20 Persen Investor Asing Lari

Suarabaya Industrial Estate: rizkipain.blogspot.com

Buruknya infrastruktur, khususnya jalan raya serta minimnya tenaga kerja terampil membuat investor alergi masuk Jawa Timur. Bahkan, menurut Bank Dunia sekitar 20% investor asing tahun ini sudah hengkang dari Jatim.

“Secara total di Jatim, data Bank Dunia itu memang benar. Tidak hanya infrastruktur, tapi ketersediaan listrik juga menjadi faktor penghambat,” ujar Direktur Pengembangan dan Pemasaran, PT Surabaya Industrial Estate Rungkut-Pasuruan Industrial Estate Rembang (PT SIER-PIER), Yoke Chandra Kanton saat dihubungi Selasa (12/4).

Menurut catatan Surabaya Post, berdasarkan data Badan Penanaman Modal Jatim tren penurunan investasi di Jatim mulai tampak sejak dua tahun lalu dengan rata-rata anjlok 10% per tahun. Pada tahun 2009 lalu, hanya ada 114 perusahaan yang masuk ke Jatim. Sebanyak 84 perusahaan dari Penanam Modal Asing (PMA) dan 30 perusahaan dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Jumlah tersebut lebih rendah dari realisasi investasi yang masuk Jatim di tahun 2008 sebanyak 93 PMA dengan total investasi sebesar 2,58 miliar dollar AS dan 35 PMDN dengan total investasi sebesar Rp 19,93 triliun. Sedangkan pada 2008 jumlah investasi PMA mencapai 93 projek, dan PMDN mencapai 35 proyek.

Sementara di 2010, data terakhir per September investasi di Jatim sudah mencapai Rp 45,21 triliun. Nilai tersebut dalam bentuk 121 proyek masing-masing 56 proyek PMA dan 65 PMDN.

Sebelumnya, Lead Economist Bank Dunia, Shubham Chauhuri mengatakan Provinsi Jatim harus segera berbenah agar tidak ditinggal pergi investor.

“Ya, sekitar 20% investor asing sudah cabut dari Jatim. hal ini dikarenakan masih kurangnya sarana infrastruktur, kualitas tenaga kerja terampil dan birokrasi terutama masalah perizinan yang membuat investor cabut,” katanyadi Kantor Bappeda Jatim, Senin (11/4).

Rata-rata investor yang lari dari Jatim bergerak pada sektor manufaktur dengan produk yang rentan rusak, seperti makanan-minuman.

Investor asing pada umumnya mengeluh terhambatnya jalur pengangkutan barang mulai dari pabrik mereka sampai ke kapal, bandara atau konsumen di kabupaten/kota lain. Buntutnya, produk mereka keburu tak fresh lagi di tangan konsumen. “Jalan antar-kabupaten yang kualitasnya buruk, rendahnya efisiensi pengoperasian pelabuhan, dan pasokan listrik untuk usaha yang masih sering mati dan nyala, membuat investor jengah dengan keadaan ini,” ujarnya.

Bank Dunia juga menilai, sektor pertanian masih cukup besar di Jatim namun produktivitasnya masih minim. Apalagi tenaga kerja di sektor pertanian 52% masih tergolong berpendidikan rendah yakni rata-rata masih lulusan Sekolah Dasar (SD) serta berusia tua rata-rata 40 tahun.

Bank Dunia menyarankan kepada Pemerintah Daerah Jatim segera bergerak cepat menyelesaikan hambatan ini, karena dampaknya tidak hanya semakin banyaknya investor yang cabut, tetapi akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Jatim.

Dikatakan Shubham, selain itu Pemprov Jatim juga harus menyediakan akses kredit yang lebih luas bagi UMKM, meningkatkan pasokan listrik, merevitalisasi sektor pertanian.

Kalangan pengusaha Jatim pun tidak menampik data tersebut. Masalah infrastruktur, kualitas tenaga kerja yang masih rendah dan sistem birokrasi yang berbelit-belit, masih menjadi kendala utama pengusaha lokal maupun investor asing.

“Jalan di Jatim bisa dibilang masih buruk, apalagi kasus terbaru dimana di titik-titik jalan Pantai Utara (Pantura) macet total akibat banjir, ini tentunya membuat pengusaha mengalami kerugian besar,” kata Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jatim, Anton Subagianto.

Kondisi inilah yang membuat investor asing keluar ke daerah lain bahkan pindah ke negara lain seperti Thailand dan India. “Tentu ini sangat merugikan baik bagi daerah maupun negara, pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi, kalau pertumbuhan ekonominya terus turun, bukan tidak mungikin investor malas masuk ke Indonesia,” tandasnya.

Namun, menurut Yoke Chandra Kanton, SIER dan PIER masih diminati. “Kalau di SIER ada sekitar 10 investor yang antre, tetapi masalahnya kawasan SIER sudah penuh. Sementara di kawasan PIER investor yang sudah berminat cukup banyak juga. Pastinya berapa belum diketahui yang jelas lebih dari 20 investor, baik itu dari China, Malaysia, Thaliland dan Jepang,” katanya. SP

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim