Penggunaan ASI Pamekasan Hanya 28 Persen

ilustrasi: pkhmadiun.blogspot.com

Penggunaan air susu ibu bagi bayi di kalangan ibu di Kabupaten Pamekasan,diperkirakan hanya sekitar 28 persen. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang Gizi Dinas Kesehatan Pamekasan Abd Rahman, Selasa, mengatakan, persentase penggunaan air susu ibu (ASI) ini masih tergolong rendah dan belum memenuhi target persentase minimal yang ditetapkan pemerintah.

“Pemerintah melalui Departemen Kesehatan menetapkan minimal 80 persen. Jadi masih jauh dari target nasional,” katanya.

Abd Rahman mengemukakan ada beberapa alasan para orangtua khususnya ibu enggan memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Salah satunya karena faktor pengetahuan.

Menurut dia, di kalangan masyarakat masih ada anggapan bahwa susu formula masih jauh lebih baik dibandingkan dengan ASI eksklusif. “Padahal tidak seperti itu,” katanya.

Bahkan, kata dia, penggunaan ASI eksklusif justru jauh lebih baik dibandingkan dengan susu formula, dan lebih meningkatkan daya tahan tubuh bayi.

“Salah satu manfaat penggunaan ASI bisa mencegah terjadinya infeksi pada bayi, dan menekan terjadinya kanker payudara,” katanya.

Faktor kedua, kata Abd Rahman, karena promosi. Menurut dia, promosi manfaat dan kegunaan susu formula di sejumlah media, baik cetak maupun elektronik seperti televisi sangat gencar dibandingkan dengan promosi penggunaan ASI.

“Promosi ini sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat kita, sehingga lalu timbul anggapan bahwa susu formula itu lebih baik bagi kesehatan bayi,” katanya.

Sementara, kata dia, promosi yang dilakukan oleh pemerintah sejauh ini masih terbatas melalui penyuluh kesehatan dan para bidan yang ada di desa.

“Kami tidak mempunyai anggaran promosi yang cukup untuk itu. Kalaupun ada promosi di media yang kami lakukan, volumenya kan sangat kecil,” katanya.

Disamping persoalan keterbatasan pengetahuan dan gencarnya promosi, menurut dia yang juga mempengaruhi banyaknya orang tua memilih menggunakan susu formula ialah persoalan gaya hidup.

“Ini sudah berkaitan dengan kelas sosial. Jadi ada anggapan bahwa orang tua yang memberikan ASI pada anaknya hanya terbatas pada kelas ekonomi tidak mampu saja,” katanya.

Dinas Kesehatan, menurut dia akan terus berupaya meningkatkan persentase penggunaan ASI ini dengan melibatkan semua pihak, guna mencapai target persentase minimal yang telah ditetapkan pemerintah pusat.

Salah satunya dengan memberikan penyuluhan secara intensif secara langsung (door to door) kepada masyarakat.
“Memang cara seperti ini lambat, namun pada akhirnya akan tercipta kesadaran kepada masyarakat bahwa ASI itu jauh lebih bermanfaat,” katanya. (bhi)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim