Wagub : Ujian Nasional di Jatim Berlangsung Lancar

Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Saifullah Yusuf, menilai pelaksanaan UN pada tahun ini lebih lancar dibandingkan dengan pelaksanaan sebelumnya, menyusul sistem pelaksanaan UN yang baru.

Secara umum pelaksanaan Ujian nasional (UN) untuk tingkat SMA/MA/SMALB/SMK di Jawa Timur (Jatim), Senin, berlangsung lancar.

Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Saifullah Yusuf, menilai pelaksanaan UN pada tahun ini lebih lancar dibandingkan dengan pelaksanaan sebelumnya, menyusul sistem pelaksanaan UN yang baru.

“Saat ini sistem pelaksaan ujian nasional sudah cukup bagus karena penggunaan soal menggunakan sistem acak, sehingga kemampuan para siswa bisa lebih baik,” katanya saat melakukan inspeksi mendadak di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1, Sidoarjo. Ia mengemukakan, selain soal acak, setiap sekolah juga diberikan kesempatan untuk memberikan kontribusi sebesar 40 persen untuk kelulusan siswa.

“Dengan demikian, kemungkinan kelulusan siswa diharapkan ada peningkatan dibandingkan dengan periode sebelumnya, dan syukur-syukur seluruh siswa di Jatim tahun ini bisa lulus semua,” ucapnya, berharap.

Ia juga mengakui jika hingga hari “H”, pelaksanaan ujian nasional ada beberapa persoalan, seperti tertukarnya soal.

Dari laporan yang masuk, di salah satu SMA di kawasan Tulangan, Sidoarjo, terjadi permaslahan yakni soal Bahasa Indonesia yang tertukar dengan soal Bahasa Inggris.
“Tetapi persoalan itu sudah bisa diatasi karena kasus tertukarnya soal itu hanya terjadi pada satu bendel yang berisi 20 soal saja,” tuturnya.

Menurut dia, sempat terjadi keterlambatan pengiriman soal di daerah, tapi sudah bisa diselesaikan.

“Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak dan masalah tersebut sudah bisa diselesaikan,” katanya.

Di Jawa Timur saat ini terdapat 1.541.683 total peserta yang mengikuti ujian nasional dengan rincian siswa Sekolah Dasar atau sederajat sebanyak 633.184 peserta, siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau sederajat sebanyak 550.355 peserta dan sisanya siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

Mereka semua akan melaksanakan ujian nasional di 35.329 lembaga penyelenggara ujian nasional di Jawa Timur.
Pada Senin ini, sebanyak 356.545 pelajar SMA/MA/SMALB/SMK se-Jawa Timur mengikuti UN hingga Kamis (21/4).

“Untuk tingkat SMA/MA/SMALB ada 205.234 siswa yang mengikuti UN, sedangkan untuk tingkat SMK berjumlah 151.311 siswa,” kata Koordinator Penyelenggara UN Jatim Prof Dr H Muchlas Samani MPd di Surabaya.

Menurut Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu, ratusan ribu pelajar SMA se-Jatim itu mengikuti UN pada 2.825 sekolah penyelenggara yakni 1.032 SMA/SMALB, 945 MA, dan 848 SMK.

“Untuk pelaksanaan UN itu, kami menyiapkan 2.825 pengawas dari kalangan Perguruan Tinggi Negeri (PT) di Jawa Timur yang dikoordinasikan oleh sembilan PT Negeri (PTN),” tuturnya. Ke-sembilan PTN adalah ITS, Unair, Unesa, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Negeri Malang, UIN Malang, Universitas Jember, dan Universitas Trunojoyo Madura. ITS mengawasi UN di Surabaya, Sidoarjo, Kabupaten dan Kota Pasuruan, sedangkan Unair mengawasi UN di Gresik, Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban.
“Unesa sendiri akan mengawasi UN di Kabupaten dan Kota Mojokerto, Jombang, dan Nganjuk, sedangkan IAIN Sunan Ampel Surabaya mengawasi UN di Kabupaten dan Kota Probolinggo serta Lumajang,” paparnya.

Universitas Brawijaya (UB) Malang mengawasi UN di Kabupaten dan Kota Malang, Batu, Kabupaten dan Kota Blitar, sedangkan Universitas Negeri Malang mengawasi UN di Kabupaten dan Kota Kediri, Tulungagung, Trenggalek, dan Pacitan.

UIN Malik Ibrahim Malang mengawasi UN di Kabupaten/Kota Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo, sedangkan Universitas Jember mengawasi UN di Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Universitas Trunojoyo (Unijoyo) mengawasi UN di seluruh Madura.

UN untuk siswa SMA akan dimulai 18-21 April, sedangkan SMK pada 18-20 April. UN untuk SMP dilakukan pada 25-28 April dan untuk UN SD dihelat pada 10-12 Mei mendatang. Ujian susulan dilakukan satu minggu setelah ujian pertama.

“Jenis soal tidak menggunakan kode A, B, C, D, dan E, namun menggunakan kode tertentu. Kode soal dibagi menjadi P12, P25, P39, P46, P54 untuk ujian utama, sedangkan untuk UN susulan mengunakan kode P63 dan P78,” paparnya.

Sementara soal cadangan menggunakan kode P91. “Soal pun nantinya akan dibagikan secara acak kepada siswa, sehingga kecil kemungkinan siswa memperoleh kode yang sama pada UN hari selanjutnya untuk mencegah kebocoran soal,” ujarnya.

Hari pertama UN (18/4) untuk ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia dan bidang studi (Biologi/IPA, Sosiologi/IPS, Sastra Indonesia/Bahasa, dan Fikih/Keagamaan).
Pada hari kedua (19/4) mata pelajaran Matematika, sedangkan hari ketiga (20/4) untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan bidang studi (Kimia/IPA, Geografi/IPS, Antropologi/Bahasa, Hadis/Keagamaan). Hari ketiga (20/4) untuk mata pelajaran bidang studi (Fisika/IPA, Ekonomi/IPS, Bahasa Asing/Bahasa, Tafsir/Keagamaan).

“Untuk SMK hanya tiga hari yakni hari pertama untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, hari kedua untuk Matematika, dan hari ketiga untuk Bahasa Inggris, tapi mereka ada ujian kompetensi keahlian,” katanya.

Sementara dari Pamekasan dilaporkan, Dinas Pendidikan setempat menyatakan, UN berlangsung lancar dan sesuai dengan harapan.

Ketua Panitia Penyelenggara Teknis Kegiatan Ujian Nasional (PPTK UN) Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan, Slamet Gustiantoko, menyatakan, hasil pantauan sementara yang dilakukan panitia di sejumlah lembaga pendidikan penyelenggaran UN tidak ditemukan masalah.
“Tidak ada masalah, laporang masing-masing sekolah penyelenggara UN dan tim pemantau hingga pukul 10.30 WIB siang ini lancar,” kata Slamet Gustiantoko, menjelaskan.

Soal UN kepada masing-masing peserta UN yang tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Pamekasan, juga sesuai dan tidak ada yang kurang maupun tertukar.

“Jumlah soal UN yang didistribusikan kepada siswa juga sesuai, sehingga tidak ada kendala yang berarti yang bisa menghambat pelaksanaan UN,” ucapnya. Kendatipun demikian, Disdik tetap meningkatkan kewaspadaan dengan cara memperketat pengawasan di masing-masing sekolah penyelenggara dan ruang kelas.

Kursi roda Di Kabupaten Jember, seorang siswa yang bernama Margaretha Nur Safitri, mengikuti UN dengan menggunakan sebuah kursi roda di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Trunojoyo.

Ibu dari Margaretha, Siti Romlah, mengatakan, anaknya mengalami kecelakaan saat berangkat ke sekolah pada 21 Maret 2011, sehingga harus menggunakan kursi roda untuk mengerjakan UN.

“Anak saya tetap semangat untuk mengikuti UN di sekolah, pascamenjalani operasi di Rumah Sakit Jember Klinik beberapa hari lalu,” tuturnya.

Margaretha sempat menjalani rawat inap beberapa hari di rumah sakit, sehingga tidak bisa mengikuti uji coba (“try out”) UN di sekolah. “Meski kondisinya sakit, anak saya tetap belajar dengan rajin di rumah,” ucapnya, menjelaskan.

Ia menuturkan, pihak keluarga memberikan motivasi yang tinggi kepada Margaretha agar mengikuti UN dengan sebaik-baiknya, supaya lulus ujian.

Secara terpisah, Kepala SMK Trunojoyo, Heru Triatmojo mengemukakan, Margaretha memiliki semangat yang tinggi untuk mengikuti UN, meski ia harus mengerjakan UN di atas kursi roda.

“Sebenarnya pihak sekolah menawarkan untuk ikut UN susulan, namun siswi jurusan akuntansi itu menolak dan ingin mengikuti UN bersama teman-temannya yang lain,” tuturnya.

Pihak sekolah, lanjut dia, meminta Margaretha untuk sementara waktu tinggal di rumah saudaranya yang berada di kawasan kota selama UN karena lokasi rumahnya terletak jauh di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.

“Kami khawatir dia terlalu capek menempuh perjalanan jauh dari rumah menuju ke sekolah karena kondisi sakit, sehingga konsentrasinya untuk mengikuti UN berkurang,” paparnya.

Jumlah siswa yang mengikuti UN SMA, SMA Luar Biasa, dan MA di Jember sebanyak 10.098 siswa, sedangkan peserta UN SMK sebanyak 6.786 siswa.

Dari Kota Pahlawan, Surabaya, sebanyak 19 siswa kelas XII yang menderita tuna rungu mengalami kesulitan menulis identitas di Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN). Seperti yang terlihat di Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Sebanyak 19 siswa mengikuti UN untuk hari pertama untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Menurut Kepala SMALB Karya Mulia, Slamet Riyanto, kesulitan yang dialami karena para siswa belum pernah diajarkan cara mengerjakan di LJUN, terutama pada kolom identitas.

“Kesulitannya pertama kali di kolom nama dan nomor. Tapi untuk pengerjaan jawaban sudah bisa. Ini karena pengisian nama dan nomor diisi di awal, jadi mereka belum terbiasa,” ujarnya.

Untuk mengantisipasinya, dua pengawas yang menjaga di satu ruangan melakukan pendampingan dan pengoreksian dalam kolom identitas. Ini untuk memastikan bahwa nama dan nomor tidak keliru.
Selain itu, lanjut Slamet, di sekolahnya baru kali ini LJUN menggunakan sistem komputerisasi. Pasalnya, pada tahun-tahun sebelumnya hanya memakai manual atau memberi tanda silang di lembar jawaban.

“Mulai tahun ini sudah menggunakan sistem komputerisasi. Dinas Pendidikan sudah menyosialisasikannya kok, kemudian kami teruskan ke siswa. Tapi karena masih hari pertama, mungkin para siswa khawatir dan takut salah,” tukas guru yang sudah mengabdi 35 tahun tersebut.

Sementara, untuk materi soal pada siswa SMALB memang berbeda dengan peserta UN pada umumnya. Hal ini karena disesuaikan dengan kemampuan siswa yang tidak bisa bicara dan sulit mendengar tersebut.

Usai mengerjakan Bahasa Indonesia, untuk hari kedua dan ketiga, para siswa luar biasa ini harus menyelesaikan soal Matematika serta Bahasa Inggris.

Ketika ujian berlangsung, tidak sedikit siswa yang meminta bantuan pengawas dan menanyakan soal yang kurang dimengerti. Dengan sabar para pengawas menjelaskannya, meski harus menggunakan bahasa dan gerakan isyarat. (ant)

Komentar Pembaca

  1. Semoga pelaksanaan Ujian Nasional kedepan selalu lancar. Tentu saja selain pihak sekolah, pemerintah juga harus turut membantu.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim