Kedelai Mahal, Disperindag Jatim Rapatkan Barisan

Aktivitas perajin tempe yang menggunakan bahan baku kedelai (dok. kabarbisnis.com)

Mahalnya harga kedelai impor dalam dua bulan terakhir dinilai karena besarnya permintaan dalam negeri dan juga naiknya harga kedelai dunia akibat anomali cuaca.

Untuk mencari solusi, Dinas Perdagangan dan Perindustrian ( Disperindag) Jawa Timur akan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait seperti Dinas Pertanian dan lainnya.

“Kebijakan yang harus dilakukan terkait mahalnya harga kedelai impor ini tidak hanya tergantung kepada kami, tetapi juga dengan berbagai instansi lain. Untuk itu, kami akan segera melakukan koordinasi dengan mereka, baik dinas pertanian maupun dengan pusat,” ungkap Kepala Bidang Perdagangan Internasional Disperindag Jatim, Liri Idham, di Surabaya, Jumat (11/2/2011).

Diungkapkan Liri, selama ini tata niaga impor kedelai memang bebas. Meski demikian, importir yang melakukan aktifitas impor kedelai diwajibkan memiliki Nomor Pengenal Importir Khusus Kedelai (NPIK), sehingga tidak semua importir bisa melakukannya.

Hanya saja, lanjutnya, dari data yang dimiliki Disperindag, realisasinya selama tahun 2010 memang terjadi kenaikan, baik secara nilai maupun volume. Ini menunjukkan, harga kedelai di tingkat dunia sedang mengalami kenaikan sementara permintaan dalam negeri juga mengalami kenaikan. Padahal produksi kedelai Jatim selama tahun 2010 mengalami penurunan.

Liri mengatakan, realisasi impor kedelai dari bulan Januari-Oktober 2010 mencapai US$249,99 juta, naik sebesar 55,6% dari tahun sebelumnya di periode yang sama. Sementara realisasi volume impor kedelai dari Januari-Oktober 2010 mencapai 538.240 ton, naik sebesar 58%.

Terlebih komoditas kedelai ini menurutnya tidak hanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu saja, namun juga untuk produksi bio feul dan lainnya.

“Inilah yang akhirnya mengakibatkan harga kedelai impor terkerek naik hingga Rp6.250 per kilogram hingga Rp6.500 per kilogram dari harga sebelumnya yang mencapai Rp5.000 per kilogram,” ungkapnya.

Sementara Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jatim, Ahmad Nur Falakhi beberapa waktu yang lalu juga mengatakan produksi kedelai selama tahun 2010 mengalami penurunan yang cukup besar. Hal ini dipicu oleh banyaknya petani kedelai yang beralih menanam padi atau jagung akibat anomali cuaca.

“Kalau penurunan pastinya berapa datanya masih belum ada, namun kami perkirakan luas panen kedelai 2010 mengalami menurunan sebesar 24.797 hektar sehingga volume produksinya menurun sebesar 33.277 ton dari realisasi 2009 sebesar 355.099 ton. Sementara kebutuhan kedelai Jatim mencapai 417.000 ton per tahun,” pungkasnya. (kbc6)

(Sumber: kabarbisnis.com)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim