Harga Beras di Jatim Turun

Beras (photo: republika.co.id)

Meski harga pangan di dunia mencapai rekor tertinggi dalam 21 tahun terakhir, tapi harga pangan di Jatim khususnya beras relatif stabil. Bahkan pekan ini ada penurunan antara Rp 200-Rp 400 per kg.

“Harga beras pekan ini turun karena panen. Jadi masyarakat jangan khawatir,” ujar Ketua pedagang beras Bendul Merisi Surabaya, Soedarno, Sabtu (5/2). Harga beras di pasar tradisional di Surabaya dan sekitarnya paling murah saat ini Rp 5.800/kg. Sedangkan untuk kualitas medium harganya sekitar Rp 6.500/kg– Rp 7.500/kg. Untuk beras dengan kualitas paling bagus harganya sekitar Rp 8.500/kg.

Dikatakannya, memang dengan turunnya harga beras ini membuat para pedagang mendapatkan keuntungan yang tidak terlalu besar.Di sisi lain turunnya harga besar ini membuat konsumen diuntungkan,  bahkan pembelian beras meningkat.

Ditambahkannya, turunnya harga beras dalam beberapa minggu terakhir ini disebabkan karena stok beras di Jawa Timur berlimpah. Mulai dari Jepara sampai Surabaya stok beras banyak dan otomatis harganya ikut turun, apalagi saat ini petani sudah panen, dan stok beras akan berlimpah lagi karena petani baru memasuki puncak panen pada Maret nanti.

“Stok di Jatim saat ini sangat berlimpah, apalagi hingga saat ini belum masa puncak panen, faktor ini yang menyebabkan harga beras menjadi turun bahkan diprediksi akan terus turun lagi karena stok beras terus bertambah,” ujarnya.

Menurut catatan, stok beras di Bulog Jatim 120 ribu ton yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 2,3 bulan ke depan.

Kepala BPS Jatim Irlan Indrocahyo juga mengatakan sejak Desember 2010 – Januari 2011 harga beras relatif stabil, walaupun ada kenaikan tetapi tidak terlalu besar hanya di bawah Rp 50.“Sejak Januari harga beras relatif stabil, rata-rata harganya pada Desember berkisar Rp 7.337 per kilogram, sementara pada Januari 2011 harga rata-rata berkisar Rp 7.341 per kilogramnya,” katanya.

Meski harga stabil, tapi Ekonom Indef, Ahmad Erani Yustika mengatakan pemerintah tetap harus waspada. Termasuk terhadap kebijakannya yang dinilai plin-plan. “Kalau stok cukup, ada kenaikan pangan dunia seharusnya tidak akan berdampak apa-apa bagi Indonesia. Apalagi yang saat ini membuat heran para pengamat ekonomi, klaim pemerintah kalau stok beras kita cukup, apalagi petani sudah masuk masa panen, tetapi pemerintah malah membuat kebijakan menurunkan tarif bea masuk pangan sampai 0 %,” ungkapnya.

Menurutnya, hal inilah merupakan salah satu yang menjadi pertanyaan para pengamat ekonom kalau penerapan kebijakan ini menunjukkan pemerintah mempunyai kepentingan terselubung.“Ini yang sering jadi pertanyaan kami, kenapa masalah beras yang ada pada petani yang seharusnya pemerintah intervensi malah kabur,tapi masalah impor beras yang seharusnya bukan wilayahnya intervensi malah masuk, stok beras cukup , tapi membukan keran impor pangan seluas-luasnya ini kan tidak ada kolerasinya, lain halnya stok beras di dalam negeri kurang dan harga mahal, baru pantas dibuka keran impor pangan seluas-luasnya,” ujarnya.

Erani menilai, tidak hanya pemerintah saja yang tidak transparan, ada juga permainan dari pihak distributor beras yang mempermainkan harga sehingga harga beras tidak terkendali, padahal saat ini stok beras di Bulog cukup dan petani memasuki masa panen raya.

Pemerintah seharusnya juga berkaca pada kerusuhan di Tunisia dan Mesir yang terjadi akibat pangan. Selain itu, banyak juga negara-negara lain yang memborong stok pangan.Sebut saja Rusia yang sibuk mengimpor komoditas biji-bijian untuk menjaga pasokan pangan. Demikian pula India yang giat mencari pasar untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.China juga memburu gandum dan jagung di pasar dunia, Meksiko pontang panting mencari jagung untuk mencegah kenaikan harga tortilla, makanan pokoknya.

Sayangnya, tak banyak terdengar apa yang tengah dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi persoalan pangan guna memenuhi perut lebih dari 200 juta rakyatnya.

(Sumber: m15,ins/Surabaya Post Online)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2024. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IoT Division Bappeda Jatim