Intensitas Letusan Gunung Bromo Meningkat

Bromo

Erupsi Gunung Bromo

Intensitas letusan Gunung Bromo hingga siang ini, Rabu (9/3), dilaporkan mengalami peningkatan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo dari Pos Pemantau Gunung Bromo di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, tercatat 61 kali erupsi minor dengan ketinggian kolom asap letusan antara 400 meter hingga 800 meter di atas bibir kawah.

Data Pos Penagamatan Gunung Bromo menyebutkan, berdasarkan pengamatan kegempaan antara pukul 00.00 WIB -06.00 WIB, terjadi letusan minor sebanyak 27 kali. Kemudian meningkat menjadi 34 kali antara pukul 06.00 WIB-12.00 WIB.

Asap yang keluar dari kawah gunung dengan ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut itu berwarna kecoklatan tebal yang mengarah ke Timur dan Timur Laut.

Sesekali material pijar menyertai letusan yang terlontar dari kawah dan jatuh di sekitar kaldera. Suara gemuruh dan disertai dentuman juga masih terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Bromo.

Kendati mengalami peningkatan intensitas erupsi, hingga saat ini status Gunung Bromo masih tetap pada level Siaga. Rekomendasi yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung juga masih tetap, yakni pada radius dua kilometer dari pusat letusan harus steril dari aktifitas manusia.

Sementara itu, Kepala Desa Ngadirejo Kembar Sanyoto siang ini mengatakan, desa dengan jumlah penduduk sekitar 1.424 jiwa masih tetap menjadi daerah terdampak erupsi Gunung Bromo. Jalan desa serta di gang-gang kampung siaga bencana ini tertutup pasir. “Ketebalan pasir yang menutupi jalan hingga 60 centimeter,” katanya.

Menurut Kembar, warganya membutuhkan bantuan peralatan berat dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo untuk membersihkan jalan dari tumpukan pasir. “Sudah susah untuk dilewati kendaraan. Perlu alat berat untuk mengeruk pasir dan menepikannya ke pinggir jalan,” ujar Kembar.

Warga desa, lanjut Kembar, saat ini terus disibukkan dengan kegiatan membersihkan atap rumah mereka dari tumpukan pasir. “Kalau tidak dibersihkan, atap rumah bisa ambrol karena tak kuat menahan beban material vulkanik,” paparnya.

Kembar juga mengatakan, Desa Ngadirejo merupakan desa yang paling parah terkena dampak letusan Gunung Bromo.

Tercatat ada 121 rumah rusak ringan hingga berat. Sebagian rumah sudah mulai diperbaiki. “Bagi warga yang memiliki tabungan, rumahnya segera diperbaiki. Namun bagi yang tidak memiliki uang, masih menunggu bantuan,” tuturya.

Hingga saat ini, lanjut Kembar, belum ada laporan bahwa bantuan untuk perbaikan rumah dari pemerintah akan turun. “Data kerusakan sudah kami kirim,” katanya.

(David Priyasidharta/Tempo Interaktif)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim