BPPKB Jatim Beri Pelatihan 160 Janda

Ibu-ibu serius menyimak materi praktik yang disampaikan Afi, instruktur pelatihan garnis yang khusus dihadirkan dari luar balai pelatihan.

Beberapa ibu paruh baya dan sebagian lainnya masih terlihat muda berdiri  mengelilingi meja yang berbentuk persegi panjang. Sorot mata berbinar  dipenuhi rasa ingin tahu tertuju pada sosok laki-laki yang berdiri di ujung meja.

Sosok yang pagi itu tengah menjadi perhatian, seolah tidak memedulikan tatapan penuh harap  para ibu-ibu tersebut. Kedua tangannya terlihat asyik mengeluarkan pisau dari sarungnya untuk selanjutnya ditata berjejer rapi di meja.

“Ibu-ibu, sebelum praktik garnis ( menghias sayur dan buah, red) dimulai, saya perkenalkan jenis dan karakteristik pisau yang akan digunakan,” suara penuh keakraban meluncur dari mulut Afi laki-laki berkemeja putih yang pagi itu menjadi instruktur pelatihan.

Yah, pagi itu adalah sesi praktik dari rangkaian kegiatan pelatihan yang diperuntukkan bagi perempuan kepala keluarga (janda, red) yang digelar Badan pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Provinsi Jatim. Sebanyak 20 ibu-ibu yang berasal dari Kota Malang pagi itu mengikuti sesi materi menghias sayur dan buah.

Instruktur yang enggan menyebut nama lengkapnya ini dengan penuh kesabaran mengajari ibu-ibu berbagai ketrampilan menghias sayuran dan buah. Mulai dari menyulap kulit tomat menjadi bunga mawar, hingga membuat irisan buah wortel menjadi menarik yang bisa membangkitkan selera makan.

“Hati-hati menggerakkan pisau, jaga kedalaman pisau dan ketebalan kulitnya,” sarannya sambil melihat satu per satu aksi ibu-ibu yang sedang menggoreskan ujung pisau pada buah tomat ditangannya.

Salah satu peserta Agus Sulistyaningsih atau biasa panggil Bu Lis terlihat begitu bersemangat menyimak paparan yang disampaikan instruktur sambil sesekali mengajukan pertanyaan bila ada hal yang belum tahu.

“Tiap hari, khususnya saat praktik selalu ada hal-hal baru yang diberikan instruktur,” jelas Bu Lis saat dimintai pendapat soal pelatihan yang diikuti. Hal – hal baru tersebut menurut ibu yang belum setahun menjanda ini bisa menambah bekal ilmu menekuni bisnis kecil-kecilan berupa catering khusus makanan arab yang kini dikelolanya.

Kasie Pelatihan dan Sertifikasi UPT Pelatihan Kerja Pertanian dan  Pengembangan Tenaga Kerja Luar Negeri (PTKLN) Wonojati Kabupaten Malang, Sudjarwo yang ikut menyaksikan sesi praktik tersebut menjelaskan selain menggunakan instruktur yang internal yang dimiliki Balai Pelatihan, pihaknya juga sesekali mengundang instruktur  tamu dari kalangan profesional. Harapannya agar materi yang disampaikan dalam pelatihan selalu up to date dan memberi hal baru bagi peserta.

“Khusus materi garnis hari ini, kami memang mengundang instruktur dari luar. Karena materi ini memang membutuhkan kreativitas dan inovasi baru,” jelas Sudjarwo yang mengaku baru saja menerima surat pemberitahuan pensiun tersebut. Selain itu, agar pelatihan menjadi dinamis dan tidak membosankan, porsi praktiknya juga lebih besar yakni 80 persen untuk praktik dan 20 persen teori.

Kepada Bhirawa Sudjarwo mengungkapkan pihaknya kini memiliki 27 instruktur yang terbagi dalam beberapa bidang keahlian seperti bidang pertanian, perikanan, peternakan, mekanisasi pertanian dan pengolahan hasil pertanian.

Salah satu lulusan pelatihan gelombang pertama dari Kabupaten Malang yang kebetulan hadir saat itu yakni Nunuk Setyaningwati mengaku beruntung bisa mengikuti pelatihan yang diselenggarakan BPPKB Jatim. Lama pelatihan 20 hari tersebut menurut Nunuk dirasakan masih kurang.

“Kami bukan hanya diajari menu-menu baru, tetapi juga ilmu-ilmu soal pengolahan bahan. Pokoknya sesuatu yang bermanfaat bagi ibu-ibu yang bekerja di dapur,” tuturnya saat dimintai kesan selama 20 hari mengikuti pelatihan.

Bahkan meskipun sudah dinyatakan lulus pelatihan dan dapat sertifikat, dirinya dan beberapa teman seangkatan masih menyempatkan hadir ke pelatihan untuk mendapatkan ilmu baru atau sekadar bertanya tentang sesuatu hal pada instruktur yang mengajar. Dirinya berharap agar tahun depan jatah untuk daerah khususnya untuk Kabupaten Malang ditambah.

“Kabupaten Malang yang terdiri dari 33 Kecamatan masak jumlah pesertanya disamakan dengan Kota Malang yang hanya  punya 4 Kecamatan saja,” ungkapnya bernada protes. Selain ilmu dan ketrampilan untuk catering jelas Nunuk, manfaat besar yang didapatkan dari pelatihan adalah  para peserta bisa sekaligus membangun jaringan dengan sesamanya.

“Kami rata-rata mempunyai usaha katering kecil-kecilan. Adanya pelatihan ini membuat kami bersepakat untuk membentuk jejaring katering yang lebih besar lagi,” jelasnya optimis. Misalnya ada anggota yang dapat pesanan katering, maka bisa saling mengajak yang lain untuk melengkapi menunya sesuai keahlian masing-masing. Bahkan dirinya dan teman-teman sudah bertekad untuk membentuk kelompok yang akan membuat usaha catering lebih besar lagi.

Kabid Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB)  Jatim Herawan Ananda menjelaskan program yang kini diselenggarakan tersebut memang dikhususkan untuk ibu-ibu pekerja rumahan dan dikhususkan lagi yang menyandang sebagai perempuan kepala rumah tangga alias berstatus janda. Pada tahun ini jelas Nanda, telah ditetapkan sebanyak 8 Kab/Kota (Kabupaten Malang, Kota Malang, Batu, Nganjuk, Jember, Situbondo, Kabupaten Kediri, Bojonegoro) yang akan mendapatkan pelatihan.  Satu daerah (Kabupaten Malang) sudah dilaksanakan, satu daerah (Kota Malang) saat ini sedang berlangsung dan sisanya akan segera menyusul. Masing-masing daerah mendapat jatah 20 peserta untuk diikutkan pelatihan.

“Materi ketrampilan terserah permintaan daerah yang bersangkutan. Ada yang minta katering, kerajinan batik, bordir, menjahir dan sebagainya,” jelas alumnus Sosiologi Unair Surabaya ini saat meninjau pelatihan yang didampingi Kasubid Peningkatan Kesejahteraan Keluarga Purwani S.

Menurut pejabat penggemar burung ini, diharapkan pada Agustus nanti sebanyak 160 janda dari 8 Kab/Kota di Jatim akan selesai mengikuti pelatihan. Bila program tahun ini berhasil dan sukses, maka tahun depan pihaknya bertekat  bisa memberi pelatihan untuk janda dua kali lipat jumlah dari tahun ini atau sebanyak 320 janda.

Dalam kesempatan tersebut Nanda juga berharap agar daerah setempat (Pemkab/Pemkot) menindaklanjuti apa yang telah dilakukannya.

“Kalau sekiaranya Kab/Kota menyedikan modal kerja bagi mereka yang sudah mengikuti pelatihan tentu akan menjadi lebih baik lagi,” jelasnya penuh harap.  (why)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim