pemerintah daerah untuk mengembangkan bandara Trunojoyo, juga disambut positif Ketua PC NU Sumenep, Panji Taufiq. “Itu sangat baik untuk Sumenep ke depan,” katanya.

Bahkan, untuk mengembangkan Sumenep lebih baik, kata dia, pembangunan fasilitas lain juga perlu segera dibenahi, semisal fasilitas pelabuhan, jalan serta infrastruktur umum lainnya, sehingga arus barang lebih lancar.

Sisi lain, bila fasilitas umum itu lengkap, maka jumlah kunjungan wisata (orang) yang masuk Sumenep akan bertambah. Mereka akan betah dan membuat perekonomian masyaraikat cepat berputar.

“Otomatis, modal akan masuk Sumenep. Ini yang perlu dipikirkan bersama dan dicarikan solusi oleh pemerintah,” ujarnya. SP

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim