Harga Sapi Jatuh, Disuruh Ternak Kambing

ilustrasi (dok. kompas.com)

Masuknya daging sapi impor membuat harga daging sapi tinggi, tetapi harga hewan sapi lokal jatuh. Peternak sapi Supardi Randegan Desa Soko, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, Kamis, Jawa Timur, (24/2/2011), menuturkan, dari 10 ekor sapi potong yang dipelihara dia merugi sekitar Rp 36 juta.

“Jika nanti harga belum membaik, rencananya sapinya akan dijual dengan banting harga untuk mengembalikan modal di bank. Harga yang sebelumnya Rp 8 juta, kini jatuh Rp 6 juta. Harga sapi yang sebelumnya Rp 10 juta turun menjadi Rp 8 juta. Dari sisi harga, rata-rata saya merugi Rp 1,5 juta per ekor. Itu belum termasuk upah tenaga yang merawat Rp 700.000 per bulan dan biaya pakan,” tutur Supardi.

Hal yang sama dialami peternak sapi di Desa Cermen Lerek, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, Tasrif. Selain rendahnya harga jual sapi, dia juga mengeluhkan sulitnya pakan ternak saat ini. Apalagi wilayah Gresik selatan sering diterjang banjir luapan Kali Lamong sehingga menyulitkan mencari rumput atau hijauan untuk pakan.

Kepala Subdinas Peternakan Kabupaten Gresik, Susanto menyebutkan jumlah populasi sapi 52.600 ekor, kambing 55.000 ekor, domba 30.000 ekor. Peternak sapi di Gresik disarankan memelihara sapi betina agar bisa beranak sambil menunggu harga membaik. Tetapi jika ingin cepat diambil dagingnya lebih baik sapi jantan.

Terpisah, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro membuat program pengentasan kemiskinan dengan gerakan ternak kambing melalui inseminasi buatan (IB) yakni kawin silang kambing lokal dengan sperma beku jenis etawa atau boer. Kepala Dinas Peternakan Bojonegoro, Tukiwan Yusa, menyerahkan mekanisme harga ternak ke pasar.

Tetapi melihat tren harga sapi yang turun Pemkab Bojonegoro membuat program pengentasan kemiskinan dengan beternak kambing. Pemkab Bojonegoro mendorong peternak melakukan penggemukan kambing dan menggalakkan inseminasi buatan (IB).

Awalnya populasi ternak kambing di Bojonegoro pada 2008 mencapai 68.901 ekor kambing kini sekitar 200.000 ekor. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pada 2009 lalu telah menyediakan 7.927 dosis sperma beku dari sasaran yang ditetapkan 10.000 dosis.

Dari 7.927 d osis semen beku membuahi 7.927 ekor kambing betina terdiri dari semen beku kambing jenis boer sebanyak 4.567 dosis dan kambing etawa 3.360 dosis. Penyediaan sperma yang dibekukan itu didanai APBD Bojonegoro sebesar Rp 360 juta.

Pada tahun 2010 disiapkan 69.000 dosis dan terdistribusi 43.000 atau 60 persen. Pengadaan IB itu dibiayai dengan dana dari APBD sebesar Rp l,4 miliar. IB upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas ternak kambing di tengah lesunya harga sapi, katanya.

Seorang peternak Sugianto (45), warga Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro memelihara kambing jenis etawa yang mampu memproduksi susu segar sebanyak 100 liter per hari. Awalnya dia memelihara tiga kambing muda dan enam induk etawa. Kini jumlah kambing yang dipelihara mencapai 57 ekor.

(Sumber: Kompas.com)

Komentar Pembaca

  1. Ass. Mohon maap sebelumnya apabila dalam komentar saya ada kesalahan, kalau boleh saya minta informasinya saya minta alamat atau nomor telpon yang bisa saya hubungi untuk perihal harga sapi siap potong. Saya berkenan untuk memperkenalkan diri saya dan besar harapan untuk bisa berhubungan dengan Bapak/Ibu.
    Informasinya saya tunggu, Wassalamuallaikum wrb.

    Agus,

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2018. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim