Aktivis NII Banyak Berkeliaran di Kampus

ilustrasi: oldsite.ub.ac.id

Setelah terbongkarnya kasus korban “cuci otak” yang menimpa 15 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, yang diduga dilakukan kelompok organisasi Negara Islam Indonesia, kini mulai terbongkar bahwa di beberapa kampus di kota pendidikan itu memang banyak berkeliaran aktivis NII.

Hal itu diungkapkan Koordinator Nasional Ketua Badan Eksekutif Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Muhammad Rizqi Awal dalam jumpa persnya yang digelar Minggu (24/4/2011) di Gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Jatim, Jalan Kawi, No 41, Kota Malang.

Menurut Rizqi, kasus cuci otak yang menimpa mahasiswa UMM itu bukan hal yang baru terjadi. Hal itu sejak dulu sudah terjadi. “Hal itu jelas dilakukan oleh aktivis NII. Proses cuci otak dan pembaiatan kepada calon pengikutnya tersebut bukan hanya bertempat di Jakarta, tetapi di sejumlah daerah juga bisa,” katanya.

Rizqi mengaku, BKLDK kalau melakukan diskusi di berbagai masjid dan kampus sering dihadiri aktivis NII. Soal pemikirannya memang banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. “Sukanya hanya menjual ayat-ayat Al Quran. Kalau diskusi dengan kita kalah, dia baru pulang dan berhenti ikut diskusi,” katanya.

“Hampir di semua kampus di Indonesia, terutama di Malang, Jakarta, dan Bandung, juga kota besar lainnya memang banyak aktivis NII berkeliaran mencari pengikut. Kami tahu dari pemikirannya. Tetapi untuk dibuktikan secara nyata masih sulit,” katanya.

Mengapa? Karena, jelas Rizqi, aktivis NII yang bergerak di berbagai kampus itu tidak mengaku dari NII. Mereka menyembunyikan identitas organisasinya. “Gerakan mereka laten. Yang paling berkembang di Jakarta, Bandung, DIY, dan Malang,” akunya.

Bahkan dari fakta yang diperoleh, aktivis NII itu saat ini berusaha akan memindahkan ibu kota Jakarta ke Jawa Tengah. “Itu cita-cita yang saat ini diusungnya,” katanya.

Oleh sebab itu, Rizqi dengan tegas mengecam aktivitas yang dilakukan aktivis NII di berbagai kampus tersebut. “Karena NII itu sudah jelas tidak mengakui NKRI. BKLDK dengan tegas mengecam cuci otak yang dilakukan kepada mahasiswa di UMM dan juga di berbagai kampus tersebut,” tegasnya.

Selain itu, mahasiswa dari Universitas Padjadjaran, Bandung, itu mendesak kepada pemerintah dan pihak kepolisian untuk bersikap tegas mengusut tuntas kasus cuci otak yang menimpa banyak mahasiswa. “BKLDK siap membantu kepolisian untuk mengungkap kasus NII itu. Kalau BKLDK dimintanya siap kapan saja membantunya,” jelasnya.

Rizqi menilai, pemerintah, dalam hal ini intelijen dan kepolisian, sebenarnya tidak serius mengungkap kasus NII dan terorisme itu. “Sebenarnya intelijen sudah mengantongi data soal itu. Tetapi mengapa kesulitan untuk mengungkapnya? Karena, isu tersebut dimainkan oleh pemerintah sendiri,” katanya.

Kalau pemerintah gagal mengusung kebijakannya, ada kasus yang menjelek-jelekkan pemerintah, kasus yang menyangkut ideologi keagamaan itu akan dimunculkannya. “Tujuannya untuk menenggelamkan kasus yang menimpa pemerintah,” tegasnya.

Muhammad Rizqi Awal selaku Koordinator Nasional Ketua Badan Eksekutif BKLDK itu menghadiri acara Rakernas V di Malang, yang dilakukan oleh BKLDK seluruh Indonesia yang berlangsung sejak Minggu di Kota Malang. Acara itu dihadiri oleh pengurus BKLDK di seluruh kampus di Indoensia. kompas.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim