Minggu, 20 April 2014

Operasikan Bandara, Jember Minta Pusat Gelontor Rp 80 M

ilustrasi: mokoku.blogspot.com

Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur meminta dana Rp 80 miliar kepada pemerintah pusat untuk memperbaiki dan mengoperasikan kembali lapangan terbang Notohadinegoro yang saat ini masih mangkrak. “Karena kekuatan APBD kabupaten dan propinsi tidak kuat atau mencukupi,” kata Kepala Dinas Perhubungan Jember, Sunarsono.

Saat ini, kata dia, sudah ada beberapa maskapai penerbangan yang mengajukan diri untuk bekerjasama meoperasikan bandara yang sudah lama mangkrak itu. “Yang terbaru perusahaan dari Malaysia. Tapi syaratnya mereka minta fasilitas diperbaiki dan dikembangkan,” katanya.

Dana Rp 80miliar itu akan digunakan untuk perbaikan sarana yang selama ini rusak atau belum ada seperti Adanta D-4 atau alat bantu pesawat terbang ketika akan melakukan pendaratan, kendaraan pemadam kebakaran khusus, penyempurnaan landasan pacu, gudang kargo, lampu bandara, pagar, terminal penumpang, taxiway dan apron.

“Rencana pengoperasian kembali lapter itu dilakukan menyusul kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan memacu realisasi program penerbangan citylink antarkota di provinsi itu lewat pengembangan sembilan lapangan terbang,” katanya.

Saat ini, sudah ada sekitar enam bandara udara di wilayah Jatim. Keenam airport itu, Juanda (Surabaya), Abdurrahman Saleh (Malang), Iswahyudi (Madiun), Notohadinegoro (Jember), Blimbingsari (Banyuwangi) dan lapangan terbang perintis Trunojoyo (Sumenep).

Dalam APBD tahun 2011 ini, Pemkab dan DPRD Jember tidak lagi mengeluarkan anggaran untuk bandara karena daerah ini tidak punya anggaran. Menurut Ketua Komisi C DPRD Jember yang membidangi urusan pajak, keuangan, dan transportasi, Moch.Asir, setelah bandara tidak beroperasi, Pemkab dan DPRD dalam posisi dilematis. “Dibiarkan sudah terlanjur makan dana miliaran. Tetapi, jika bandara kembali dibangun, anggaran Pemkab Jember sangat terbatas,” katanya.

Bandara Notohadinegoro Jember dibangun dengan dana APBD sejak tahun 2002 – 2006 dan sudah terkuras sekitar Rp. 23 miliar. Bandara itu dibangun semasa Bupati Samsul Hadi Siswoyo. Untuk meyakinkan masyarakat, Pemkab Jember nekad menggelar uji coba penerbangan awal tahun 2005 lalu. Tidak tanggung-tanggung, uji coba ini menghadirkan mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid dan Menteri Perhubungan Hatta Radjasa.

Selanjutnya jabatan Samsul digantikan MZA Djalal pada tahun 2006, Pemkab Jember kembali berencana mengoperasikan kembali bandara ini, dan bandara ini kembali beroperasi selama 3 bulan, Agustus hinggan November 2008.

Alih-alih menuai untung, pemerintah Kabupaten Jember malah merugi. Bahkan, diduga dalam pengoperasian bandara ini terjadi korupsi dana Rp 5,7 miliar. Dalam kasus ini, ada tiga pejabat di Jember yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jatim. TI

58 Komentar Pembaca

  1. Di banyuwangi sudah ada bandara yang top dan beroperasi bagusnya. Masak kabupaten tetangga saja ngotot minta kehendak diri. Jember dan Banyuwangi kan kabupaten sebelahan, alangkah baiknya warga jember ke banyuwangi utk terbang dgn pesawat. Uda di beri tahu bandara Belimbingsari di banyuwangi letaknya di kec.rogojampi atau sekitar 35km dari jember. Deket banget tuh.

    • Kami terbuka menerima penumpang dari manapun,,
      Ada 2 Maskapai d Blimbingsari
      Wings Air dan Merpati Air
      Terbang tiap hari jam 9.45 WIB

    • Mas Argo. Masyarakat Jember bukannya ngotot minta kehendak diri. Ini masalahnya bandara di Jember sudah mangkrak berapa ribu hari, bahkan bandara Jember lebih tua dibanding bandara Blimbingsari. Daripada uang rakyat yg untuk membangun bandara terbuang sia-sia, alangkah lebih bijak bandara Notohadinegoro difungsikan kembali untuk melayani masyarakat Jember dan sekitarnya.
      Matur suwun

    • Saya akan membenarkan komentar dari Argo; Anda dpt informasi dari mana kalau jarak dari Jember kota ke Rogojampi hanya 35 km?? Kata siapa itu??? Saya lihat patok kilometer di tengah2 kota Jember, disitu terlihat kalau kecamatan Kalibaru saja jaraknya masih 50 km dari Jember kota, sedangkan kec. Rogojampi letaknya masih jauh di sblah timur Kalibaru. Logikanya tdk mungkin kalau jarak dari Jember kota ke Rogojampi hanya 35 km, sedangkan jarak Jember kota ke Kalibaru yg letaknya jauh di sblah barat Rogojampi aja 50 km.. Pasti jarak dari Jember kota ke Rogojampi jauh lebih dari 50 km. Mungkin jaraknya kira2 85 km, karena jarak Jember-Banyuwangi 95 km. Mohon kpd Argo untuk segera dicek lagi sumber yg anda dapatkan.!! Terima Kasih..

  2. Mungkin itu hanya Beberapa Oknum yang tidak ingin berdampingan,,,, Memang 2 Kab ini (Banyuwangi dan Jember) selalu bersaing

  3. untuk nama bandara banyuwangi, gak usah nama yg susah dingat. pkai nama bandara tawang alun

    • Pake nama Bandara Blimbingsari
      dengan alasan letak di desa blimbingsari
      dan juga promosi wisata pantai blimbingsari dan Argowisata AIL

  4. klihatan aneh jg sih kalo bnyuwangi sdh pnya bandara jember ga punya ,,,pdahal dl warga bnyuwangi kalo pengen jln2 k mall besar/ belanja sdh pst hrs ke jember karna d bnyuwangi gda,,tp skr bandara aja malah lbh dl bnyuwngi yg ada,,ada yg g beres ni ma pjbat2 jember,,kapan majunya kalo krjaan korupsi doank .:

    • Sebelum Bupati Ratna (2005) Perda melarang Pembangunan Mall
      jangan salah Skrang Banyuwangi udah banyak mall
      5 mall di kota banyuwangi
      2 mall di genteng

  5. keberadaan bandara di jember adalah suatu kebutuhan jember punya potensi sendiri…disini ada 3 PTN + banyak PTS, pusat bisnis wilayah besuki bank, dealer, distributor (indomaret n alfamaret aja punya gudang di jember untuk wil. besuki + bali) , warga jember klu lewat bandara banyuwangi kejauhan…misal klu ke surabaya masih ke banyuwangi kurang lebih 2,5 jam lebih, belum lg klu macet digumitir…perjalanan naik pesawat 1/2 jam total 3 jam, klu gitu lebih baik naik travel aja sama-sama 3 jam, klu emang pusat ndak mau biayai….jember mampu kok bangun bandaranya sendiri…yakin krn potensi yg ada kedapanya…jadi besar

    • @Agus: yg di perlukan itu adalah daya beli masyarakatnya..
      Daya beli masyrakat jember itu kecil,boleh jadi jember pustat ekonomi sbelah timur tp itu dulu,itupun dulu juga warga luar jember yg beli.
      Tp skrg akan berbalik, banyuwangi lagi sibuk mengejar harapan dari pada mengkerdilkan daerah lain.

      • Mas/Pak Arief, anda dpt informasi dari mana kalu daya beli masyarakat Jember itu rendah?? Buktinya gedung2 bertingkat di kota Jember semakin banyak berdiri baik itu mall, hotel, perkantoran, dll. Contohnya di kota Jember ini baru saja (skitar beberapa bulan yg lalu) dibangun mall Giant, hotel Aston bintang 3 yg megah dgn 8 lantai, gedung perusahaan asuransi Sinar Mas, dan juga pembangunan beberapa perumahan baru. Itu membuktikan kalo pertumbuhan ekonomi Jember meningkat. Jadi dari mana Mas/Pak Argo dpt informasi kalo daya beli masyarakat Jember menurun? Lagipula (mohon maaf, bukannya saya ingin memojokkan Banyuwangi) keberadaan pusat2 perbelanjaan di Jember jauh lebih dulu ada daripada pusat2 perbelanjaan yg ada di Banyuwangi. Pernyataan saya ini berdasarkan fakta.. Terima Kasih.

        • @Titan satria: ini masalah bandara pak..
          Hotel aston yg kamu tunjukin apa ada warga jember asli yg berkunjung,boro2..

          Kalau memang jember mampu kenapa bandara mangkrak,padahal dulu kab.banyuwangi juga di awali dari perintis. Lihatlah dari segi kebutuhan bukan gagah2an gedung.
          Apa mau makan gedung..,hahaha

          • @Arief: Ya jelas gak ada warga Jember yg berkunjung, wongan letaknya di Jember alias di kota sendiri. Mas/Pak Arief, hotel itu dibangun tujuannya utk tempat penginapan orang yg berasal dari luar kota yg ingin tinggal beberapa hari atau dalam hitungan minggu di suatu kota.. bukannya utk penginapan warga asli kota tempat hotel tsb. berada..!!

          • Utk persoalan bandara mangkrak, itu disebabkan karena salah pengelolaan dari pemkab Jember, bukannya Jember tidak mampu.

    • Bukan.a di artikel sdh di beri tahu klok Pemkab dan DPRD kab Jember sdh tidak mampu membiayai bandara, oleh karna itu pihak Jember minta bantuan ke pusat, sdangkan Banyuwangi yg notaben.a kota baru maju dibandingkan Jember bisa membiayai sendiri pembangunan Bandara Blimbingsari, dan karena Banyuwangi menjadi gerbang provinsi Jatim, maka.a pusat brani membiayai pembangunan Banyuwangi :)

      • Saya kira wajar jika Pemkab Jember minta bantuan dana ke pusat untuk membenahi bandaranya karna Pemkab tidak mampu lagi. Karna seperti kita ketahui bandara di Jember sudah mangkrak terlalu lama. Dan jika dibiarkan terus-menerus akan menjadikan proyek gagal dan tentu saja merugikan masyarakat Jember sendiri. Apalagi ada maskapai plat merah yang melihat prospek dan potensi besar di Kabupaten Jember. Jadi ini momentum untuk bangkit kembali memfungsikan dan menghidupkan bandara yang telah lama mati suri.
        Semangat Jember Maju Terus. Pantang Mundur !!!!!
        Terima kasih.

  6. Dari Awal yang di support pusat dengan APBN adalah Bandara Banyuwangi, tentu pemerintah mengadakan Study Kelayakan Bisnis dengan banyak Perspective, walau kita percaya Jember Kaya dengan bangun bandara full APBD Jember. Letak bandara harus safety, maka Blimbingsari di tepi laut sangat tepat untuk penerbangan siang dan malam. Maaf, bagaimana dengan Jember yang berada di tengah Hutan, bagaimana bila terus menerus hujan dengan kabutnya…

    • Pak Bambang. Dari sebelum membangun bandara pasti sudah dilakukan survei, bukan asal bikin saja kan pak ? ;-Q
      Bandingkan dengan bandara di daerah Papua Pegunungan Tengan yang bandaranya rata-rata dikepung gunung jurang dan hutan. :-D

      • Papua Pegunungan Tengah …kalau gak pakai pesawat, gak akan bisa masuk/keluar….
        Gak ada pilihan lain ….!!…

  7. memang kalau dilihat dari segi pendidikan kita akui jember memang unggul dibanding banyuwangi,jember kita akui punya 3 PTN & masih banyak PTS lainya,namun jangan salah gan,BANYUWANGI sekarang juga punya PTN lho.” sebut saja POLITEHNIK NEGERI BANYUWANGI dulunya memang bukan negeri gan”,tetapi sekarang berkat perjuangan panjang bpk bupati abdullah azwar annas & juga dukungan masyarakat banyuwangi ahirnya poliwangi berubah status menjadi NEGERI. Dan juga yg baru baru santer diberitakan di media adalah pada tanggal 23/12/13,indonesia baru saja meresmikan sekolah pilot NEGERI ke-2 di BANYUWANGI,tidak salah jika pemerintah pusat menggelontorkan dana untuk pembangunan bandara blimbingsari, karena di samping sebagai pelayanan untuk memudahkan masyarakat bepergian blimbingsari juga di manfaatkan sebagai tempat untuk para taruna pilot belajar terbang,,ok gak gan???

    bukan tidak mungkin kalau kabupaten tetangga bakal tersaingi bahkan mungkin bisa di dibelakang jauh dari banyuwangi,,
    makanya gan sebagai warga indonesia yg baik boleh kita bangga dengan daerah masing”,memang suatu daerah itu pasti punya kekurangan dan kelebihan tetapi bukankah seyogyanya kita mensyukuri gan??

    hidup laros banyuwangi!!

    • Memang mungkin Jember sekarang kalah sama Banyuwangi dengan fasilitas transportasi yang lebih banyak atau kalah dengan investasi yang masuk ke Banyuwangi. Tapi Jember melakukan segala sesuatu seperti memfungsikan ulang bandara dan sebagainya bukan semata-mata mau menyaingi atau gengsi-gengsian dengan Banyuwangi pak !!!! Tapi Jember melakukan demikian untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Jember sendiri. :-D Lucu melihat komentar-komentar yang menyudutkan Jember yang iri dengan Banyuwangi hihihihihihihi……

    • @rizki alfian: Memang sekarang Banyuwangi punya PTN, tapi tetap saja Jember yg diakui sbg kota pendidikan ke 3 di jawa timur, karena usia PTN di Jember jauh lebih tua dari PTN yg ada di Banyuwangi. Dan Jember telah memiliki PTN sejak tahun 1964, sedangkan Banyuwangi baru memliki PTN (sebut saja Poliwangi) di tahun 2008.

  8. Sebelumnya saya mau mengucapakan selamat hari jadi Kabupaten Jember yang ke-85

    Sebagai orang yang cukup lama tinggal di Jember, saya rasa Jember juga membutuhkan sarana transportasi udara layaknya Banyuwangi. Ini bukan masalah iri dengan Banyuwangi yang bandaranya sudah beroperasi, tapi ini masalah kebutuhan masyarakat Jember akan adanya transportasi yg lebih efisien.

    Mator sklangkong tretan alias Matur sembah nuwun :-)

  9. dek rema ta iye…
    sudah lah… ngga usah gae2 bandara maneh lah… mengko menyang banyuwangi wae… mending dana pembangunan yang terbatas kui… di sodaqohkan ke rakyat yang lebih membutuhkan….

    jangan demi gengsi.. dikuat2kan mbangun…
    rakyat kecil.. tidak bisa makan…. ibu bapak kita yg di daerah sekitar jember yang susah perekonomianya bisa dibantu….

    begitu lebih banyak manfaatnya dari pada mudhratnya…

    mohon di renungkan…

    • Lah terus bandara yang sudah ada di Jember mau diapakan kalau nggak difungsikan lagi ???

      “Mosok yo kate dibongkar atau digawe jemur gabah rek, opo gawe arena anduk’an doro” ???

      Menurut saya sih ini sekali lagi bukan masalah gengsi tapi memang untuk kemakmuran dan kemajuan rakyat Jember juga.

      Saya setuju banget dengan komentar saudara Hans.
      Walau kami bukan orang asli Jember, tapi mendukung sepenuhnya atas kemajuan daerah Jember. Salah satunya dengan mendukung pengoperasian kembali bandara Jember.

      Bandara sudah ada, masak mau dibiarkan terus-menerus ??? Ayo Pemkab Jember, seng trengginas po’o nek kerjo !!!!!!!

    • Terus bandara yang sudah ada di Jember mau diapain kalo nggak difungsikan kembali ???

      Lagi-lagi mau maju kok dibilang gengsi, hadeeehh
      Padahal itu juga untuk menunjang kemakmuran dan kemajuan masyarakat Jember.
      Saya setuju banget dengan saudara Hans
      Walau kami bukan orang asli Jember tapi sangat mendukung kemajuan dan kemakmuran masyarakat Jember.

    • Betul banget mas bro Leo, ibaratnya orang menempuh pendidikan alias belajar kita sudah di tengah2 masa pendidikan, masak ya mau keluar alias putus belajar. terus kapan majunya hehe..
      Aku juga bukan orang Jember asli, asalku Sulawesi aku juga mendukung tuh bandara Jember segera beroperasi kembali, biar kalo pulang ke kampungku lebih cepat :-)

    • Lah terus bandara yang sudah ada di Jember mau diapakan kalo nggak difungsikan kembali..???
      Kan pengoperasian kembali bandara bukan untuk siapa2 melainkan demi masyarakat Jember pula supaya lebih maju dan sejahtera.
      Bener kata bung Hans, walau kami bukan orang Jember asli tapi mendukung penuh dibukanya kembali bandara Jember.
      Jelas itu lebih banyak manfaatnya untuk perekonomian masyarakat Jember kedepan.

    • Menanggapai koment dari kenyataan: Rakyat Jember ini ingin maju..!! knpa justru dibilang gengsi2an?? kpn perekonomian rakyat bisa berkembang jika dibilang iri2an oleh wrga daerah lain?? Saya super sepakat dgn koment2x mas Hans.. (y)

  10. Yg jelas jember tetap terbaik dibanding kabupaten tetangga lainnya Walau sampai kapanpun.

    • Wah kalo ngomongin banding membanding gak akan ada habisnya. Setiap daerah punya potensi masing2 termasuk kabupaten tetangga2. Jadi sebaiknya perbandingan bukan untuk menjatuhkan atau melecehkan tapi perbandingan untuk pembelajaran.. Jadi mari kita dukung setiap program pemerintah yang selayaknya agar memberi efek yang positif di masyarakat demi kesejahteraan bersama. :-)

  11. Stadion mewah wis onok, semen puger wis menasional..yo Persid gw sponsor PT. Semen Puger kan enak rek..Bandarane yo cedek stadion..bravo Persid. Bravo arek2 jawa timur cek terus maju…

  12. Lare banyuwangi sekolah sing pinter nok jember akeh kampus uapik..apik nek wis pinter balik kampung ben iso dadi pejabat…cek iso bangun kutone gawe JFC koyok jember..kan wis onok BEC banyuwangi etno carnaval he..he..cek di akoni koyok jember yo…yo wis sing pinter sekolah le…DUDU’ CINO, DUDU’ JOWO,DUDU’MEDURO SING PENTING JEMBER REK..EH LALI DUDU’ OSING…jember gak dwe budaya gak popo sing penting tambah ok rek..ayo kita majukan jawa timur bagian timur ini.

  13. Di kalteng ada kampung banyuwangi,
    di batulicin ada kampung banyuwangi,
    di jakarta ada hotel banyuwangi.
    Tp saya blum pernah tau ada kampung jember di tempat lain.
    Wlau saya bukan asli jember atau banyuwangi..,tp saya tau kredibelnya orang banyuwangi di rantau.
    Mereka hebat !!

    • Menaggapi koment dari Arief: Mungkin orang2 Banyuwangi yg merantau itu (maaf) ingin mencari penghidupan ygl lebih baik, krn perekonomian di daerah asalnya (maaf) mungkin kurang maju dibanding dgn daerah perantaunannya. Sedangkan anda tidak pernah menemui kampung Jember di luar kota bahkan di luar jawa, itu karena orang Jember tdk ada yg merantau malahan Jember sendiri yg jadi kota pendatang/perantauan karena Jember memiliki potensi ekonomi yg cukup besar dan tdk ada penduduk asli di Jember sehinggan harap maklum jika Jember tdk memiliki budaya.

  14. http://bappeda.jatimprov.go.id/2011/03/24/jumlah-warga-miskin-jember-meningkat/

    coba buka link di atas”"”" berarti itu yang harus kita perioritaskan…
    bikin lapangan kerja yang bisa cepat mensejahterakan… seperti dana pembangunan bandara di alihakn ke panduduk miskin untuk jadi mudal usaha sambil di ajari oleh trainer yg kompeten… pasti akan lebih banyak manfaatnya…

    dari pada buka bandara dengan biyaya milyaran… untuk gagah2an buka bandara….

    • Kpd kuro: Justru dgn mengaktifkan bandara bisa meningkatkan perekonomian warga Jember, dan berujung pd kesejahteraan warga Jember.

    • sanggahan buat amanda:
      saya tidak tau kampung jember atau banyuwangi seperti apa yang anda sebutkan,
      yg aku tau kredibel warga banyuwangi.
      Trima kasih !!

      • @Arief: Maksud anda kredibel warga banyuwangi yg seperti apa??

  15. @Amanda: rekan kami di pertambangan ada hampir 15% warga banyuwangi,
    Kerja keras mereka saya salut. Dimana mereka ada di situ ada ikawangi yg menaungi perantauan.yg lain terserah anda mau koment apa !!

    • @Arief: Terus hubungannya dgn topik ini apa??

  16. Kebutuhan itu pasti ada tingkat urgensinya… ada kebutuhan mana yang prioritas.. mana yang masih bisa di tangguhkan…. masalah jauhnya tempuh ke surabaya dan kota lainya dari jember maka bandara banyuwangi adalah salah satu satu solusi… memang masih ada jarak tempuh dari jember ke banyuwangi tapi paling tidak.. mengurangi setengah waktu perjalanan ke surabaya….

    kebutuhan akan adanya pembukaan bandara notohadi negoro logikanya bukan suatu kebutuhan primer.. dan tidaklah sangat urgent…. apa lagi sampai menelan dana yang sangat besar itungan milyaran…..

    alangkah arifnya… dana itu.. di bantukan ke pada saudara2 kita rakyat jember yang sekarang lagi kekurangan pangan, sandang, kesehatan, pendidikan dan lain2 yang sifatnya lebih urgent,… kita yakin masih banyak sekali saudara2 kita dalam kondisi seperti itu di jember…

    teman dan sudaraku masyarakat jember….
    janganlah kita terlalu mengedepankan ambisi untuk suatu hal yang di luar jangkauan kita.. sementara kita melupakan saudara2kita,…. rakyat kita di depan mata kita yang kekurangan…. yang mungkin mereka tidak akan pernah merasakan naik pesawat terbang walaupun nantinya bandara jember sudah di buka…

    kalau memang pembukaan bandara bisa memajukan perekonomian jember… sudah pasti… tidak serta merta langsung begitu di buka bandara langsung ekonomi meningkat…

    semua itu butuh waktu… butuh proses… butuh banyak hal yg harus di lakukan menarik investor, proses perijinan, pembukaan perusahaan, dan polemik2 yang lain yang butuh waktu yang panjang dan belum tentu bisa sukses langsung… …. Nah apakah saudara2 kita rakyat yang kekurangan bisa menunggu sekian lama… semntara kelaparan itu… ketidak sejahteraan itu… sakit itu terjadi sekarang… apakah kita tega….

    bandara yang sudah di bangun sekarang bukan berarti.. kita bengkalaikan…. tetapi tunggu saat kita ekonomi jember sudah membaik… kemiskinan sudah teratasi… kesehatan sudah terpenuhi…. dan pendapatan PAD sudah meningkat dan cukup untuk melanjutkan pembangunan… baru itu suatu tindakan yang arif dan bijaksana…

    mudah-mudahan penjelasan ini bisa memberikan sedikit keterbukaan di hati kita….

    Dulur bener… cobak di buka link ngisor iki…
    iki bukti jember gurung saate mbukak mandara re…

    http://bappeda.jatimprov.go.id/2011/03/24/jumlah-warga-miskin-jember-meningkat/

    mbok danane kui di hibahno nyang wong seng gak ndue.. di gae modal usaha karo di ajari carane usaha ambek pemerintah… luih okeh manfaate rek..

    dari pada mbangun bandara yen jek iso nggae bandara banyuwangi.. laopo mbangun maneh ndek jember… nggae milyaran duike maneh… ojo egois,… ojo mabisi.. ojo dumeh pengen gagah… eleng dulur seng gak due sek….

    PENDAPAT2 DI ATAS INI SUDAH SANGAT JELAS… APALAGI YANG HARUS KITA DEBATKAN….

    MONGGO DI CERNA SENDIRI…..

    • @ndas watu: Bandara blimbingsari tdk bisa jadi solusi atas lamanya jarak tempuh Surabaya – Jember. Mengurangi setengah waktu perjalanan ke Surabaya bagaimana? Coba anda lihat komentar dari Agus!! Dari Jember ke blimbingsari anggaplah 2,5 jam, itupun kalo gak jalan merayap di gumitir(bisa2 sampe’ 3 jam kalo kena macet). Trus naik pesawak ke Juanda stngah jam, jadi total 3 jam. Kan lebih baik naik travel/monil langsung ke Surabaya sama2 3 jam. Bandara blimbingsari tdk bisa menjangkau daerah Jember. Buktinya, saya berikan contoh. Dari bulan november 2013 – februari 2014, Universitas Jember dikunjungi oleh pejabat2 negara spt. Dahlan Iskan, Hatta Radjasa, Marzukie Ali, dan Wiranto – Hari Tanu. Dari beberapa pejabat yg datang tersebut tdk ada yg menggunakan bandara Blimbingsari terbang dari Juanda utk menuju Jember. Mereka dari Juanda langsung naik mobil ke Jember. Bukti lainnya, saya tdk pernah mendengar ada pejabat/dosen PTN di Jember yg melakukan kunjungan ke luar provinsi/ke luar negeri atau PTN di Jember menerima kunjungan tamu dari luar negeri menggunakan bandara Blimbingsari utk menuju/dari Juanda. Mereka smua naik mobil utk menuju/dari Juanda karena memang dirasa lebih cepat dan efisien serta lebih murah. Dan juga pada promosi JFC pada bagian “How Go To Jember”, disitu dijelaskan bahwa cara menuju Jember dari Jakarata adalah dgn cara naik pesawat dulu ke Surabaya, lalu dari Surabaya ke Jember naik bis, bukan dari Surabaya naik pesawat ke Blimbingsari lalu naik bis ke Jember..! Dan yg menyelenggarakan JFC itu kan pemkab Jember, termasuk yg menjelaskan cara pergi menuju Jember, berarti pemkab Jember pun mengakui bahwa bandara Blimbingsari tidak bisa menjangkau wilayah Jember.

      Utk soal jumlah warga miskin yg meningkat di Jember, menurut saya itu hanya masalah kesnjangan social. Jgn hanya liat warga miskinnya doang, tpi juga liat warga kelas menengah atasnya… Yg butuh bandara kan warga kelas menengah atas kan? Iya apa nggak?? Contohnya saja spt di Jakarta. Di Jakarta spt kita tahu, disana sangat banyak warga miskin yg hidupnya terlantar. Tapi tetap saja berbagai infrastruktur transportasi dibangun sperti proyek jalan tol, jalan layang, monorail, dan busway yg menelan dan triliyunan rupiah yg tujuannya juga utk kenyamanan transportasi di Jakarta yg diperuntukkan bagi warga kelas menengah atas di Jakarta. Knp anda tdk berpikir dana triliyunan rupiah itu disodaqohkan saja utk rakyat miskin di Jakarta??? Lantas, apa warga miskin di Jakarata tetap ditelantarkan?? Jawabnya ya tidak… Tetap saja ada usaha utk mengentaskan kemiskinan walau kenyatanya berjalan lambat. Itu membuktikan bahwa pemerintah tdk boleh hanya memikirkan satu permasalahan saja sementara menelantarkan masalah lainnya, kan di tiap daerah ada dinas terkait yg menangani tiap permasalahan daerah setempat. Misal, dalam permasalahan ini yg menangani masalah kemiskinan adalah dinas sosial, sedangkan yg menangani pembukaan kembali bandara adalah dinas perhubungan.

      Saya setuju dgn koment dari Saudara Leo yg ada di artikel ini:
      http://bappeda.jatimprov.go.id/2014/01/30/bandar-udara-notohadinegoro-jember-april-dioperasikan/
      Ini saya kasih link web, monggo dibaca…!!!
      http://www.titik0km.com/jember-layak-jadi-tujuan-investasi.html
      http://www.beritajatim.com/detailnews.php/1/Ekonomi/2012-11-14/152552/Tarik_Investor,_Bandara_Jember_Kembali_Dibangun
      http://www.beritajatim.com/detailnews.php/1/Ekonomi/2012-11-14/152632/Perpanjangan_Runway_Jawab_Keinginan_Merpati

      Terima Kasih…!!!

  17. @Ananda: setahu saya mereka sering go to banyuwangi via bandara blimbingsari tiap tiga bulan sekali..,

    gimana dengan ananda sudah siap ke sby naik pesawat dari jember atau sbaliknya?!

    • @Arief: Siap, karena di daerah Jember banyak dihuni oleh pendatang yg mana pendatang tsb dalam kurun waktu beberapa bulan akan pulang kampung tdk hanya ke daerah jatim saja, tapi jg cukup banyak pendatang yg berasal dari luar jatim. Seperti yg kita tau bahwa Jember merupakan kota pendatang/imigran yg artinya daerah Jember tdk memiliki penduduk yg benar2 penduduk asli yg menyebabkan kab. Jember tdk memiliki budaya daerah lokal spt kabupaten/daerah lainnya. Selain itu Jember merupakan salah satu kota penting di Jawa Timur karena merupakan kota pendidikan ke -3 di jatim setelah Malang dan Surabaya, dan pusat regional jawa timur wilayah tapal kuda (bukannya saya niat menyombongkan kota Jember, tapi memang kenyataanya seperti itu). Terima kasih..

  18. @Arief: Siap, karena di daerah Jember banyak dihuni oleh pendatang yg mana pendatang tsb dalam kurun waktu beberapa bulan akan pulang kampung tdk hanya ke daerah jatim saja, tapi jg cukup banyak pendatang yg berasal dari luar jatim. Seperti yg kita tau bahwa Jember merupakan kota pendatang/imigran yg artinya daerah Jember tdk memiliki penduduk yg benar2 penduduk asli yg menyebabkan kab. Jember tdk memiliki budaya daerah lokal spt kabupaten/daerah lainnya. Selain itu Jember merupakan salah satu kota penting di Jawa Timur karena merupakan kota pendidikan ke -3 di jatim setelah Malang dan Surabaya, dan pusat regional jawa timur wilayah tapal kuda (bukannya saya niat menyombongkan kota Jember, tapi memang kenyataanya seperti itu).

  19. @Ananda: trus dgn keterangan dari kuro di atas,
    yg anda bahas terlalu berlebihan,
    terlalu memaksa kata ter segala2nya.
    Oke lah bila jember mampu silahkan tunjukan pada seantero nusa.

  20. @Arief: Saya tdk mengatakan Jember adalah yg “ter” segala2nya..!! Mana buktinya kalo saya mengatakan Jember yg ter segala2nya?? Saya hanya mengatakan di koment saya yg diatas bahwa Jember adalah salah satu kota penting di jawa timur, dan bukan kota terpenting di jawa timur..!! Masih ada kota2 lain yg juga merupakan kota penting di jawa timur contohnya Madiun, Kediri, Pasuruan, Banyuwangi, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto. Dan ada kota yg lebih penting dari Jember di jawa timur yaitu Malang dan Surabaya.
    Utk koment dari kuro, sebenarnya antara masalah kemiskinan dgn pengoperasian kembali bandara harus sama2 dipentingkan, karena jika hanya mementingkan pengentasan meningkatnya warga miskin di Jember, sementara urusan pengoperasian kembali bandara diabaikan, maka pemkab Jember akan semakin merugi karena semakin lama suatu infrastruktur tdk digunakan alias terbengkalai, maka infrastruktur tsb akan semakin rusak. Dan yg rugi dari rusaknya infrastruktur (dalam hal ini bandara Jember) tdk hanya pemerintah kabupaten, tapi jg pemerintah pusat.

  21. sudahlah kita lihat faktanya aja,kan sudah dibahas pada topik diatas,mungkin saat ini jember masih berbenah dan ingin berubah menjadi lebih baik,lan kanggo lare” osing banyuwangi rungokeno ikai “myane weh wong liyo ngomong paran nang NAGARI OSING,hang penting riko ttepno baen byakti lan welas kanggo bumi blambangan ikai,myane wong liyo kang ndeleng lan kang nilai..endi kang apik,ngerti dewek wess!!!

  22. @ananda,trimakasih sudah menyebutkan banyuwangi masuk kedalam salah satu kota terpenting di Jawa Timur,,saya mau bicara sedikit dan akan menyinggung masalah transportasi juga,coba kalo ga ada pelabuhan penyebrangan ketapang,,orang dari pulau jawa mau masuk ke bali lewat mana???
    masak harus lewat udara semua sedangkan kita tahu tiket untuk sekali perjalanan udara itu dapat dikatakan tidak murah,sedangkan taraf ekonomi org indonesia berbeda”..jelas ga mungkin kan??? ,kalo lewat jembatan?? emmmmm..kyknya ga mungkin juga,kan belum ada,tapi kalo seumpama ada,bakalan keren banget ya,pasti tmbh jadi salah satu kota trpnting juga,,berarti kan sudah membuktikan kalo banyuwangi memang salah satu kota terpenting di jawa timur,trimakasih buat ananda :-)

    maaf diluar topik..just info aje..

    • @rizki alfiano: Sama2. :) Jujur saja walaupun di koment2 saya memperjuangkan agar Bandara Notohadinegoro dibuka kembali dan tdk setuju jika orang Jember yg ingin naik pesawat ke Surabaya harus naik dari bandara Blimbingsari, namun komentar saya tetap harus obyektif dengan menyebutkan bahwa Banyuwangi memang salah satu kota penting di Jawa timur. (y)

    • @rizki alfiano: Sama2.. :) Jujur saja walaupun di koment2 saya memperjuangkan agar Bandara Notohadinegoro dibuka kembali dan tdk setuju jika orang Jember yg ingin naik pesawat ke Surabaya harus naik dari bandara Blimbingsari, namun komentar saya tetap harus obyektif dengan menyebutkan bahwa Banyuwangi memang salah satu kota penting di Jawa timur. (y)

  23. @ananda+titan satria

    podo” dulor heng usah katik engkel”an,jember – bwi kadung ngomongkaen potensi daerah dewek dewek heng onok marine,,myane pemerintah baen hg brtndak,riko lan isun podo rakyat bisone mung gedigi..debat heng jelas,,podo baen pmrintah heng ngrungokaen,,,

  24. Kok jika saya amati komen2 di atas, kebanyakan yang tidak setuju atas pembukaan kembali Bandara Jember sepertinya orang2 Banyuwangi, ada apa gerangan nih ?? Bukanya Jember dan Banyuwangi adalah beda Kabupaten. Jika Jember mau membuka kembali Bandaranya untuk kepentingan orang-orang Jember kenapa orang-orang Banyuwangi pada ngeributin dan mencampuri urusan daerah lain ??

    • @Acco Laros: Saya setuju dgn komentar anda. Begini, memang Jember dan Banyuwangi adalah 2 kabupaten yang selalu bersaing utk menjadi kota terpenting di wilayah tapal kuda. Itu sebabnya pada koment2 diatas yg tdk setuju dgn pembukaan kembali bandara Jember adalah orang2 Banyuwangi, karena mungkin mereka takut kemajuan Banyuwangi yg baru sedang berjalan tersaingi kembali oleh Jember yg memang telah lama menjadi pusat regional di wilayah jawa timur bagian timur.

  25. @Ananda: kalau menurut penilaian saya,tak ada yg salah bersaing tuk kemajuan daerah.
    Tp kalau kamu menilai banyuwangi takut kalah saing juga buat apa ?
    Terus jember itu siapa ?
    sejarah lama banyuwangi sudah mengalami kejayaanya jember itu baru sak util sudah songong.,.
    Cak..cak..de’rema

    • @Arief: Dalam hal sejarah kerajaan, memang wajar Banyuwangi maju terlebih dahulu, sedangkan Jember awalnya hanyalah hutan dan tanah kosong yg kemudian didatangi oleh para pendatang karena melihat potensi perkebunannya yg besar. Tapi anda harus mengakui kalo yg lebih dulu punya PTN dan pusat2 bisnis adalah Jember dibanding Banyuwangi.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2014. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim