Anomali Cuaca, Panen Padi di Sumenep Drop 50%

Petani di Desa Gadding Kecamatan Manding saat panen.

Panen padi yang berlangsung April tahun ini membuat para petani  di sejumlah kawasan di Kabupaten Sumenep harus gigit jari. Pasalnya hasil panen menyusut drastis. Tak tanggung-tanggung, penurunan produksi padi bisa mencapai 50%. Penurunan itu disinyalir sebagai dampak dari anomali cuaca.

Satrawi (47), salah satu petani padi di Dusun Somangkaan, Desa Gadding, Kecamatan Manding mengatakan pada tahun ini perolehan panen padi turun drastis dari tahun sebelumnya. Bahkan, penurunan pada masa penen kali ini hingga separo dari tahun sebelumnya.

“Kalau tahun lalu, dalam setiap empat petak sawah memperoleh 12-13 sak, tahun ini hanya dapat  5-6 sak (per sak isi 50 kg, red),”kata Satrawi di sela-sela panen padi di sawahnya, Minggu (17/4). Padahal bibit padi yang dipakai antara tahun sebelumnya dengan tahun ini sama, yaitu ciherang, cibogo dan SP3 sembada. Namun, kata Sastrawi, perolehannya sangat mengecewakan. Jika dibandingkan dengan modal yang telah dikeluarkan, hasil yang didapat impas.

“Padahal bibit yang kami tanam sama. Mungkin ini dampak dari turun hujan yang berkepanjangan dan tak menentu. Saat awal masa tanam padi terjadi kurang air, tapi setelah hampir panen malah turun hujan terus menerus,”keluhnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Disperta) Kabupaten Sumenep, Bambang Heriyanto membenarkan terjadinya penurunan panen padi di  Kabupaten Sumenep.

Menurunnya perolehan para petani padi itu diduga kuat karena cuaca ekstrim atau anomali cuaca.

“Dalam cuaca ekstrim seperti tahun ini, seharusnya para petani menanam bibit yang lebih kuat terhadap cuaca ekstrim seperti impare. Selain tahan terhadap kelembaban tinggi, tanah penyakit, juga masa panennya lebih pendek yaitu hanya 95 hari panen. Kalau bibit ciherang mencapai 110 hari panen,”jelasnya.

Bambang berharap pada masa yang akan datang, petani lebih melihat cuaca sebelum menanam padi. Tapi ia menekankan,  bibit padi yang dipakai oleh mayoritas petani Sumenep kali ini kurang pas untuk ditanam kembali sehingga ada kemungkinan perolehan panen padi cenderung menurun.

“Kami lebih menekankan agar para petani menanam bibit impare yang lebih kuat terhadap penyakit dan masa panennya lebih cepat. Untuk memperoleh bibit itu kami sudah sediakan di beberapa kelompok tani se-Kabupaten Sumenep,”ujarnya. (sul/bhi)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim