Tanggul Penahan Jebol Lagi

ilustrasi: Jebol ...

 Tanggul penahan lumpur Lapindo di Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, ambrol sepanjang sekitar 200 meter. Tanggul tersebut ambrol karena terdesak aliran lumpur dari dalam tanggul.

Akibat kejadian itu, tanggul di titik 68 kini terbuka sepanjang 200 meter. Satu unit mesin ekskavator yang berada di atas tanggul ikut terseret longsor dan tenggelam di dalam lumpur. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Wakil Kepala Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Akhmad Khusairi menuturkan, tanggul di titik 68 itu ambrol pada Rabu (27/4) petang. ”Jadi di dalam tanggul itu ada semacam gunung lumpur. Pada titik keseimbangan tertentu gunung lumpur itu akan luruh ke bawah. Luruhan ini mendesak tanggul sehingga ambrol,” katanya, Kamis (28/4).

Dalam pemantauan Kompas, Kamis siang kemarin, lumpur yang meluap dari dalam tanggul membanjiri tanah kosong di luar tanggul sehingga tidak mengganggu lalu lintas di Jalan Raya Porong ataupun rel kereta api yang berada tak jauh dari tanggul.

Menurut Akhmad Khusairi, potensi tanggul ambrol semacam itu merata di semua titik tanggul. Oleh karena itu, tanggul yang berada di samping Jalan Raya Porong dan rel kereta api diperkuat dengan batu dan diberi bronjong.

Adapun tanggul di titik 68 itu tidak diberi bronjong karena di sampingnya masih ada tanah kosong yang luas sehingga luberan lumpur bisa mengalir ke tanah kosong tersebut.

Akhmad mengatakan, untuk menutup kembali tanggul yang ambrol itu, petugas harus membersihkan dulu longsoran lumpur dari area tanggul. Hal itu dinilai akan sia-sia karena lumpur di dalam tanggul siap luruh setiap saat.

Oleh karena itu, sejauh ini BPLS tidak berencana menutup kembali tanggul tersebut.

Akhmad mengatakan, tanah kosong yang saat ini dibanjiri lumpur itu direncanakan akan menjadi lokasi kolam lumpur yang baru. Namun, pembangunan kolam lumpur baru itu tidak akan bisa dilakukan dalam waktu cepat.

”Jadi untuk saat ini, BPLS tidak memiliki rencana untuk memperbaiki tanggul itu. Tetapi, BPLS akan terus memantau lokasi,” ujarnya.

Lima keluarga

Di seberang area tanggul yang ambrol tersebut saat ini masih ada sejumlah rumah yang masih dihuni. Berdasarkan data BPLS, sedikitnya ada lima kepala keluarga yang tinggal di area tersebut.

Akhmad mengatakan, mereka mengaku akan tetap bertahan di rumahnya sampai mereka mendapat pelunasan ganti rugi dari PT Minarak Lapindo Jaya.

Salah seorang relawan taruna tanggap bencana (Tagana) yang berada di lokasi tanggul, Surya, menuturkan, di seberang lokasi tanggul yang ambrol saat ini memang masih terdapat sejumlah rumah yang masih berpenghuni. Jarak tanggul dengan rumah-rumah tersebut sekitar 500 meter.

”Kami mengawasi rumah- rumah itu karena katanya masih ada beberapa kepala keluarga yang tetap bertahan di rumahnya,” ungkapnya.

Lokasi tanggul yang ambrol tersebut saat ini dipasangi garis polisi. Area di sekitar tanggul tersebut dinilai masih labil sehingga warga dilarang men- dekat. Kompas.com

Komentar Pembaca

  1. Memang Tdk etis, tempat bnenaca menjadi salah satu obyek rekreasi. tapi manusiawi rasa pingin tahu TKP besar n pada akhirnya ada pedagang bakso laris di TKP. Bagaimana P’ Adrian sudah mencoba Bakso diatas Tanggul atau malah kuah baksonya lumpur lampindo hhheeee cory.truz B’ Pujana apa sudah berusaha keras mengeluarkan empatinya ??? mungkin berlinang air mata ya, ga keliatan sich, ketutup kacamata jadulnya. (but tetep keren .. dikit) hhhheeee ..

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim