Banjir Hambat Distribusi Hasil Bumi

ilustrasi: hileud.com

Banjir di jalur pantai utara di Pasuruan, Jawa Timur, sepekan ini menyebabkan distribusi hasil bumi dari Banyuwangi ke Surabaya dan kota-kota lainnya terganggu. Biaya transportasi meningkat karena waktu tempuh Surabaya-Banyuwangi molor hingga 7 jam lebih.

Sejumlah pengemudi bus mengatakan, banjir di jalur pantura, tepatnya di Ngopak, Kabupaten Pasuruan, tidak hanya sekali dua kali, tetapi hampir setiap hari pada musim hujan. “Dalam sepekan, banjir bisa terjadi tiga kali lebih. Macet mengular hingga 1 kilometer lebih dan kami harus tertahan di jalan dalam waktu yang lama,” kata Cahyo (40), pengemudi Akas Asri, jurusan Banyuwangi-Madura.

Lamanya kemacetan yang terjadi akibat hujan bisa berlangsung 5 jam lebih, bahkan hingga 7 jam. Kondisi demikian merugikan para pengemudi dan pengusaha bus karena mengurangi jumlah penumpang dan mengurangi jadwal istirahat pengemudi. “Jika seharusnya bus bisa mencapai Surabaya dalam jangka waktu 7 jam, kini bisa mencapai 14 jam lebih saat banjir datang,” katanya.

Penumpang pun, tambah Yudi (38), pengemudi lain, enggan menggunakan jasa bus karena waktu tempuh sangat lama. Sebagian dari mereka beralih menggunakan kereta api atau naik kendaraan pribadi.

Kondisi tersebut juga menyulitkan distribusi hasil bumi dari Banyuwangi ke kota-kota lain. Tanaman sayur, seperti cabai, sering kali terlambat dipasarkan. Truk pembawa cabai bahkan harus menunggu 5 jam lebih karena terjebak macet.

“Otomatis masa simpan sayuran berkurang dan harga pun bisa turun,” kata Sumadi (44), pengemudi truk sayuran Banyuwangi-Jember-Surabaya.

Mardianto (24), pengemudi mobil boks, pun mengeluh kematian udang dan ikan segar yang ia bawa dari Banyuwangi bisa mencapai 5 persen lebih. Kematian dan kerusakan ikan akan berpengaruh pada harga di pasaran. Ikan atau udang rusak biasanya hanya dihargai 70 persen dari harga normal.

Lamanya jarak tempuh Banyuwangi dan Surabaya, diakui Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, menjadi salah satu kendala penghambat ekonomi di daerahnya. Sektor pariwisata pun tak berkembang karena waktu tempuh yang panjang.

Sementara ini, untuk angkutan penumpang, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggenjot pengembangan lapangan udara Blimbingsari. Sejumlah maskapai swasta berencana membuka penerbangan dari Banyuwangi ke kota-kota lain. Sejauh ini, jalur udara Banyuwangi telah terhubung dengan Denpasar dan Surabaya.

Untuk jalur darat, Anas mendesak agar jalur ganda kereta api bisa terealisasi. Perbaikan jalur pantura antarkota pun diharap bisa dilakukan secepatnya. KPC

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim