HKTI Serukan Pertanian Organik

Ilustrasi (foto: hileud.com)

Sebagian petani di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kewalahan menghadapi serangan wereng. Pestisida yang selama ini dipakai petani untuk memberantas hama dinilai tak efektif lagi digunakan. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia kini menyerukan kepada petani untuk beralih ke sistem pertanian organik, guna memerangi hama.

Pantauan hingga Kamis (17/2) menunjukkan, persawahan di beberapa kecamatan, seperti Rogojampi, Kabat, dan Singojuruh, rusak dan puso (gagal panen) akibat terkena serangan wereng. Kalaupun panen, gabah yang didapat petani menurun 30 persen lebih dibandingkan dengan panen normal. ”Sawah saya malah hanya panen dua kuintal, padahal biasanya mampu satu ton,” kata Amin, petani Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat.

Sutanto (52), petani Desa Benelan Lor, Kecamatan Kabat, telah menyemprot persawahannya dengan pestisida hingga 13 kali, tetapi serangan wereng tak juga berkurang.

Suyitno, Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Banyuwangi, mengatakan, serangan wereng tak bisa dibendung dengan pestisida. Selama ini pestisida tak hanya membuat wereng mati, tetapi juga membunuh musuh biologis wereng. ”Belalang, katak, hingga laba-laba tak lagi bisa berperan untuk membasmi wereng,” katanya.

Karena itu, HKTI menyerukan agar petani mulai menerapkan sistem pertanian organik untuk membasmi wereng. Langkah penting yang harus dilakukan, ujar Suyitno, mengurangi jumlah pestisida yang dipakai. Langkah berikutnya, membatasi penanaman padi dari tiga kali jadi dua kali setahun. Selanjutnya menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah.

HKTI juga mendorong petani melakukan diversifikasi usaha. Salah satu contohnya adalah program peternakan lele dan ikan nila di Kabupaten Jombang, Jatim, dan Rembang, Jateng. (nit/sin/eta)/Kompas

2 Komentar Pembaca

  1. Pada tanggal 21 September 2011, Saya menghadiri panen raya padi di Kec. Sempaja Selatan Kota Samarinda yang dibina oleh HKTI dan panen raya dihadiri Wagub Kaltim. Produksi tinggi menurut pemrakarsa antara 7-10 ton melalaui program imunisasi sygenta (yang notabene perlakuan pestisida dari persiapan tanaman sampai panen) hal ini sangat bertentangan dengan seruan HKTI.

    Terimakasih

  2. dari Suroto di Gorontalo, saya mau tanya bagaimana cara menangani wereng, dan ulat penggerek batang secara organik

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim