Sikapi Antraks, Disnak Jatim Perketat Pintu Perbatasan

Kepala Dinas Peternakan Jatim Ir Suparwoko Adisoemarto, MM (bertopi) saat memantau pos pos penjagaan di perbatasan Jatim dan Jateng untuk mengantisipasi masuknya hewan berpotensi antraks.

Ditemukannya sebelas orang terjangkit penyakit Antraks di Boyolali, Jawa Tengah beberapa waktu lalu membuat Jawa Timur Siaga. Gubernur Jatim Dr Soekarwo Gubernur memberi atensi khusus terhadap kasus ini. Terbukti begitu mendengar kabar tersebut, Gubernur langsung memerintahkan Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Ir Suparwoko Adisoemarto, MM memantau pos-pos penjagaan di perbatasan Jatim dan Jateng.

“Secara khusus Pak Gubernur memerintah kami untuk mewaspadai dan menjaga setiap pintu masuk Jatim,” ungkap Suparwoko, Senin (21/2) kemarin.

Lebih lanjut menurut mantan staf ahli gubernur bidang pembangunan ini, dalam upaya mengantisipasi masuknya penyakit yang dinilai cukup berbahaya ini, Senin (21/2) kemarin pihaknya telah melakukan sidak ke beberapa pos pemeriksaan hewan dan produk pangan asal hewan, antara lain di Bulu-Tuban, Pasar Hewan di Jatirogo, Pos pemeriksaan hewan di Cepu milik Dinas Peternakan Jawa Tengah dan di Padangan milik Dinas Peternakan Bojonegoro, serta di Pos Check Point di Mantingan Ngawi.

Disampaikan oleh Suparwoko, selama sidak di Pos Check Poin Bulu Tuban tidak ditemui adanya sapi /hewan ternak yang melintas dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.  Justru yang banyak sapi jenis sapi Bali, cross Limousin dan Simental dan PO Brahman  yg lewat untuk dibawa ke Jakarta.

Menurut petugas Pos Check Point Mantingan Suedy, SSos bahwa sudah lama tidak ada sapi dari Jateng masuk ke Jatim.

“Kami sudah lama melarang sapi dari Jateng masuk ke Jatim,” ungkapnya. Sikap tegas tersebut diambil merujuk pada surat edaran Bapak Gubernur Jawa Timur No. 524.3/11418/023/2010 tertanggal 31 Agustus 2010 tentang larangan sementara pemasukan hewan dan produk hewan dari daerah tertular antraks.

Kedatangan Suparwoko ke beberapa pos penjagaan kemarin didampingi oleh Kabid Keswan Drh. Emmilya, Kabid Kesmavet Drh Irawan Subianto dan Drh Achmad Kepala Laboratorium Keswan Tuban.

Pada kunjungan ke lapangan Suparwoko Adisoemarto juga meninjau pintu masuk Jateng dan Jatim di Sale (Kebunhardjo) – Jatirogo yang sampai sat ini belum ada pos pemeriksaan, dan rawan terhadap keluar masuknya sapi dari dan ke Jawa Tengah.

Adapun tujuan dilakukan inspeksi mendadak   (sidak) adalah pertama untuk meningkatkan kesiagaan check point terhadap ancaman antraks masuk ke Jawa Timur, kedua memberikan suport petugas agar lebih sigap didalam melakukan pengawasan lalu lintas hewan dan produk hewan dan yang ketiga, meningkatkan sistem pelaporan pada setiap ditemukannya adanya tanda-tanda penyakit antraks di daerah perbatasan, demikian menurut Suparwoko.

Lebih lanjut dikatakan bahwa tindakan sidak ini dilakukan dalam rangka mengantisipasi berita terjadinya kasus penyakit antraks yang menjalar di Boyolali.  Kepada para kepala Dinas Peternakan Kabupaten di wilayah perbatasan Jatim dan Jateng diminta agar meningkatkan pengawasan lebih intensif. (why/bhi)

2 Komentar Pembaca

  1. perda tentang penyakit antraks pd sapi. Tetapi mengapa peternak babi khususnya dr solo, mau mengirimkan babi ke surabaya tdk di perbolehkan. padahal surat kesehatan hewan ternak kita lengkap. sedangkan saat ini banyak peternak babi khususnya jawa tengah, krisis dikarenakan masuknya babi dr Jatim dan pulau bali terus menerus masuk ke jateng. dan jabar. ini sangat tdk adil bagi kami peternak babi mjd imbasnya. seharusnya ada kebijakan dr dinas yg berkait untuk mebebaskan hewan yg lain selain sapi. Mohon dr dinas peternakan Jateng memberikan dukungan bagi peternak jateng utk membuka perdagangan bebas di luar sapi. supaya terjadi keadilan. terima kasih.

  2. perda tentang penyakit antraks pd sapi. Tetapi mengapa peternak babi khususnya dr solo, mau mengirimkan babi ke surabaya tdk di perbolehkan. padahal surat kesehatan hewan ternak kita lengkap. sedangkan saat ini banyak peternak babi khususnya jawa tengah, krisis dikarenakan masuknya babi dr Jatim dan pulau bali terus menerus masuk ke jateng. dan jabar. ini sangat tdk adil bagi kami peternak babi mjd imbasnya. seharusnya ada kebijakan dr dinas yg berkait untuk mebebaskan hewan yg lain selain sapi. Mohon dr dinas peternakan Jateng dan Jatim memberikan dukungan bagi peternak jateng utk membuka perdagangan bebas di luar sapi, khususnya babi. supaya terjadi keadilan. terima kasih.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim