Infrastruktur Wisata Tak Memadai

Jalan menuju obyek wisata Balekambang rusak/wartakota.co.id

Aksesabilitas dan infrastruktur wisata alam di Jawa Timur masih belum digarap secara maksimal. Apabila kedua hal ini sudah tergarap secara maksimal, industri pariwisata Jatim akan semakin berkembang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Jariyanto, mengatakan, pengembangan pariwisata merupakan tanggung jawab bersama. Ini karena, ada saling keterkaitan antara pemerintah, pihak swasta, maupun masyarakat di sekitar daerah tujuan wisata. “Kalau bicara masalah pariwisata, kita tidak bisa melihat dari satu sektor saja, ini karena pariwisata merupakan tanggung jawab bersama. Misalnya masalah jalan, itu tentu tanggung jawabnya Dinas PU, sementara kalau di daerah kabupaten/kota yang bertanggung jawab,” katanya, Rabu (27/4/2011).

Menurutnya, Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW) kebanyakan berlokasi di kabupaten/kota, bukan di ibukota provinsi sehingga kabupaten/kota harus menyiapkan semuanya. Seperti dari destinasi (tempat tujuan) wisata, pelayanan, infrastruktur, maupun faktor pendukung lainnya. Sedangkan yang dilakukan provinsi melakukan promosi secara total dan gencar.

Kondisi ini menuntut adanya koordinasi lintas sektoral untuk mengembangkan potensi wisata yang masih belum tergarap. Jika hal ini dapat terealisasi, kunjungan wisata ke Jatim akan semakin meningkat. “Kita hanya mengkoordinasikan saja, termasuk bagaimana memberi masukan mengenai desain pariwisata yang harus dikembangkan untuk meningkatkan kunjungan wisata,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pariwisata Jatim menyumbang pendapatan asli daerah cukup tinggi, yakni sebesar 6,18 persen.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Jatim, Sunarmadji, menambahkan, pemasaran produk pariwisata saat ini masih terkendala dengan masalah infrastruktur dan akses menuju lokasi wisata. “Pengalaman kita waktu sedang promosi wisata keluar daerah, infrastruktur ini yang mereka tanyakan. Karena di sebagian wisata kita masih banyak yang belum menyediakan penginapan maupun tempat makan yang memadai,” ungkapnya.

Karena itu, untuk menyiasati supaya buyer (pembeli) tetap bersedia untuk bertransaksi dan beersedia berkunjung, wisata yang ditawarkan hanya yang sudah siap dalam segi infrastruktur maupun akses jalannya. Kondisi ini menyebabkan pilihan wisatawan mengenai wisata Jatim menjadi terbatas. Padahal sebenarnya wisata Jatim sangat melimpah. Karena belum ditunjang dengan infrastruktur yang memadahi wisatawan menjadi enggan untuk berkunjung. kbc

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim