Lahan Pertanian di Kota Malang makin Menyusut

Ilustrasi (www.antarafoto.com)

Lahan pertanian produktif di Kota Malang, Jawa Timur dari tahun ke tahun terus menyusut karena tergerus oleh kawasan industri dan perumahan. Kepala Dinas Pertanian Kota Malang Niniek Suryantini, Sabtu (19/2) mengatakan penyusutan ini rata-rata mencapai 5-6 persen per tahun.

“Rata-rata penyusutannya sekitar 70 hektare sampai 80 hektare per tahun atau mencapai 5-6 persen. Pada 2009 lahan pertanian yang tersisa tidak lebih dari 1.400 hektare,” ujar Niniek menambahkan.

Untuk memastikan luasan lahan pertanian saat ini, katanya, pihaknya akan melakukan survei bersama Badan Pusat statistik (BPS) Kota Malang yang sekaligus sebagai kalendar dua tahunan. Ia mengakui, perkembangan Kota Malang dalam beberapa tahun terakhir ini sangat pesat, terutama untuk industri dan hunian (perumahan). Konsekuensi dari pesatnya perkembangan itu, korbannya adalah menyusutnya lahan pertanian.

Menyinggung upaya dilakukan untuk menekan laju penyusutan dan alih fungsi lahan pertanian tersebut Niniek mengatakan, pihaknya sudah menerbitkan rekomendasi kepada petani agar tidak menjual lahannya kepada pengembang. Selain itu, katanya, pihaknya juga memberikan bantuan dan subsidi pupuk kepada petani agar petani tidak sampai menjual lahannya serta dana sebesar Rp30 juta per tahun kepada kelompok tani.

Hanya saja, lanjutnya, upaya tersebut tidak mampu meredam keinginan petani untuk menjual lahannya kepada pengembang, apalagi dengan iming-iming harga yang cukup tinggi. Sehingga, mereka memilih menjual lahannya ketimbang menekuni dunia pertanian.

Niniek juga mengungkapkan jika saat ini Kota Pendidikan itu hanya mengandalkan produksi pangan dari empat kecamatan saja, yakni Lowokwaru, Kedungkandang, Sukung, dan Blimbing. Sebab, satu kecamatan, yakni Klojen sudah tidak memiliki lahan pertanian sama sekali.

“Satu-satunya harapan kami untuk mengerem laju alih fungsi lahan produktif ini hanya komitmen pemerintah, baik di daerah maupun pusat agar pengalihan pertanian tidak bisa dilakukan dengan mudah, seperti membuat peraturan terkait Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang lebih ketat,” tegasnya.

Pada tahun 2007, lahan pertanian masih mencapai 1.550 hektare, namun hasil survei terakhir dari BPS (2009), luasan lahan pertanian itu menyusut menjadi 1.400 hektare atau berkurang sekitar 150 hektare. (Ant/OL-04)/MICOM

3 Komentar Pembaca

  1. selamat pagi admin, sebelumnya perkenalkan saya adalah salah seorang mahasiswa pertanian di universitas brawijaya, malang. menurut saya penurunan jumlah lahan tersebut dapat diantisipasi yaitu dengan dilakukannya kerjasama dengan pelaku industri atau hunian. terlebih jika pembangunan itu untuk hotel ataupun tempat wisata.
    karena setahu saya saat ini pertanian sudah ridak lazim lagi menggunakan tanah. Artinya pertanian saat ini dapat dilakukan dengan menggunakan media tanam tanpa tanah.

    untuk lebih mempermudah pengertian terhadap pendapat saya ini, maka saya akan memberikan contoh saja sebagai berikut:
    bisa saja petani menjual lahan nya kepada pelaku industri
    akan tetapi di bagian atas gedung tersebut dibuat laha buatan atau didinding gedung ditanami tanaman hias yang bernilai jual tinggi. Akan tetapi prinsipnya petani bekerja untuk pemilik gedung tersebut (simbiosis)
    akhirnya petani tidak perlu kehilangan mata pencahariaannya meskipun telah menjual lahannya.

    saya masih sangat muda dan analisa saya mungkin masih banyak yang salah.
    untuk itu saya mohon penjelasan dari admin agar diskusi ini dapat memberikan masa depan yang baik untuk pertanian di Indonesia khususnya di daerah jawa timur. terima kasih

  2. assalamu’alaikum/ nama saya fahmi saya murid mtsn lawang kelas 9c/ saya mau berkoment tentang lahan pertanian yg semakin tahun jumlahnya semakin berkurang / coment saya adalah : solusi yang sehat harus qt pegang * membuat lahan pertanian baru .seperti menanam padi d pot dgn ukuran besar yg 0harus d chek secara berkala/rutin d tempat yg kosong dgn pengairan yg praktise/

  3. Perkenalkan kami bermaksud mendukung semua gerakan UKM dengan memperbaiki kemasan2 yg kurang menjual menjadi memiliki nilai komersil lebih baik BY : mesin kemas plastik

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim