Kunjungan Kerja Bersama Bakorwil Pamekasan ke Pulau Kramian

Istri Wagub Jatim Hj. Fatma Saifullah Yusuf saat memberikan bantuan kepada warga Pulau Kramian

Hampir semua pulau terpencil di Jawa Timur memiliki masalah yang sama, seperti listrik, sekolah, kesehatan hingga air bersih. Kondisi itu juga terjadi di pulau Kramian yang masuk dalam satu gugus Pulau Masalembu, Sumenep, Madura.

Selain Pulau Kramian, dalam gugus tersebut terdapat Pulau Masalembu dan Pulau Masakambing. Secara administratif, gugus kepulauan Masalembu masuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep. Tetapi secara geografis, Pulau Kramian lebih dekat dengan Pulau Kalimantan.

Di Pulau tersebut tedapat 2.800 jiwa yang terdiri atas suku Bugis, Madura dan Jawa. Untuk suku Bugis mayoritas tinggal di dusun Sudimampir dan Air Hidup. Mereka banyak bekerja sebagai nelayan. Sedangkan suku Madura dan Jawa mayoritas tinggal di dusun Alas Jaya yang bekerja di bidang perkebunan kelapa dan cengkih.

Itulah mengapa penduduk setempat begitu antusias menyambut kedatangan para pejabat. Puluhan siswa SD dan ratusan penduduk menyambut kedatangan rombongan Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf beserta Bupati Sumenep A Busyro, Bupati Sampang, H Noer Tjahja, bersama perwakilan Bakorwil Pamekasan yang baru saja mengikuti rapat Forpimda di atas Kapal KRI Makassar 590 pada 28-29 April.

Untuk sampai di pulau dengan panjang sekitar 14 km itu rombongan harus naik perahu motor karena dermaganya tidak bisa dipakai bersandar kapal besar. Dermaga sangat sederhana dan hanya terbuat dari kayu yang kelihatannya sudah tua, beberapa perahu motor juga tampak berjajar rapi di sepanjang pantai yang memiliki panorama cukup indah.

Kondisi pulau Kramian, hampir sama dengan pulau-pulau lain yang masuk wilayah Madura, jalan utamanya  terbuat dari batu bata dan paving, bahkan ada beberapa ruas jalan  masih berupa tanah.

Demikian juga fasilitas penunjang seperti listrik, penduduk setempat menyebut listrik di Pulau Kramian takut sama adzan, buktinya listrik bisa menyala sebelum adzan Magrib dan kembali padam sebelum Subuh. “Listrik disini masih menggunakan tenaga disel dan hanya menyala pada malam hari saja,” kata Anisah warga setempat, Jumat (29/4).

Namun warga mengaku tidak memiliki masalah dengan sumber air bersih, walau daerah pantai, ternyata memiliki sumber air tawar yang cukup baik dan layak minum. “Kalau masalah air minum kita tidak ada masalah,” kata Anisah.

Bagi penduduk setempat kunjungan para pejabat itu sangat istimewa, karena jarang ada pejabat yang mau melihat kondisi pulau paling ujung Madura itu. Kesempatan itu juga dipakai warga untuk curhat ke para pejabat yang selama ini hanya bisa dilihat melalui televisi maupun media cetak.

Salah satu keluhan yang disampaikan warga adalah masalah kesehatan, sebab di pulau itu hanya ada Puskemas Pembantu atau Pustu yang dikepalai oleh seorang perawat, sehingga jika  ada pasien yang menderita penyakit berat harus dilarikan ke Puskesmas ke Pulau Masalembu yang jaraknya harus ditempuh selama lima jam perjalanan dengan kapal nelayan.

Bahkan banyak warga yang terpaksa harus berobat ke rumah sakit ke Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan walau harus menempuh perjalanan tujuh jam dengan perahu motor. Sedangkan untuk bisa dirawat ke Surabaya butuh waktu 18 jam perjalanan laut.

“Di Pustu hanya ada dua bidan dan dua perawat dan kami tidak memiliki dokter, selain itu fasilitas Pustu juga tidak selengkap Puskesmas di Pulau Masalembu atau rumah sakit di Pelaihari,” kata Kepala Pustu Kramian, Sahidan yang juga lulusan Sekolah Perawat Kesehatan itu.

Biasanya banyak para ibu hamil yang memilih melahirkan di Puskemas Masalembu maupun Pelaihari. “Memang tidak semuanya dan biasanya para ibu hamil yang memiliki masalah dalam proses melahirkan, seperti operasi caesar,” katanya.

Selain itu pihak Pustu juga membutuhkan motor gerobak yang bisa difungsikan sebagai ambulan mini yang berguna untuk membawa pasien. “Kami butuh ambulan mini itu, tapi sebelumnya diperbaiki dulu infrastruktur jalannya,” kata pria yang saat ini kuliah di Universitas Wira Raja (Unija) Sumenep.

Kepala Desa Kramian, Henry Sugairi berharap Pemprov Jatim bisa memperbaiki infrastruktur jalan dan membangun sekolah, sebab  di pulau ini hanya ada sekolah setingkat SD,  satu sekolah setingkat SMP, yakni Madrasah Tsanawiyah swasta. Sedangkan untuk tingkat SMA/SMK belum ada. “Bangunan sekolah juga sudah kurang layak karena sudah tua,” katanya.

Ia berharap ada perhatian dari pemerintah. Sebab sampai saat ini dari sekitar 14 km jalan yang ada di desa tersebut, hanya sekitar 7 km yang sudah dipaving. Selebihnya adalah jalan pasir. “Struktur tanah di sini adalah pasir laut, sehingga tidak bisa diaspal. Alternatifnya jalan ini dipaving atau dicor,” ungkapnya.

Mendengar keluhan warga, Wagub Saifullah Yusuf berjanji akan memperhatikan kondisi Pulau Kramian, bahkan saat ini Pemprov Jatim akan melakukan berbagai program pembangunan di pulau terluar dari provinsi ini. Prioritas yang akan dilaksanakan adalah pembenahan di bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.

Pemprov akan berkonsentrasi melakukan pembangunan di pulau-pulau terpencil dari provinsi ini. Berbagai program pembangunan tersebut untuk menekan disparitas wilayah, khususnya di wilayah kepulauan. “Itulah salah satu alasan mengapa kami menggelar rapat Forpimda di atas kapal, biar peserta bisa mengetahui kondisi pulai terpencil seperti Kramian ini,” katanya.

Untuk masalah pendidikan rencanannya akan dibangun SMP Negeri, sedangkan di bidang kesehatan, pria yang biasa di sapa Gus Ipul itu berjanji akan meningkatkan status Pustu menjadi Puskesman, sehingga warga tidak perlu jauh-jauh berobat ke Pulau Masalembu maupun Pelaihari. “Kalau perlu Puskesmas tersebut diberikan ruangan yang cukup untuk rawat inap. Termasuk memberikan bantuan berupa dokter maupun dokter spesialis,” kata Gus Ipul.

Selain itu juga perlu dibangun infrastruktur jalan di pulau tersebut untuk melancarkan aktivitas warga. Termasuk membangun pasar desa agar warga tidak harus berbelanja ke pulau Masalembu yang jaraknya harus ditempuh selama lima jam perjalanan lewat kapal nelayan.

Bupati Sumenep  A Busyro berjanji untuk memenuhi kebutuhan penduduk setempat secara bertahap, namun ia melihat faktor kesehatan dan pendidikan akan menjadi prioritas utama. “Kami akan berusaha membangun Puskesmas dan sekolah yang layak,” katanya.

Usai berdialog degan warga, Wagub Saifullah Yusuf bersama istri Ny Fatma Saifullah Yusuf memberikan bantuan berupa mesin disel 2 ribu watt, bibit jagung, peralatan nelayan, dana musholla dan kebutuhan lainnya. Bhi

7 Komentar Pembaca

  1. izin copi artikelnya gan, soalnya aku asli kramian dan ingin berbagi info buat teman-teman yg lg menuntut ilmu di luar pulau kramian. Trim’s sebelumnya.

    • Silahkan di copy Pak, semoga bermanfaat dan kami sampaikan terima kasih atas kunjungan Anda.

      • terimah kasih pak, tolong buatkan pulau kramian sebuah Peta pak.

  2. kami mmang termasuk pnghuni pulau kramian yng bgitu lmah akan ekonomi dan teknoligi, dan kami hanya brharap lirikan mata mata dari pmerintah stempat. kami harap itu skses.

  3. kami dari pelajar generasi pulau kramian yg perpndidikan di luar JATIM (sulawesi selatan), kami hanya ingin suatu pendekatan kepada pemerintah, maaf kalau memang ada kata-kata saya yang tdk sopan.

  4. mari kita bngun desa kita ini.tunjukkan kita mampu berbuat walaupun dengan keterbatasan dana dan vasilitas.kita..

  5. tolong data luar geografisnya.klo ada,dan kondisi cuaca diisikan.biar sbg acuan..bg orang-orang yang membaca artikel ini.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim